Heran

Kuakui, belakangan selain kemalasan, kurasakan juga banyak hal negatif bermunculan di sekitarku. Tidak harus tentang diri sendiri, namun juga tentang orang-orang lain.

Soal kemalasan itu, ya aku sendiri sih sebenarnya. Semenjak akhir 2020 sampai pertengahan Februari ini waktu luangku dihabiskan dengan menulis diari ala kadarnya atau… menonton drama. Drakor ataupun dorama, yang mana pun juga kutonton jika ada. Masalahnya aku ini tidak suka menonton. Namun, membaca pun belum juga setengah dari satu buah buku, padahal sudah sejak awal Januari. Menulis apalagi, kurasa sangat terhambat. Sudah ada beberapa draft yang kusimpan -beberapa tulisan yang kumaksudkan untuk sedikit serius dan panjang, namun lalu aku stuck dan tidak dapat melanjutkan. Heran sekali aku terhadap diri sendiri.

Satu sisi, aku tidak ingin menghajar diri dengan keinginan produktif setiap waktu. Pada dasarnya kupikir aku lebih memerlukan stimulasi mental pada waktu-waktu merasa kusut begini. Tapi yah, entah juga.

Belum lagi hal-hal negatif yang menyembul menampakkan diri belakangan. Aku tidak bisa menuliskannya secara detil di sini, karena berkaitan dengan hubungan dan juga kehidupan pernikahan orang lain. TAPI. Membuat kesal dan bertanya-tanya heran, kenapa sih manusia harus seperti itu? Taking things for granted. Tidak puas dengan apa yang dimiliki, dengan cara paling tidak santun sepanjang peradaban manusia, menurutku. Membuat harapan yang sudah tipis menjadi makin terkikis. Karena bukan hanya satu kejadian, namun beberapa. Dan menjadi seseorang yang (diberi)tahu banyak hal seperti ini sedikit membuat pening kepala juga. Padahal masalah orang. Yang menurutku masalah itu tidak perlu, kalau kita bisa menjadi orang yang teguh pendirian. Karena situasi yang sama pernah juga kualami, namun toh dapat kulewati. Baik-baik. Tapi kalau kukatai mereka manusia lemah, ya tidak menyelesaikan apa-apa juga, dan tidak pula menambah setitik pun harapan tentang hubungan antar manusia semacam ini.

Mereka yang seperti itu, mungkin hanya tidak tahu apa yang benar-benar mereka inginkan dari hidup ini. Begitulah pikirku dalam keheranan.

Ah sudahlah ya, sebaiknya aku segera makan siang sih.

Pilu, Waktu, dan Pintu

Dulu waktu SMP, aku memiliki jurnal mimpi, untuk waktu-waktu ketika aku merasa terganggu pada malam hari, dengan berbagai macam hal, bukan hanya tentang diri sendiri. Akan tetapi, seiring aku bertambah usia, sesungguhnya hal-hal remeh seperti mimpi lebih mudah kuabaikan.

Semalam, lagi-lagi mimpi semacam itu bermunculan. Ketika aku berjalan tak tentu arah. Berpindah-pindah, dari tempat yang kukenal, jalanan yang akrab, lalu berpindah lagi ke jalan-jalan yang aku tidak ketahui. Jalan raya yang kosong, anak tangga yang sepi, lorong tanpa seorangpun.

Seperti sedang mencari sesuatu. Tapi apa itu, aku juga tidak tahu. Yang pasti aku harus menemukannya.

Namun, dalam mimpiku semalam, aku seperti kebingungan, enggan, dan tidak bertenaga, seakan bukan aku yang bergerak, tapi pemandangan, latar tempat, waktu yang berganti-ganti bagaikan wallpaper yang berjalan.

Seperti dibandingkan aku sedang mencari sesuatu, namun justru aku menunggu untuk ditemukan.

Begitulah mimpi samar-samar dalam tidur yang tidak pulas itu meninggalkan kesan pilu yang tidak juga bisa hilang. Seperti noda bekas teh atau kopi yang tidak mau lepas dari cangkir keramik putih. Nyaris membuatku hilang sabar dan membantingnya sampai pecah.

Tapi aku tidak seperti itu. Setidaknya aku yang kukenal. Kenapa ya bisa begitu?

Aku sendiri merasa bahwa aku lebih perseptif kala separuh usiaku dulu. Dulu, aku lebih menghargai waktu. Bagiku dalam sehari 24 jam, ada bahagia, ada kesedihan, dan keduanya terbagi tepat masing-masing 12 jam. Jadi, aku menghitung waktu. Tatkala banyak gelak tawa dan canda pada hari itu, kukatakan pada diri sendiri untuk bersiap-siap dengan segala badai yang mungkin mengikuti. Tatkala banyak masalah, entah dengan teman, entah tugas yang membebani, kuucapkan pada diri sendiri, ah ini memang lagi waktunya bersedih sih, nanti juga setelah ini akan ada yang membuat lega lagi. Begitulah hari-hari yang kuanggap normal; aku tidak harus lepas kontrol dengan terbahak-bahak heboh, aku tidak perlu tertahan lama dengan kerutan dahi.

Namun hal-hal baru yang terjadi belakangan sedikit banyak membuatku terlempar dari keseimbangan itu, seberapapun aku mencoba merangkak kembali menuju harmoni.

Dalam hidup, aku tidak pernah seperti ini.

Seserius apapun aku, aku bukan orang yang berlama-lama tergenang dalam gundah gulana.

Ini sudah terlalu lama. Membuatku membenci diri sendiri. Membuat sedikit malu dan gengsi juga untuk setiap ‘aku baik-baik saja’ yang kucoba perlihatkan berbulan-bulan ini. Yah, memang baik-baik sih, ‘kan. Tapi… entah juga sih.

Seandainya saja aku bisa lebih mengerti. Diri sendiri dan juga orang-orang lain. Seandainya saja aku bisa lebih jujur. Terhadap diri sendiri dan juga orang-orang lain. Seandainya saja aku bisa tidur lebih lelap, mungkin tidak perlu terpikir begini.

Seandainya saja benar bahwa satu pintu tertutup, pintu lain terbuka. Benarkah?
Enggak juga ah.

Lah, jangan-jangan malah kamu sendiri yang terkunci di balik pintumu, Sil?

HAH?!

.

♫ U2 – Stuck In A Moment You Can’t Get Out Of