To Think, To Fix

21 jam yang lalu, sebagian tulisan ini disimpan sebagai draft, karena aku sendiri tidak tahu bagaimana harus menyelesaikannya.

.

Kemarin hujan turun sejak pagi hari. Aku yang terbangun lalu mengganti sprei dan dan selimut seperti layaknya kebiasaanku setiap hari Jumat. Setelah itu aku segera mandi air panas, karena cuaca masih amat mendung. Aku pun membalas beberapa pesan yang masuk sejak semalam. Kemudian duduk di depan laptop dengan segelas kopi.

Sebelum aku bisa duduk dan berpikir akan melakukan apa, tante yang biasa bekerja untuk mencuci baju setiap Jumat di rumah kami sudah tiba. Aku segera mengeluarkan keranjang baju kotor dan menyerahkan kepada beliau untuk dikerjakan. Dibatasi jarak, mamaku yang sedang mengobrol dengan beliau bergumam bahwa sepertinya stok deterjen dan pewangi kami sudah harus diisi kembali. Aku hanya mengiyakan, karena sudah tugasku untuk membeli kebutuhan rumah bulanan ketika jadwal keluar rumah nantinya. Mungkin nanti saja, kalau hari tidak hujan.

Aku pun segera masuk kembali ke kamar dan sebelum bisa duduk tenang, aku merapikan untaian kabel yang berserakan di samping meja kerja. Kabel printer, charger laptop, dan lain-lain. Butiran hujan yang jatuh tipis-tipis terlihat dari jendela kamarku. Dingin sekali rasanya. Seusai itu, aku segera mengenakan jaket dan kembali duduk di depan laptop dengan segelas kopi. Tentu saja kopiku sudah tidak mengepulkan uap panas lagi.

Aku sadar aku tidak boleh minum kopi saat perut masih kosong. Akan tetapi, aku malas sekali masuk ke dapur saat sudah mandi bersih. Akhirnya pilihanku jatuh pada sebungkus biskuat rasa coklat yang kuanggap pilihan yang lebih baik dibandingkan oreo yang terlalu manis. Padahal aku ingin sekali menyantap bubur dengan telor ceplok yang ditaburi lada dan sedikit kecap manis. Apa daya, kemalasan untuk bergerak saat cuaca dingin lebih menarik.

Akan tetapi, percaya atau tidak percaya, aku malah membuka beberapa berkas perencanaan minggu depan untuk dikerjakan. Mengutak-atik ide yang terpikirkan sambil ditemani album baru Taylor Swift bergantian dengan daftar lagu lawas J-Pop maupun J-Rock, kemudian aku berhenti saat jarum jam menunjukkan pukul 10.38. Merasa bersalah karena ini hari libur yang tidak seharusnya digunakan untuk bekerja. Merasa senang karena 1-2 urusan sudah selesai. Sebelum aku menutup kembali laptopku, aku mengingat kata-kata yang kuterima semalam, “You should revise your relationships with some people. Fight for some and leave some behind.”

Semenjak mengenal beliau tahun 2008, aku selalu mengira beliau adalah cenayang atau semacamnya. Setiap kalimatnya selalu membuatku tepekur sejenak. Ada sisi yang menyenangkan di situ, karena mendorongku berpikir. Ada sisi menyebalkan juga, karena berpikir akan menghabiskan waktu. Mungkin jam terbang beliau dalam dunia konseling yang menyebabkan semua orang yang diajaknya mengobrol dianggap sebagai pasien. Padahal aku yakin beliau juga bukannya tanpa masalah. Tapi melewati masa kelam sejak 2011 yang memuncak sampai 2014, aku tidak bisa tidak berterima kasih untuk setiap hal yang sudah menolongku, salah satunya beliau. Salah duanya seorang yang mungkin tidak akan kembali lagi. Salah tiganya adalah seorang yang barangkali tidak mau kembali lagi. Begitulah hidup yang kusadari. Ada yang tetap. Ada yang berubah.

Revising my relationship, eh?

Okay, let’s do it. Bagaimana tapi? Lewat pembagian personal, profesional, romantika, or things like that? Uhm, tidak menarik.

Lalu apa? No idea, aku berhenti jam 3 lewat karena dimarahi orang serumah sebab aku belum juga makan siang. Setelah itu, sore harinya aku menyeduh racikan kopi hitam ditambah setengah sendok gula pasir. Belum ada ide, aku pun memutuskan untuk mengeluarkan cat warna, kuas, serta segala macam pensil dan drawing pen yang ada, kemudian menggambar dan mewarnai. Well, kurasa akan sedikit membuatku rileks. Setelahnya, lagi-lagi, jam 7 malam, aku duduk di depan laptop dengan segelas kopi saset. Tidak. Belum ada ide.

