Berita Pada Suatu Hari yang Biru

Btw, ini kisah hari Jumat, 22/11/13 yang baru sempat gue post hari ini. 🙂 Thanks for reading.

Hari Jumat, 22/11/13, gue terbangun jam 05.30 am. Alarm gue yang biasanya bunyi jam 04.00 am gak bunyi. Gue cek, ternyata hape gue lowbat. Upss, akhirnya dengan segenap tenaga gue berusaha untuk memilih, apakah gue akan jogging sesuai yang gue rencanakan semalem-rencananya sih jam 05.00 am (telat), ataukah gue melanjutkan bobo cantik pada pagi yang indah ini.

Setelah menimang-nimang beberapa belas menit, 05.45 am gue turun ke soccerfield. Asal tahu aja, gue tinggal di asrama. Di lantai 5 dari 6 lantai yang ada tepatnya, dan beberapa minggu belakangan ini, kami harus naik-turun tangga karena lift yang biasanya digunakan mahasiswi asrama sedang rusak-well, ada faktor quota juga di sini, tetapi tidak bisa memungkiri bahwa ada pula faktor pemakaian yang tidak sesuai dengan petunjuk :p

Di soccerfield gue sibuk mengagumi keindahan langit biru dan matahari terbit terlebih dahulu dan bersyukur karena hari ini gak ada kuliah. 😀

Di lapangan hadir salah satu bapak-bapak yang entah darimana sedang berlari tanpa henti-gue yang melihatnya aja bisa ngos-ngosan -_-“

Setelah itu, gue muter-muter soccerfield sebanyak dua kali. Gue gak tahu apakah gue lari, jogging (lari-lari kecil), jalan dengan pelan atau merayap. Pokoknya dua kali putaran, ya udah. Gitu aja.

Sejenak di bawah matahari pagi, gue pun tiba-tiba kangen ke toko buku.

Kangen, saudara-saudara. Spesifiknya lagi GRAMEDIA, saudara-saudara. Okelah, memang gak nyambung, tapi ini memang benar adanya. Rasa kangen itu kan timbul tiba-tiba. :p *curhat*. Dan yang kedua, okelah, mungkin sudah beberapa minggu atau bisa dibilang sebulan gue gak pergi ke sana. Padahal, tempat tinggal gue ini kan tepat berada di depan mall -_-“ Well, emang lagi sibuk juga sih. “dijewer* :p

Dan taraaa, gue balik ke kamar jam 07.00, kemudian sarapan-berupa jajanan pasar dan teh hangat sambil blogwalking. Sarapan yang memakan waktu satu jam, tetapi memuaskan.

Akhirnya, gue memutuskan pergi ke toko buku bersangkutan pada jam 12 siang. Salahnya gue adalah, gue lupa kalo jam segitu adalah jam makan siang semua orang, baik para mahasiswa/i, baik para dosen/staff, dan seantero orang di sekitar wilayah sini, tentu saja termasuk anak-anak sekolahan yang entah bagaimana caranya sudah nongkrong aja di mall jam begitu. Alhasil, macet. Meskipun cuma jalan beberapa menit dari tempat gue ke mall, yah, pasti banyak orang yang berlalu-lalang. Itulah yang gue sebut: macet.

Tanpa sibuk-sibuk lagi gue naik eskalator sekali dan langsung menuju ke tempat yang gue idam-idamkan. 😀

Jreng-jreng, sekilas gue ingin memberitahukan kebiasaan gue di toko buku. Gue adalah orang yang cukup random di tempat tersebut, sama halnya dengan ketika gue berada di perpustakaan. Sounds geek kali ya, tapi whatever :p

Sebenarnya, gue lebih suka pergi ke perpustakaan, karena buku-buku di sana lebih teratur dibandingkan toko buku-jujur. Tetapi memang tidak masalah, saya suka buku. (perlu poster gede, i ❤ books. :p) 😀

Mengenai kerandoman gue di atas, gue adalah orang yang tidak spesifik *melihat-lihat* satu jenis buku saja. Tentu saja jika ingin menarik perhatian gue untuk membelinya, buku tersebut (atau pemiliknya?) harus bekerja sangat keras terlebih dahulu. :p Dan itu tidak gampang, apalagi kalau ada alternatif meminjam dari orang lain saja. LOL

Alhasil, gue seringnya berputar-putar di toko buku selama 2-3 jam. Mulai dari bagian novel, komik, resep makanan, majalah, psikologi umum, agama, humor, kesehatan, komputer, sampai ke kamus-kamusnya. Semoga ada juga orang-orang yang seperti gue ini.

