Welcome Me Back.

Ini pergumulan saya yang sangat teramat berat, saudara-saudari. Tidak berusaha untuk lebay di sini, tetapi begitulah keadaannya. Memang prahara yang saya hadapi sehari-hari bukannya luar biasa, sangat umum malahan, tetapi menjadi personal war bagi diri saya sendiri.

Entah apakah ada orang lain yang juga menyadarinya atau tidak, tetapi saya mengamati betul tingkah laku saya sendiri maupun beberapa orang yang bila mau dikatakan, ya pada dasarnya saya memang peduli terhadap mereka.

Begini, setiap kali membuka akun media sosial, apapun itu, sepertinya muncul godaan untuk mengeluhkan segala sesuatu di sekitar. Apapun itu. Oke, mungkin anda tertawa, nyengir kuda atau manyun barangkali, tetapi tidakkah anda merasa demikian? Tidak? Oh, kalau tidak, ya sudah.

Akan tetapi inilah yang saya hadapi. Baik melalui kejadian di Twitter, Fesbuk, dan mungkin saja Blog ini? Sepertinya keluhan-keluhan yang mengacu pada moodiness itu melekat dengan pasti pada yang namanya media sosial. Tidak bermaksud menyalahkan sesuatu yang dikreasikan dengan tujuan mulia (bersosialisasi) ini pula. Tidak juga saya ingin berlindung di balik perisai pembelaan diri “tapi orang lain juga begitu, kok”. Saya sendiri menyadari bahwa sayalah yang memerlukan introspeksi, bukan aplikasinya.

Tidak tahu pula apakah saya pernah menyakiti/menyindir/menyinggung orang lain dengan tweets/statuses saya atau setidaknya mengganggu pemandangan orang yang melihatnya. Saya minta maaf, dan kalau boleh, sebaiknya saya juga diingatkan. Tentu saja ada tempat lain untuk menuangkan emosi-emosi terpendam seperti demikian dan saya menyadari bahwa beberapa ratus karakter tidaklah cukup. Harus lebih. :p

Demikian pula saya mulai memahami bahwa melarikan diri tidak akan membawa perbaikan apa-apa terhadap diri saya. Well, after all, saya selalu menghargai kesempatan kedua, teristimewa untuk kali ini saya tidak mau terlalu keras terhadap diri saya dan justru ingin membuka kesempatan agar saya bisa lebih memercayai diri saya sendiri dalam urusan emosi-emosian begini. Pray for me yaa.

So welcome me back, Twitter.

Advertisements

No, You Can’t Do That. No, Please Don’t Do That

Tidak bermaksud untuk mempraktikkan aktivitas narsisisme di sini, tetapi saya hanya ingin memperingatkan bahwa sebaiknya jangan… jangan sampai anda terburu-buru untuk naksir sama saya.

*geleng-geleng kepala sekuat mungkin*

Sudah? Terbaca dengan jelas? Benar-benar jangan!

Mungkin kesan pertama anda bertemu dengan saya tidak begitu memesona. Anda yang mengenal saya sepintas saja lalu sibuk dan berpikir sekilas: “Gadis ini biasa saja, meski kelihatan cerdas dan pendiam. Tipe cool, atau cupu barangkali”. Pokoknya dalam pemikiran anda, saya bukanlah gadis yang akan repot-repot mencari perhatian anda maupun meminta barang mahal tersebut perhatian dari anda. Kemudian memang kita tidak dekat satu dengan yang lain. Masing-masing sibuk sendiri. Masing-masing mungkin hanya saling tahu satu sama lain. Saya memandang anda dari perspektif saya, dan anda memandang saya dari perspektif anda. Mungkin yang akan anda temukan adalah betapa patuhnya gadis ini, efisien dalam manajemen waktu-meski agaknya ingin supaya segala sesuatu selesai dengan cepat namun santai (oxymoron?), kutu buku, lebih banyak diam, namun cerdas dan sedikit tukang ngatur. Oiya, tidak lupa saya menambahkan bahwa sebaiknya anda mendengarkan instruksi saya dengan baik dan sejelas mungkin atau anda akan terkena tajamnya kegalakan saya pada saat anda melakukan sesuatu yang merugikan diri anda dan juga pihak lain yang sebetulnya bisa anda hindari jika anda lebih cermat dalam planning. Untuk masalah yang timbul dalam proses, yah itu bisa terjadi dan tentu saja mari kita perbaiki bersama-sama. Well, hal-hal tentang saya inilah yang bisa anda amati dari jauh.

Sampai suatu hari ketika kebetulan Tuhan dalam rencana-Nya yang indah mempertemukan anda dan saya, sekaligus memasangkan ‘kita berdua’ dalam satu hal yang harus dikerjakan bersama-sama. Ya, hal-hal ajaib seperti ini memang terlalu sering terjadi.

Lalu, lalu, lalu ada masalah-masalah yang ditemukan saat mengerjakan hal tersebut bersama-sama. Karena perlunya kerja sama yang saling berkooperasi dan berkoordinasi satu sama lain, curahan-curahan hatipun mulailah meluncur dengan lancar, baik dari anda maupun saya. Hal biasa, bagi saya. Itulah yang dinamakan berbagi antar rekan. Meski anda tidak memulainya, sayalah yang akan mulai membuka suara. Kemudian anda mulai melihat bagaimana cara saya memandang dunia, bagaimana semua tanggapan anda terhadap saya digoncangkan melalui percakapan-percakapan anda dengan saya, juga bagaimana bahwa idealnya yang saya inginkan adalah kedamaian, kenyamanan dan prestasi bekerja yang baik bagi semua orang. Dan ditambah pula terkadang anda menatap saya cukup lama dan membuat saya menjadi terheran-heran, sampai pada taraf tidak enak hati.

