2017

Sil, just let this year it go!

Januari
After The Love Is Gone – Tommy Emmanuel

Februari
Only In My Sleep – The Corrs

Maret
Gravity – Sara Bareilles

April
Let Love Lead The Way – Spice Girls

Mei
Waiting For The End – Linkin Park

Juni
Dive – Ed Sheeran

Juli
Don’t Give Up On Me – Daniel Powter

Agustus
I Will Be Here For You – Michael Smith

September
If You’re Not The One – Daniel Bedingfield

Oktober
My Baby Don’t Understand Me – Natalie Prass

November
Habit of You – Keith Urban

Desember
Hidup ini Adalah Kesempatan – Herlin Pirena

Percaya atau tidak, saya hanya mampu menghabiskan satu buah buku pengetahuan dan dua buah novel romansa ringan pada tahun 2017 ini. Tidak perlu menghitung buku cerita anak bergambar yang saya baca, karena memang jumlahnya akan sedemikian banyaknya. Saya cukup banyak menonton film maupun drama, namun tidak banyak menulis. Entahlah. Banyak doa awal tahun yang terkabul tanpa disangka-sangka. Sementara daftar 100 saya hanya terpenuhi tiga (saja). Well, saya (sangat) banyak berlibur tahun ini. Ke sana dan ke sini, yaaa menyenangkan. Turun ke pantai, naik ke gunung, belok ke sawah, berputar-putar di mall, yaaaaa menyenangkan.

Okay. Mungkin saya memang harus jujur bahwa tahun 2017 adalah tahun yang menyebalkan dan juga menahan saya dari ucapan syukur. Bukan karena tidak ada hal baik yang terjadi, justru pada tahun ini saya mendapatkan yang terbaik yang Ia berikan. Ada hal (-hal) yang memang masih dan sesungguhnya membuat saya berat melepas 2017, karena saya memang belum memberikan usaha terbaik dalam menjalani tahun ini.

But it’s okay. It’s over. The best is yet to come, I believe.

Sudah tahu salah, ya perbaiki, ‘kan? Kesempatan naik level masih ada di depan. Toh masih muda juga. Iya, time flies too fast. Makanya belajar! Jangan lupa mengucap syukur ya, Sil. Menjalani 2018 berarti masih diberikan waktu dan kesempatan untuk melakukan hal berharga dalam hidup. God loves you, you know.

Penghujung tahun 2017
Still Though We Should Dance – Radnor and Lee Featuring Sam Shelton

p.s ditulis dalam kurang lebih 20 menit sambil bolak-balik diari dan berkas chat (nanti baru diedit)

Advertisements

(Bukan) Untuk Dipikirkan

Sesi I (29 Januari 2015):

“Kamu tahu, you push people away and that’s not a good sign. Look at this…,” beliau menunjuk ke arah grafik pada selembar kertas A4 tersebut dengan ujung pena. Hostile, kata yang tertera di sana. Lalu, titik grafik yang tinggi -maksimum, sampai batas atas bidang berwarna putih.

Aku masih diam. Mengangguk-angguk tidak jelas.

“Dan kamu pendiam ya. Lihat.” ungkapnya lagi dengan nada perintah. Aku melihat titik-titik Quiet dan Expressive Responsive berada pada warna putih. Tidak baik. Sama halnya dengan kriteria Hostile tadi.

Sesi II (12 Februari 2015):

“Iya, kan kamu memang ketus, kan?” usutnya.

“Karena kamu juga dominan…”

Sesi III (22 Februari 2015); re-schedule sesi III (12 Maret 2015):

“Kamu punya nilai yang bagus, tapi dengan kelemahan seperti ini, saya bisa pastikan kamu tidak dapat menggunakan semua potensi yang ada dalam diri kamu. Sekali lagi, saya ulangi bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kamu lakukan, karena kamu seperti ini.”

Aku ingat aku menundukkan kepala menatap hasil di depannya itu.

“Sil, katakan… kamu mau menikah?”

Aku tersenyum, sepertinya agak sinis, karena beliau agak membelalakkan mata.

“Ya.” jawabku kemudian.

“Kalau begitu, akan sulit kalau kamu terus begini.”

Aku terdiam lagi. Dalam hati, kubertanya, lalu aku harus bagaimana?

“Bu, saya mengenal orang-orang yang terlalu ekstrim dalam berpura-pura baik terhadap orang lain. Mereka kok ya bisa tersenyum dan tertawa terbahak-bahak di hadapan seseorang dan kurang dari lima menit orang tersebut pergi, mereka membicarakan hal buruk di belakangnya. Does that even make sense?”

Ibu Susan sempat terdiam. Mengangguk-anggukkan kepala. Aku tahu dia akan setuju denganku.

“Ya, ada orang-orang yang ekstrim seperti itu. Memang seimbang adalah lebih baik. Coba kamu lihat, kamu composed, kamu light-hearted, simpatik, objektif, dan disiplin. Kamu hanya sulit untuk bersosialisasi.”

Aku melihatnya dengan berusaha untuk memahami kata-katanya semampuku. Aku paham, lalu kenapa? Apakah aku akan punah karena kalah oleh seleksi alam? Hell, no.

Teng! Sejam telah berlalu. Kami belum mencapai kesepakatan dan akhirnya saya disuruh kembali untuk keempat kalinya, saudara. Keempat kali!

.

Guess what? Aku tidak pernah kembali.

***

Waktu itu, bahkan hari ini pun aku tidak sedikit pun menanggapi ancaman beliau secara serius. Aku cukup yakin akan mampu menjalani segala sesuatu dengan baik. Bukan karena aku sempurna. Terserah pula komentar bahwa idealisme dan ekspektasi tinggi yang kumiliki akan menjadi kerikil yang membuatku tersandung. Aku terlalu sadar bahwa aku akan mengusahakan segala sesuatu, termasuk dalam hal bersosialisasi ini. Tidak terlalu buruk, bukan? Atau setidaknya waktu itu aku berpikir demikian.

/ “Orang yang sulit percaya kepada orang lain biasanya juga susah untuk dipercayai.”
Tepat saat itu juga aku melengos dan pergi sebelum keinginanku melempar mukanya kuwujudkan menjadi nyata. Sebab aku yakin dengan diriku sendiri. Itu cukup, setidaknya bagiku.

/ “Dia itu nggak punya ambisi untuk jadi leader.”
Iya, memang demikian. Bukan berarti aku tidak mampu memimpin, bukan? Apakah tiba-tiba aku jadi meragukan? Okelah jika memang aku masih disibukkan dengan urusan teknis, sehingga kemampuanku dalam mengambil keputusan strategis belum terlihat jelas. Minimal aku tidak main-main, bukan?

/ “Kamu egois. Kamu nggak juga belajar dari yang sudah-sudah.”
Okay, terserahlah.

.

.

Padahal jelas aku belajar. Bahwa menjadi dewasa tidak ideal seperti yang diharapkan. Tersenyum di hadapan orang yang tidak kamu sukai, berpura-pura baik untuk mendapatkan sesuatu, tertawa akan hal-hal menjijikkan, anggaplah dirimu hadir sementara jiwamu tidak di tempat yang sama: itulah yang dituntut untuk dilakukan.

Sudahlah.

Oh heck! Those aren’t things I can’t do, okay?