Unexpected Things

Pagi. Jumat, 13 Desember 2013. Bersama secangkir cappucino yang pekat. Di kamar asrama yang berantakan.

Bukan apa-apa. Ini posting yang tidak direncanakan sebelumnya.

Sebelumnya, aku pikir liburan ini akan kunikmati dengan membaca, menulis, dan kegiatan-kegiatan yang kusukai. Sendiri. Atau bersama satu-dua orang sahabatku di Jakarta.

Akan tetapi, saudara-saudari, (harusnya lebih emo lagi: AKAN TETAPI, SAUDARA-SAUDARI!)

Kemarin, kakak lelaki saya menelepon dan menyuruh saya pulang kampung!

Pulang kampung malam ini juga!

Dalam satu hari sejak kemarin, saya mondar-mandir dengan berpuluh-puluh panggilan telepon, cucian yang belum mengering, lemari baju dan laci yang berantakan, serta koper yang untungnya bisa kurapikan semalam.

Kesal? Iya. Berhubung saya masih mahasiswi dan masih dibiayai keluarga, saya nurut aja, meskipun hasil kesepakatan sebelumnya bersama keluarga adalah saya tidak pulang kampung akhir tahun ini. Yah, memang begitulah kakak-kakak lelaki saya: segala sesuatu mendadak, segala sesuatu tetap jadi meskipun berantakan. Walaupun demikian, sebagai anak perempuan satu-satunya dan bungsu pula, entah mengapa saya tidak bisa seperti itu. -_-

Mengomel? Sudah. Marah-marah? Sudah. Entah nanti pulang dan bertemu mereka, saya masih bisa menahan diri tidak ngedumel atau nggak. Bukan apa-apa, bukan juga karena tidak sayang sama keluarga, tapi saya sangat tidak menyukai kemendadakan seperti ini. Saya tidak terbiasa packing dalam satu hari, ehm satu malam. Mungkin ada orang-orang yang terbiasa, tapi saya tidak.

Lagipula, memang ada hal yang saya hindari dari kampung halaman saya: pertama, tetangga-tetangga saya yang menyebalkan. Sampai sekarang saya tidak mengerti mengapa keluarga saya betah tinggal berdekatan dengan para true gossiper tersebut selama berpuluh-puluh tahun.

Kedua, ada seseorang yang ingin saya hindari untuk bertemu. Well, saya sama sekali tidak ingin menduga bahwa ia akan membaca post ini. Atau sekalipun orang tersebut membaca post ini, belum tentu juga ia akan merasa bahwa ia adalah orang yang dibicarakan.

Tidak banyak kepahitan dengan orang tersebut, malah lebih banyak hal-hal manis, hanya saja saya tidak ingin melanjutkannya lagi. Bukannya tidak ingin to fix the relationship between us. Tapi, ada hal-hal yang mungkin bukan atas kontrol saya, apalagi jika pihak sana tidak bisa diajak untuk bekerja sama. Terutama, jika tidak ada yang ingin untuk take the first move. Dan tentunya, saya tidak akan (dengan sengaja) melakukan hal tersebut. Dengan demikian, secara kasar dapat dikatakan bahwa saya lepas tangan. Apapun yang terjadi, akan terjadi dan biarlah terjadi.

Dan di sini, saya ditemani Don’t look back with anger (yang sejujurnya masih sulit saya pahami liriknya, hanya saja tertarik akan judul dan melodi lagu yang dimaksud) berusaha untuk berpikir jernih tentang apa hal-hal positif dari kepulangan saya ini, bukan hanya sekedar euforia menyambut Natal bersama keluarga, terutama dengan akar kepahitan yang (masih) mengikat dalam hati.

Sekian, dan marilah menikmati cappucino yang mulai mendingin.

Advertisements