Hari ini dan Totalitas di Kemudian Hari

Besok Imlek, Senin Praktikum.

Dua hal yang tidak ingin kupikirkan, tetapi terpikirkan. Bukan ingin lari, tapi ingin meyakini bahwa ‘tiap hari punya kesusahannya sendiri’.

Aku lupa bahwa besok itu libuuuuur. Sungguh, baru tadi sore ketika diingatkan teman saat bersama di dalam lift, aku langsung sibuk-sibuk, lalu barusan menyempatkan diri menelepon keluarga yang di Ambon, maupun di Papua. Sedikit homesick akibat sharing bersama teman-teman di care group yang juga akan praktikum mulai Senin nanti. Saat-saat seperti ini banyak yang merindukan keluarga. 😥

Imlek, waktunya makan-makan. Ayam asam manis, lontong cap go meh, telur puyung hai, beraneka mi, atau nasi kuning. Semua yang aku mau, ada. Itu saat di rumah, tidak saat ini. Menangisi nasib sebagai anak asrama? Tidak juga. Pastinya akan selalu ada hal yang menyenangkan juga, hanya saja saat-saat seperti ini memang ingin lebih dinikmati dengan berkumpul bersama keluarga.

Praktikum, ya, seperti yang saya ungkapkan tentang asal mula timbulnya homesick hari ini adalah karena tadi siang, kami yang berada dalam satu care group saling curhat mengenai hal yang akan kami hadapi Senin nanti. Ada yang praktikumnya jauh dan tidak tinggal di asrama. Alhasil, karena ia seorang cowok yang masih sering diurusi mama, ia pun kangen. Biasanya mama yang packing, mama yang ini, yang itu. Well, saya anak yang mandiri, lebih suka mengatur barang sendiri daripada meminta orang lain melakukannya, tapi tetap saja saya tersentuh. Ya, kangen rumah. Kangen semangat yang ternyata tidak bisa benar-benar full didapatkan lewat telepon.

Praktikum di hari Senin nanti bukanlah hal yang gampang untuk berlalu begitu saja, meskipun ia pasti akan terlewati juga. Saya bisa mengatakan dengan pasti bahwa kegentaran ada, persiapan minim. Ini hal-hal yang harus saya kerasi agar saya bisa berubah. Well, semoga tidak percuma tadi siang saya meneriakkan slogan penyemangat diri sendiri: TOTALITAS!

Btw, sampai saat inipun saya hanya bisa berdoa.

Advertisements

Sesuatu di Perpustakaan

Di tengah kepusingan saya dan juga mendekatnya praktikum kedua yang dimajukan menjadi 3 Februari 2014, saya duduk di perpustakaan sore ini dan berusaha mengerjakan paper Citizenship mengenai pandangan politik Marxisme.

Saya mencoba membaca artikel acuan dalam bahasa Indonesia, tidak paham, lalu sedikit sombong mencari versi bahasa Inggris dan yeah, sedikit lebih paham (mungkin?). Well, ada ‘sih teman yang setuju, tapi bahasan mengenai tugas bisa saya ungkapkan lain waktu.

Saat ini saya ingin menuliskan beberapa fakta(!) mengenai kesamaan yang saya temukan dari diri saya sendiri dan juga mas-mas staff, serta OB perpustakaan kampus tercinta saya ini.

(hal ini tidak sengaja ditemukan beberapa kali di tempat loker perpustakaan, di mana para mas-mas tersebut sedang rumpi berkumpul)

Here we go!

1. Kami sama-sama (senang?) berada di perpustakaan.

Well, kalau ini sudah jelas. Saya ‘sih sangat senang berada di tempat ini. Kalau bisa, nggak usah pulang-pulang sekalian. Tentu saja hal ini penuh dengan kerelaan hati. Kalau para mas-mas tersebut tentu saja WAJIB berada di perpustakaan dikarenakan tuntutan pekerjaan, jadi saya tidak tahu apakah mereka juga merasa keberadaan mereka di sini menyenangkan atau tidak.

2. Kami sama-sama senang dan seru saat menonton Pacific Rim.

Jelas saya memergoki para mas-mas ini menonton film tersebut lewat laptop (entah punya siapa) di ruang loker. Dan saya hanya tercengang-cengang melihat begitu serunya mereka menonton.

3. Kami sama-sama suka BACK-ON.

Ya, Tuhan. Saya hampir loncat-loncat ketika mendengar musik dari band ini mengalun dari playlist para mas-mas tersebut. Hampir menangis juga sebenarnya. Mana ada teman sekuliahan saya tahu band ini? MANA?? Sampai saat ini tidak ada pria ataupun wanita yang saya kenal dan sama-sama menggemari band asal Jepang ini.

Demikianlah saya menemukan fakta-fakta kesamaan ini. Semoga saya bisa melengkapi daftar singkat ini kemudian hari.

Nb: niatnya mau tulis review buku, tapi ternyata saya sedang tidak begitu berkonsentrasi terhadap beberapa hal serius sekaligus, sehingga akhirnya kelakar saja. Tenang saja, ini bukan faktor galau, patah hati ataupun cinlok kepada para mas-mas tersebut.