Lalu, lalu, lalu muncul masalah. Masalah yang akhirnya agak memaksa saya untuk mengambil langkah pertama dan cepat untuk menyelesaikannya. Meskipun saya tidak begitu mampu untuk mempersuasi orang, tetapi pada akhirnya saya dapat untuk duduk dan mendengarkan keluhan dari berbagai pihak. Setidaknya, usaha saya untuk menenangkan orang-orang berhasil, termasuk menenangkan anda. Ya, menjadi penengah itu tidak selalu mudah, tetapi selalu layak untuk dicoba.

Dan tiba-tiba anda menjadi dekat dengan saya. Entah ini hanya perasaan saya yang berusaha saya kecilkan supaya tidak menjadi GR atau memang kenyataannya seperti itu. But

Tapi saya mohon, marilah profesional.

Ketika nanti anda mengenal saya lebih jauh, masih banyak hal-hal yang tidak akan anda sangka dari saya. Misalnya, betapa moody-nya saya, eh atau anda sudah tahu? Terus, bahwa sebenarnya saya ini mandiri, sampai teman-teman sayapun selalu menyudutkan mengatakan kepada saya bahwa laki-laki itu tidak suka perempuan yang tidak bergantung sama dia. Ahh, inilah hal yang tidak saya setujui. Maaf kalau anda mencari wanita lemah, saya tidak merasa ataupun berpikir demikian. Dan dalam tindakan saya, saya fine-fine aja tuh kalau saya mengerjakan segala sesuatu sendiri. Oke, membutuhkan bantuan orang lain itu lain soal. Dan dalam pandangan saya jelas hal tersebut berbeda dengan perihal bergantung sama mereka.

Meski demikian, saya akan sangat berterima kasih manakala anda mau menaruh kepercayaan anda kepada saya (atau percaya sama Tuhan saja? :p), sebab seperti yang anda tahu, pahami, dan alami bahwa saya tidak akan meng-send.to.all rahasia-rahasia anda yang saya ketahui, juga bahwa ketika anda memerlukan sesuatu yang saya miliki dan dapat saya berikan, saya akan rela menyodorkannya kepada anda secara cuma-cuma, tidak lupa bahwa ketika anda membutuhkan saya sebagai ‘teman’, saya selalu ada. Ini bukan cuma janji-janji caleg, tapi anda tahu bahwa saya memang demikian.

Hanya saja, tolong. Jangan sampai anda menanggapi gadis kecil ini secara berlebihan. Jangan teruskan pandangan sembunyi-sembunyi anda (sebenarnya kalau saya tahu, kan berarti saya juga berlaku demikian -_-“) dan berharap bahwa saya akan membalasnya dengan perasaan yang sama. Saya tidak demikian ketika berkaitan dengan hubungan personal antar dua jenis kelamin berbeda. Ya, saya terus mempertanyakan bahwa benarkah pepatah Witing tresna jalaran saka kulina yang baru saya tahu artinya saat saya memasuki dunia perkuliahan? Bagaimana validitasnya dapat berlaku untuk seluruh populasi di dunia? Sudah anda ukur kenormalan datanya? Apakah anda benar-benar yakin? Sungguh? Oh, maafkan gadis yang terlalu peragu dalam hal ini.

Dan tolong juga hentikan hadiah-hadiah romantis yang sering anda selipkan secara implisit dalam hal-hal biasa. Jangan terlalu baik sama saya. Pada dasarnya memang saya lemah ketika berkaitan dengan pemberian. Lemah dalam artian saya tidak suka menerima hal-hal demikian, ya: hal-hal yang diberikan untuk menerima sesuatu sebagai kembalian. Meskipun bisa jadi anda memang tulus. Juga meskipun bisa jadi nanti saya berikan kepada orang lain, walau saya tahu hal itu lebih tidak sopan.

Ini juga bukan masalah to hunt or to be hunted. Memang ditaksir itu adalah puji Tuhan, Alhamdulillah, oh terima kasih Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih. Hanya saja, saya tidak bisa langsung menganggap anda sebagai Mr. Right hanya karena semboyan  ’siapa cepat, dia dapat’. Mungkin banyak gadis yang saya ataupun anda kenal di luar sana yang demikian. Banyak, terlalu nyata, serta terlalu dekat untuk saya lihat. Lalu, sampai di situ sajakah? Rasanya ada yang kurang ya, meskipun memang ada juga banyak hubungan yang pada akhirnya berhasil melalui penerimaan bersyarat demikian. Maafkan saya yang terlalu menuntut dalam hal ini.

Atau mungkin sebenarnya saya bisa, hanya saja saya tidak mau. Ketika sudah ada satu yang tertambat saat ini, saya tidak mau melempar jangkar ke yang lain juga. Saya tidak mau seperti itu. Saya tidak mau memiliki dua, lalu mengantongi satu sebagai cadangan. Kalau bisa, satu dan selamanya sudah cukup. Ahh, too full of emotion, tapi itulah yang saya mau. Sekali lagi, please: no.

nb: Teringat bahwa ketika saya menulis draft post ini di meja kantor dan ditegur sama Ibu di meja sebelah kiri saya dengan agak.sedikit.dibentak: “Ibu, ngomong dong. Jangan sampai tiba-tiba kesurupan!” Anda bisa membayangkan sendiri betapa kagetnya saya kala itu. 0_o Kangen meja cokelat itu. *nostalgia*