2018

<09:58>

2018. Uhmmm, agak kurang yakin kalau tahun ini sudah akan segera berakhir. Mungkin karena kurang menghargai datangnya tahun ini. Atau bisa jadi karena terlena 2017 yang terlalu seru. Atau bisa jadi pula karena banyak perencanaan tidak terpenuhi dan herannya saya kurang peduli, apalagi jika tersendatnya hal tersebut berhubungan dengan urusan orang lain.

Rasanya saya juga jadi sedikit malas untuk menyusun review akhir tahun dengan kata-kata. Well, memang 2018 ini cukup rata-rata atau mungkin saya sedang apatis dengan hal-hal serius. Bisa jadi.

Akhirnya pagi ini sambil sarapan dengan kopi dan macam-macam kue, saya cukup iseng(?) mengerjakan hal berikut. Dimulai dengan membuka salah satu bookmark tentang personal assessment, lalu utak-atik sana-sini sambil mendengarkan marasy8

silvya's 2018
silvya’s 2018

.

.

Ya-yaa, jadi bagaimana 2018?

What went well?

# Moving

Herannya, excitement yang ada justru berasa kurang. Adaptasi terlalu biasa, atau memang sisi sosial saya sudah cukup luar biasa belakangan ini?

# Quality time with family

Terutama dengan mama, pada usianya yang tidak muda lagi.

.

and, what could have gone better?

# Self introspection(?)

A Matter of Character: 感謝

.

Hufft, sejujurnya, saya akan memasuki 2019 dengan penuh keraguan. Banyak hal tidak juga memuaskan bagi saya. Atau saya yang memang tidak juga mampu bersyukur. Padahal ada banyak hal yang semakin baik di atas semua hal yang memburuk.

Okay, sudahlah ya. Apapun itu, pasti akan terlewati juga.

Cukuplah dengan mari berusaha sadar: 2018 akan segera usai!

</11.43>

Advertisements

(on tonight)

Kira-kira setahun lalu aku bertanya, apakah salah memiliki masa lalu?

Entahlah. Aku memang harus bertanya. Sekalipun sudah kukira jawabannya adalah sesuatu yang tidak ingin kudengar. Walaupun sudah kupersiapkan diri untuk menghadapi yang terburuk.

Tidak apa-apa sih, cuma sudah lama saja tidak ada yang benar-benar mengganggu. Atau sebenarnya aku merasa terganggu, namun aku mencoba mengalihkan perhatianku saja, sebab ada hal-hal yang tidak ingin dibahas. Tidak perlu dibahas, katanya.

Ah, aku ingin membahasnya. Masalah ataupun kegembiraan, aku ingin berbicara. Supaya tidak ada yang tercekat. Yah, itu mauku. Sekalipun tidak harus diikuti.

Ya sudah, rasa percaya memang tidak dianggap penting untuk semua orang, bukan? Aku sudah tahu itu sejak lama.