Baiknya aku membaca info yang sedang trending saat ini saja. Setelah membuang beberapa jam lamanya membaca threads dari kasus predator yang sedang booming, aku membalas beberapa chat dan kemudian sedikit berusaha untuk tidur.

Naas sekali. Aku kesulitan tidur. Terbangun setiap satu-dua jam. Kurang lebih tidak ada nyenyaknya sama sekali.

Pagi hari ini pun hujan masih turun. Aku tetap bangun pagi seperti biasanya. Setelah itu aku segera mandi air panas, karena cuaca masih amat mendung. Aku pun membalas beberapa pesan yang masuk sejak semalam. Kemudian duduk di depan laptop, tapi aku tidak berani minum kopi lagi.

Tentu saja aku juga tidak merasa harus memberitahukan mamaku dan membuat kepanikan yang tidak perlu atau minimalnya membuat beliau memberikan perintah untuk segera mengecek tekanan darah dan denyut nadi.

Aku memutuskan menyeduh teh manis dan ternyata sudah ada nasi kuning yang dibelikan untuk makan pagi ini. Aku menyantap sarapan dengan bahagia. Setelahnya aku kembali duduk di depan laptop, dengan segelas pikiran yang kosong. Aku pun memutuskan mengeluarkan cat warna dan kuas, lagi-lagi melakukan aktivitas menggambar dan mewarnai. Padahal pikiranku ada pada tulisan yang belum selesai yang bisa jadi merupakan alasan utama mengapa aku tidak bisa tidur. Why? Because I gotta finish it!!

Jam 2, aku memutuskan untuk meminum kopi setelah makan siang. It’s okay, I feel fine. Lalu aku membuka laptop dan draft tulisan yang kusimpan sejak kemarin.

Okay, baiklah. mungkin aku akan membagi orang-orang yang kukenal/pernah curhat/pernah mengobrol serius/saling mempengaruhi sesuai bulan kelahiran mereka, supaya jelas bagaimana aku harus berespons terhadap semua keadaan ini, dari waktu ke waktu.

Well, let’s see!

Januari
Tidak pernah punya kenalan ataupun kerabat dekat yang lahir dalam bulan ini. Selebihnya hanya orang-orang yang saling tahu saja. Beberapa dikagumi, beberapa tidak memiliki efek apapun. Maka orang-orang kelahiran Januari sepertinya aman-aman saja.

Februari
Aku menyadari bahwa para pribadi yang kukenal lahir pada bulan Februari memiliki nature keibuan dan kebapakan yang menyenangkan. Akan tetapi, ada sisi pemikiran mereka yang tidak akan pernah sejalan denganku, namun bukan berarti kami tidak bisa hidup bersama. Misalnya aku dan mama yang lahir pada bulan ini pun sejauh ini selalu sepakat untuk tidak sepakat, dalam hal tontonan kesukaan, makanan kesukaan, selera berpakaian dan macam-macam lainnya. So far, we have so much differences, but we’re good.

Maret
Nah, aku tidak bisa menghitung seberapa banyak orang-orang kelahiran bulan Maret yang menginspirasi dari berbagai macam bidang. Mulai dari yang mencuri perhatianku pertama kalinya sampai kepada orang-orang yang kukenal karyanya saja. Menyenangkan sebenarnya memiliki banyak orang seperti demikian dalam hidup, karena akan mendorong untuk memiliki positive attitude towards life as well.

April
Uhm, gimana ya. They are too ignorant, atau mungkin sebenarnya peduli tapi terlihat cuek. Susah sekali berkomunikasi dengan orang demikian. Who am I to read your mind? Apalagi ketika ditanya, jawaban yang muncul malah berputar-putar. Menyebalkan, bukan? Just straight to the point, please.

Mei
Banyak sekali yang kemudian menjadi teman yang baik, tapi cukup demikian. Kecuali bisa bertahan dengan ego dan keras kepala mereka yang berakar. Serius, menghadapi orang-orang yang hanya mau diikuti maunya tanpa mau mendengarkan pihak lain itu rasanya capek. Bukan tidak ada sisi baiknya ya, seperti tadi disebutkan bahwa orang-orang kelahiran bulan Mei adalah teman-teman yang baik bagiku, tapi sebatas itu. Bicara dari hati ke hati tentang hidup? Kurasa tidak.

