Sebuah Puisi (Yang dimulai dan belum berakhir)

Aku berjalan dari start. Tentu saja aku menuju ke finish.

Aku percaya aku bisa melakukan perubahan, dan aku percaya aku akan melakukannya.

Ketika aku sampai di akhir yang aku di pikir itu adalah finish, ternyata aku masih sama seperti ketika aku berada di start.

Well, nyatanya aku tidak berubah.

Kemudian, apakah kalian mengira aku stuck dan menyerah?

Well, no-no. A big NO!

Aku melangkah dari awal lagi, memulai segala sesuatunya lagi.

Aku tidak ingin hidup tanpa perubahan dan tatkala aku masih juga salah…

Well, aku rasa aku akan memulainya lagi, mengulangi lagi dari awal.

Aku hanya tidak ingin tetap seperti ini, meskipun orang lain berkata lebih baik begini.

Suatu ketika nanti, manakala aku mencapai finish itu, aku justru tidak ingin membayangkan bahwa aku telah dapat dan sukses untuk melakukan perubahan itu.

Yang aku harapkan adalah bahwa aku tetap percaya bahwa aku berusaha melakukan perubahan itu, bukan sekedar sukses meraihnya.

Bagaimana jika aku tidak juga melakukan perubahan itu?

Well, aku memulai lagi. Sampai tiba waktunya aku berhenti di finish itu. Finish yang benar-benar finish. Bukan sekedar pemikiranku saja.

Advertisements

Your points, My points… (Mari kita berdebat)

Grrrrrrrr!

“Why have we come to a place like this?” Kutipan terakhir kata-kata Kira Yamato dalam Gundam Seed selalu terkenang di hati dan untuk mengakhirinya, selalu lantunan Find The Way dari Mika Nakashima membuatku menangis. Ada yang salah? Mungkin aku punya sedikit sisi melankolis, tapi bukan itu intinya.

Pertanyaan yang dilontarkan dalam anime tersebut berkenaan dengan perang yang menghancurkan banyak hal. Perilaku manusia yang tidak mau berkompromi menimbulkan perang. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Mengapa kita tidak bisa mendengarkan pendapat orang lain? Atau mungkin kita tidak mau?

Well, ini bukan hal yang gampang, aku sendiri menyadari hal ini. Yeah, aku adalah orang yang tidak bisa diam ketika menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan prinsipku, entah dalam hal apapun. Ada kalanya memang aku diam, tapi lebih sering lagi aku protes. Komentar sana-sini, menyindir begini-begitu, sangat tidak jarang mengeluarkan kata-kata provokasi yang membuat orang lain naik darah. Bahkan, aku pernah dikomentari, “Kalau omonganmu begitu terus, bisa nggak dapat jodoh loh.” What?! Aku bukannya bicara jorok lho. Aku berbicara yang sebenarnya, kalau suatu hal adalah salah, mengapa kita harus membenarkan sesuatu yang salah?

Sejak SMA sampai kuliah tahun kedua inipun aku masih tidak juga menyadari hal tersebut. Mengapa aku harus diam melihat sesuatu yang salah? Bukankah setiap slogan dan moto menegaskan bahwa kebenaran harus dinyatakan bagaimanapun juga.

Lately, aku baru menyadari bahwa carakulah yang salah! Sangat sulit untuk mengakui hal tersebut, tapi harus! 😥 Aku tidak bisa sekedar nyosor-nyosor dan menodong orang lain bahwa mereka salah. Pada kenyataannya aku memang benar, tetapi inti dari apa itu kebenaran bukanlah tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Sungguh, aku baru mulai memahami hal ini semenjak masuk college.