Akan tetapi, saudara-saudara, hari ini gue LANGSUNG menuju ke bagian Magazine. Dan tidak ayal lagi, mata gue tertuju kepada salah satu majalah remaja, yakni majalah Aneka Yess. Pertama, gue lihat dulu ketebalannya dulu, well, ada yang keselip di dalamnya nih, sampai tebalnya gak kira-kira begini. Dan gue pun membuka majalahnya tepat di bagian tengah, ada buku kecil. Di depannya tertulis: Booklet Cerpen. Upss, gue agak memiringkan kepala sampai menyipitkan mata untuk membacanya.

Agak deg-degan sih, gue pun membuka cover booklet tersebut. Saking agak sedikit grogi-yang entah muncul darimana, gue bingung cover depannya di mana, apakah ini seperti komik jepang yang dibuka dari belakang? Oh ternyata tidak, gue aja yang terserang kebingungan mendadak.

Dan taraa, di daftar isi tersebut, urutan ketiga dari atas, ada satu judul yang bikin gue terbelalak, saudara-saudara. Terbelalak.

Cerpen gue masuk majalah >..<

Bukan majalah sih, tapi booklet bonus majalah :p

Tapi-tapi, gue seneng banget euy. Thank God! 🙂

Berkali-kali gue mencoba (well, sebenarnya ini yang kedua kali sih) :p, dan inilah hasil yang gue dapat. Gue gak pernah nyangka, tetapi inilah yang terjadi. Well, sebenernya gue pengen nanya ke admin, kok gue gak dapat kabar kalau cerpen gue masuk 10 besar?

Gue ikut lomba ini bukan karena motivasi apa-apa loh-percaya gak percaya. Hadiah? Selain juara satu, memang cerpen-cerpen yang lain gak dapat pesangon apapun, tapi gue gak masalah. Bukan itu tujuan (utama) gue. Cuma gue ya pengen nulis aja. Setelah kesibukan gue pas kuliah saat ini, gue jadi jarang untuk menulis-jarang punya niat juga, sekalipun ada waktu. Sekarang aja punya blog jadinya kegandrungan menulis gue kumat lagi.

Ya, gue ikut lomba ini mungkin bisa dibilang sekedar iseng. Anyway, gue gak bilang siapapun-keluarga, teman di kampus, teman di daerah, dosen, guru, etc. No one knows. That’s why, right now. I just can greet myself and maybe some celebrations only for me.

Nb : ada yang pengen baca cerpen gue? :p well, setidaknya ucapan selamat sudah lebih dari cukup. 😀

Have a nice weekend, saudara-saudara. 😀

Advertisements

One Hectic Thursday

“Peduli…
Kamu harus belajar peduli…
Peduli teman, peduli jurusan, peduli angkatan.
Kamu harus belajar untuk peduli.”
-Pak Budi, Kajur-

Sungguh, saya tertohok dengan kata-kata beliau. Saya hampir menangis di depan beliau saat kata-kata ini meluncur begitu saja.

Okay, saya terdengar berlebihan, mungkin juga terdengar cengeng. Terlebih lagi, kata-kata itu bukan hanya ditujukan kepada saya, tetapi juga teman-teman satu angkatan yang sejurusan dengan saya.

Hanya saja, saya tidak dapat memungkiri bahwa tiba-tiba muncul keragu-raguan dalam diri saya, apakah saya memang adalah orang yang peduli? Bukan sekali ada orang yang bahkan sampai meneriaki saya, “Lo ini kok cuek banget sih?!” atau bahkan hati nurani saya yang selalu jujur mengatakan, “Itu bukan urusan kamu, jadi biarkan saja. Tidak perlu dicampuri.”

Ada banyak rasionalisasi yang pernah saya buat agar saya tidak turun tangan dalam suatu hal. Tentu saja saya bukan mahasiswa yang aktif-aktif amat, tetapi saya mengerjakan bagian saya dengan sungguh-sungguh. jadi, apakah itu berarti saya tidak peduli?

Okay, mari saya ceritakan kronologinya.

Hari ini, Kajur dan teman-teman sejurusan saya membahas suatu program HMJ kami. Saya dan sebagian besar teman-teman yang lain memang tidak termasuk di dalam kepengurusannya, tetapi program ini diwajibkan bagi semua angkatan mahasiswa jurusan kami. Hal ini menjadi perdebatan, “Mengapa harus wajib? Apa alasannya?”