Juni
Aku menduga mayoritas pemimpin lahir pada bulan Juni karena memang orang-orang yang lahir pada bulan ini kebanyakan mengandalkan pemikiran mereka yang didasarkan pada big concept, not detailed ones. Tentu kelihatan bagus prospeknya untuk masa depan, tapi apakah mengabaikan hal-hal kecil tidak berbahaya? Banyak hal, memimpin negara atau romansa misalnya yang bermula dan dijaga lewat hal-hal kecil. Just so you know.

Juli
Perasa yang kemudian berpikir mereka adalah pemikir. Wait, are we talking about me? Well, sejujurnya orang-orang kelahiran bulan Juli memiliki turbulensi emosi yang kurang begitu stabil, sehingga tidak semua orang bisa dirasakan nyaman untuk berelasi. Sebagian besar lebih baik dijauhi ketika mereka bergantung pada perasaan semata, sebagian lagi menjadi tempat curhat terbaik, seperti si mbak misalnya.

Agustus
Bagiku, orang yang lahir pada bulan Agustus memiliki aura kepemimpinan dengan ego yang tinggi. Mereka bossy, namun cerdas. Menurutku seseorang yang demikian memang harus juga memiliki kapabilitas yang kuat. Selama ini tidak pernah ada masalah sih berkaitan dengan orang yang egois namun punya kemampuan selevel dengan tingkat egonya. Masalah malah muncul dari tipe orang egois, namun kompetensi mereka justru tidak menunjukkan bahwa mereka berhak untuk egois. So, that’s it.

September
Banyak sekali kaum adam yang kukenal lahir pada bulan ini. Keluarga, teman, dan lain-lain. Kebanyakan dari mereka tipe yang iya-iya, tapi kemudian tidak mengerjakan dengan sesuai apa yang dikatakan. So, I’ll just say no. Lebih aman berelasi dengan orang-orang yang diam-diam saja kemudian hasil keringatnya kelihatan. Eh, apakah para politikus kebanyakan lahir bulan September?

Oktober
Hmm, harus sedikit berhati-hati. Kebanyakan mereka bersikap baik ketika diperlakukan baik; mendendam ketika diperlakukan buruk. Sisi baiknya adalah mereka mau mendengarkan dan mau berargumen dengan baik, bahkan terkadang dapat muncul inspirasi yang tiba-tiba. Iya ya, maybe I’ll write about it some time later.

November
Ngg, too flirty. Can’t stand many of them. Basa-basi sebenarnya menyenangkan ketika karisma orang bersangkutan mampu menarik perhatian, tapi selebihnya kalau tidak bisa untuk going deeper, ya mending tidak usah lah ya. Satu lagi, diperalat untuk mencapai tujuan tertentu itu tidak menyenangkan.

Desember
Best friend, but can stab you upfront if you oppose them. Cocok untuk teman berpetualang, tapi kalau mereka lagi kurang mood, dibiarkan saja sampai datang sendiri.

.

Semacam zodiak? Enggak, bukan sama sekali. It is based on (my) true story, believe it or not. So, what should I do next? Fight for some and leave some behind? Well, I know nothing of the future. I think I’m always fine no matter what people do or don’t. But, maybe, maybe there’s a little truth in it: I have no obligation to maintain relationships with some people who don’t care. There you have it.

Pada Suatu Rabu Sore

Sudah seminggu ini aku minum dua gelas kopi, pada pagi dan sore setiap harinya. Sebenarnya biasa saja, bahkan beberapa waktu silam aku pernah minum 3-4 gelas per hari. Tentu saja mengakibatkan banyak hal tidak diinginkan, tapi toh keputusanku sendiri juga. Semakin ke sini kurasa bahwa tanpa suntikan kafein dan gula rasanya makin sulit beraktivitas, ehmm, barangkali hanya karena efek bertambah tua.

Sudah dua sore ini pula akhirnya aku bisa duduk tenang setelah jam kerja, melakukan hal-hal santai yang ingin kulakukan, sambil minum segelas kopi yang kedua, kemudian mendengarkan musik-musik yang sering kudengar pada masa lalu. Sore ini pun terasa berbeda. Biasanya tidak ada yang mengirimkan chat ataupun menghubungiku pada jam segini, namun tiba-tiba ada panggilan masuk yang tentu saja segera kuangkat.

“Hai yang di sana. Selamat ya.”

Aku tertawa mendengar suara alto itu, kemudian membalas, “Sudah lewat seminggu lho ya, mbak.”

“Ya maaf, aku sendiri juga sibuk sekali. Kamu nggak tahu aja.”

“Dipahami kok, dimengerti sekali. Aku sendiri juga sibuk, kok. Awal semesteran nih,” potongku segera.