Aku terlalu suka berdebat. Dan percayalah, berdebat lebih sering tidak menjadi cara bertukar pikiran yang tepat. Setiap kita yang pernah berdebat dan memikirkan perdebatan tersebut mungkin pernah merasakan bahwa objek yang kita perdebatkan dapat secara otomatis tidak lagi menjadi sesuatu yang kita pikirkan apakah hal tersebut memiliki nilai kebenaran yang autentik atau tidak. Ujung-ujungnya, kita sibuk mengumpulkan fakta-fakta serta poin-poin penting yang menegaskan bahwa apa yang kita yakini adalah benar. Dan, yang terparah adalah kita sibuk meneriakkan bahwa kitalah pihak yang benar dan pihak yang berseberangan dengan kita adalah salah. Apakah cara ini akan membawa kita kepada sesuatu yang bermanfaat? Well, it’s very hard to think so.

Yah, di atas semua itu aku mengerti perasaan Athrun Zala ketika ia berkata, “There are certain things that I can understand, but cannot accept”. Yup, memang tidak semua pendapat dapat kita terima sekalipun kita dapat memahaminya. Ada hal-hal yang sangat kita yakini dan menjadi prinsip yang fundamental dalam kehidupan kita, sehingga kita percaya bahwa hal apapun di luar dari prinsip tersebut adalah salah, atau lebih halusnya bukanlah sesuatu hal yang dapat kita pegang. Akan tetapi, apakah itu berarti kita harus mengorbankan orang-orang yang meyakini hal yang berbeda dari diri kita demi keyakinan yang kita anut? Yah, ini masalah idealisme.

Memang faktanya ada pula orang-orang di luar sana yang tidak bisa berpegang erat pada satu hal saja yang menjadi tiang pegangan mereka, tapi pada saat ini kita tidak sedang membahas orang-orang yang mudah terpengaruh dan meloncat dari satu aspirasi ke aspirasi yang lain.

Saling mendukung dengan itu, ada quote dari salah satu dosenku bahwa untuk mempelajari suatu hal, kita harus mendengarkan dulu baik-baik, baru dikritisi. Mendengarkan orang lain adalah keharusan, bukan sekedar adakalanya, tetapi setiap waktu. Sekali lagi kutegaskan bahwa hal ini tidak mudah, percayalah. Sampai saat inipun aku masih berusaha melakukannya dan yeah, tidak mudah. Dan bukan berarti tidak bisa, tentu saja.

Aku masih dan akan terus belajar untuk membuka kedua telingaku baik-baik untuk setiap hal yang dikatakan lawan bicaraku. Okelah, aku memang seorang observator yang bisa menjadi terlalu teliti, tapi itu seharusnya tidak menjadi rintangan untuk mendengarkan orang lain. Sebaiknya juga aku harus berlatih untuk menahan diri tidak langsung mengoceh tentang apa yang tidak kusetujui.

Yah, akhir kata, saudara-saudari. Terlepas dari semua itu, marilah kita sama-sama berusaha untuk membawa perdamaian di dunia ini. Bawalah dalam doa masing-masing untuk lebih lagi memahami apa yang harus kita lakukan, bahkan pada saat setiap acungan telunjuk mengarah kepada kita dan mengatakan bahwa kita salah. Sekali lagi, tidak mudah untuk mendengarkan orang lain, apalagi untuk menerimanya. Setiap orang punya poin masing-masing, tetapi hanya ada satu kebenaran, dan itu bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.

Aku selalu membayangkan alangkah indahnya apabila kita yang berseteru tidak menghabiskan tenaga untuk saling memaki satu sama lain dan menyakiti diri sendiri melalui dendam dan kebencian, tetapi apakah pernah muncul keinginan dalam hati kita untuk dapat berkumpul dan duduk bersama-sama di bawah langit sore yang cerah sambil menikmati kopi yang hangat, lalu bercakap-cakap dengan riang? Sungguh damai apabila imajinasi itu terwujud, dan itu bukanlah tidak mungkin. Tentunya kita datang ke dunia ini bukan untuk berdebat, kemudian memusuhi satu sama lain hanya karena kita punya pendapat yang berbeda, bukan? Think about it more and more before you point your guns at each other.