Dengan telitinya saya mempertanyakan waktu pelaksanaan program tersebut, 2 minggu sekali, tiap Kamis jam 4-5 sore. Well, it’s nanggung time buat saya. Saya selesai kuliah dan tutor pada jam 12 siang, lalu pulang ke asrama. Kemudian, saya harus kembali jam 4 dan kemudian melakukan tugas mengajar sebagai syarat kontrak beasiswa saya pada jam 7. Rutinitas ini juga dilakukan oleh hampir semua mahasiswa jurusan kami. Jadi, kira-kira saya harus ke mana selama jam 5-7 itu? Bolak balik lagi? Itu bukan kebiasaan yang senang saya lakukan.

Tentu saja hal ini mungkin bisa dianggap sebagai suatu komplain/protes, meskipun saya lebih memandangnya sebagi suatu kompromi. Hei, saya tidak memaksa, lagipula bukanlah otoritas saya untuk membuat keputusan. Dan setidaknya saya dapat mengusulkan hal sekecil ini. Sekali lagi, saya tegaskan bahwa “hal wajib” bukan menjadi concern saya, tetapi “kompromi dan fleksibilitas” adalah hal yang tidak bisa saya lepaskan begitu saja.

Dan apakah anda mau tahu tanggapan Bapak Kajur saya atas usulan itu?

“Kalian harus melihat dari berbagai sudut pandang. Okelah kalian merasa waktu yang diberikan tidak tepat, tetapi jangan hanya sekedar memandang kepentingan kalian sendiri, pikirkan juga nanti narasumber yang akan diundang pada program ini. Mereka juga memiliki kepentingan mereka dan di tengah kesibukan dan keletihan mereka, sulit untuk menemukan waktu yang tepat.”

Well, inilah rasa tertohok pertama saya hari ini. Meskipun kata-kata beliau tidak secara langsung dikemukakan kepada saya.

Selanjutnya, beliau menjelaskan di balik kata “wajib” tersebut. Tentu saja, secara manusiawi tidak ada yang suka diikat dengan peraturan, apalagi peraturan yang tidak dipahami. Alasannya, tentu saja karena natur kami yang bila dikatakan bahwa apabila suatu program hanya sekedar rekomendasi, atau saran untuk diikuti, sangat sedikit yang akan aktif untuk benar-benar mengikutinya. Oleh karena demikian, peraturan wajib untuk program ini dikeluarkan. Yeah, setidaknya tadi kami sudah membahasnya.

Saya sangat puas dengan penjelasan kajur saya, dan saya kira teman-teman saya pun demikian-setidaknya itu yang saya pikirkan. Pada akhirnya, kajur saya mengakhiri dengan quote pertama yang di atas itu. Intinya. Peduli.

Cerita di atas adalah kisah nyata dengan sedikit gubahan, terutama dalam quote-nya yang saya parafrase-kan.

Kepedulian itu susah sekali. Bagi saya, saya bukanlah orang yang tidak pedulian-sekiranya itu yang saya kenali dari diri saya sendiri, bagaimana orang lain memandangnya, saya harapkan untuk sebaiknya diungkapkan kepada saya terlebih dulu. Tetapi, saya adalah orang yang butuh penjelasan untuk beberapa hal, yang kemungkinan saya lewatkan. Misalnya hal sepele seperti masalah waktu di atas. Buat saya, itu masalah besar. Buat orang lain, mungkin tidak. Saya sudah mengusulkan agar waktu dari program tersebut diganti sejak berhari-hari sebelumnya, tidak ada feedback. Dan saya juga tidak berpikir panjang bahwa memang ada faktor tambahan bahwa untuk mencari waktu yang tepat untuk *semua orang* adalah hal yang well, tidak semudah mengedipkan kelopak mata. Sangat melegakan ketika bisa dijelaskan oleh kajur saya dengan sangat baik. Satu inti lagi. Penjelasan itu penting-bagi saya, bagi semua orang, baik yang merasa membutuhkannya atau tidak.

Ini juga merupakan pembelajaran bagi saya untuk memandang setiap hal dari berbagai sudut pandang dan memperhitungkan berbagai faktor yang ada. Tentu saja sebagai manusia yang tidak sempurna, masih akan ada banyak hal yang mungkin saya lewatkan, tetapi bersyukur untuk orang-orang di sekitar saya yang mengingatkan dengan baik-baik-tidak nyolot, menjelaskan dengan detil dan tepat sasaran. Dan kali ini, orang tersebut adalah kajur saya. Saya berterima kasih untuk setiap penjelasannya, Pak.

Demikian hectic-nya hari ini.

Have a nice sleep all 🙂

-silvyavyaa-