“Maaf banget udah lama sekali aku nggak hubungi. Terakhir kapan itu ya. 2016? 2017?”

“Ya maaf aku juga nggak kepikiran untuk mengganggu wanita karir yang lagi sibuk-sibuknya gitu lho.”

“Apa banget sih, kamunya yang sibuk pacaran.”

“Mana ada!” Aku menyanggah dan kemudian tertawa dan kemudian mengalihkan pembicaraan, “Nggak ada nasihat buatku?”

“Nasihat apa? You can figure it out yourself. I did the same.”

Aku tersenyum dalam-dalam mendengar celotehannya.

Thank you,” ucapku sesadar-sadarnya.

“Entah ya, susah sih untuk mengenal kamu yang sekarang kalau kita juga jarang kontak. Pastinya ada hal-hal yang tetap, ada juga hal-hal yang berubah.”

Aku terdiam sejenak, meresapi apa yang barusan saja beliau ucapkan. Apa yang tetap? Apa yang berubah? Kurasa aku tidak terlalu memikirkannya belakangan ini.

“Beberapa hari lalu, hm, empat hari lalu, aku kebangun jam 4 subuh, rasanya ada yang memanggil. Waktu itu, aku sudah ingin sekali menghubungi mbak, kurang paham juga alasannya. Eh, ternyata kesempatannya datang sore ini.”

“Mungkin kamu lagi butuh teman bicara? Tapi kan udah ada.”

Aku mengernyitkan dahi untuk beberapa waktu, “Ya nggak gitu juga kan. Ngobrol sama tiap-tiap orang yang beda bakal beda juga pelajaran yang bisa diambil. Bakalan memperkaya diri juga, ‘kan?”

“Kamu mah memang nggak pernah merasa kesepian ya.”

Pada saat kalimat itulah, aku sempat teringat seorang client yang curhat pada pekan lalu, tepat pada Rabu yang sama pula, mengenai rasa sepi yang dialaminya. Padahal ia masih berada pada jenjang usia awal dua puluhan. Aku pribadi memang selalu yakin bahwa aku sanggup untuk sendiri. Mamaku bahkan meyakinkan aku dengan sarkastis bahwa aku pasti sanggup jika harus tinggal sendiri di hutan. Pada sisi yang lain, orang-orang tidak pernah membiarkan aku sendiri, selalu saja ada yang datang. Mulai dari yang butuh teman cerita ataupun mengajak diskusi serius tentang hidup ataupun yang sekadar bercanda membahas kelucuan masa lalu ataupun yang menawarkan ikut MLM. Mungkin seharusnya aku bersyukur akan semua hal itu.

Kemudian aku tersadar sedang menelepon dan sesegera mungkin merespons kalimat beliau, “Ya bukan begitu juga lah, mbak.”

“Kalau kenyataannya seperti itu memangnya kenapa?”

Lagi-lagi aku terdiam, kurang suka sebenarnya ketika disudutkan begini.

Nah, it’s okay.”

Okay, okay. Sendiri ataupun ramai, it’s okay, Sil. Kita sudah berulang-ulang bahas soal ini. You’re okay. You’re just getting older.” Nada suaranya mencemooh dengan tawa yang dikulum. Aku pun juga tidak bisa menahan tawa. Memang beliaulah yang mampu untuk langsung mengerti.

Yes, I am. It feels kind of weird this year. Don’t know why.”

“Ah, you know. That common crisis.”

Yeah, sepertinya begitu.”

“Percaya deh. It’s nothing compare to yourself. I’m sure.”

Menohok sekali kepercayaan semacam itu. Aku jadi malu.

Thank you, mbak. Really. Thank you.

“Sepertinya kita harus cari waktu panjang untuk nanti cerita-cerita. Mungkin Jumat nanti waktu tanggal merah or kapan-kapan?”

Aku menyadari bahwa ia harus menyelesaikan kesibukan yang lain saat ini, “Oke, mbak. Kita lihat aja nanti waktu yang pas. Thank you ya, mbak.”

“It’s always a pleasure talking with you, dear.”

“See you.”

“Yeah, see you.”

Aku meletakkan telepon genggam, kemudian menyesap kopi yang sudah mulai menghangat, lalu membuka laptop. Memasang headphone takstar yang usianya baru seminggu, menggantikan sennheiser yang tergeletak di atas mesin cetak di sampingku. Dalam playlist lagu yang kudengarkan sejak tadi hanya ada Kiseki/GReeeeN dan Konayuki/Remioromen. Aku pun mulai mengetik.