Life, Too Much Drama

You’ve been warned.

.

.

.

.

Menaiki tangga restoran itu, aku gemetar. Pelan-pelan merayapi tiap anak tangga, aku benar-benar sampai harus meraba-raba dinding. Di sana ia ada, duduk dengan ocha panasnya. Ya, di luar memang sedang mendung.

Aku berjalan mendekatinya. Dia menyadari kehadiranku. Pandangan kami bertemu. Mataku yang hitam menatap matanya yang juga hitam, juga tajam tentunya, sayangnya terhalang dua lembar kaca berbingkai itu. Dua detik, tiga detik, lima detik, belum ada yang berani membuka mulut dan menyapa. Suasana yang tidak kuharapkan mengingatkan kesadaran akan dahiku yang sedang berkerut saat ini.

“Hei, kok kucel banget sih?”

Dia memulai. Aku diam saja dan duduk di kursi yang berada di hadapannya. Masih menatapnya, aku pun masih diam.

“Padahal udah dandan, tapi kok kusut?”

Aku tersenyum dengan berat hati. Oksimoron macam apa yang sedang ia coba ungkapkan padaku.

“Kan lebih menarik kalau senyum…” lanjutnya lagi tidak tanggung-tanggung.

“Kamu kira kamu gombal? Kamu itu tengil tauk!” sambutku semena-mena. Kami pun larut dalam tawa.

“Gimana liburannya?”

“Tidak produktif sama sekali.” jawabku sekenanya.

Dia terdiam. Tahu ada yang salah denganku. Tentu, banyak yang salah denganku akhir-akhir ini. Saking banyaknya, tidak sanggup aku mengungkapkannya kepada siapapun, termasuk orang di hadapanku ini.

“Gimana kantor?” kali ini aku yang bertanya.

“Yaaa, kemarin-kemarin sibuk, tapi udah nggak sering lembur lagi, kok.” kemudian dia mengedipkan matanya.

Tengil, teriakku lagi dalam hati.

“Kamu mikirin apa?” dia berusaha menatapku lekat-lekat.

“Ehm, mau pesan makan dulu.” kilahku kemudian.

Aku sadar betul bahwa penghindaranku tidak hanya menambah kerutan di dahiku, tapi juga membuat dia ikut-ikutan mengerutkan dahi. Aku membolak-balik menu dengan agak canggung dan dia hanya tertegun melihatku.

“Ehm, aku mau satu paket A dan satu ocha panas.”

“Kok dikit banget? Nggak mau yang porsi besar?”

“Nggak.”

Dia kemudian memanggil pelayan dan memesan makanan untuk kami berdua.

“Oke, sekarang apa?”

Duh, ternyata dia tetap ingin menuntut jawaban.

“Aku nggak apa-apa.” jawabku masih sok-sok membolak-balik menu yang tidak juga kukembalikan kepada pelayannya tadi.

“Klise.”

Gerakan tanganku terhenti. Dengan memberanikan diri mengangkat kepalaku dan melihat ke arahnya, aku berusaha untuk fokus.

“Kamu mau aku jawab apa?”

“Jawab pertanyaankulah, masa jawab pertanyaan ujian nasional…” pandangannya melembut dan aku ikut tersenyum.

“Ehm itu, tugas MIS. Katanya mau bantuin.”

Dia tahu itu hanya sekedar alasan. Pengalih perhatian. Ahh, betapa manipulatifnya gadis di hadapanmu ini, kak.

“Itu mah kerjain aja sendiri. Buat aku, udah lewat masa-masa ngerjain tugas kuliah.”

“Lha kemarin janji mau bantuin…” pintaku pula sambil mengerucutkan bibir dan memberikan ekspresi ngambek.

“Kemarin ya kemarin. Hari ini ya hari ini.”

“Nyebelin.”

“Lagian paling kamunya juga masih nggak jelas instruksi tugasnya ngapain.”

Telak. Aku tertawa kecil. Begitulah adanya.

“Yah, tapi sebisa mungkin dikerjainlah.”

“Iya, tapi nggak sekarang juga, ‘kan?”

Aku terdiam. Oke, aku yang salah pilih momen.

“Ya, maaf. Kan sebisa mungkin harus efisien.” kilahku lagi.

“Absurd!” serunya pelan. Aku menanggapi dengan tawa kecil lagi.

“Oke, let’s be honest. Ada apa?”

Aduh, maksa banget sih. Nggak biasanya orang ini kayak begini.

“Bener-bener mau diomongin?”

Tell me.

“Kita mau ke mana ya?”

“Ke mana? Literally or…?”

“Ehm, gini deh ya, kak. Aku nggak melihat ada yang salah dengan ‘kita’. Tidak ada sedikitpun. After all, aku juga nggak bisa diam saja saat…”

“Oke, penjelasan kamu muter-muter. Ini masalah yang pas kamu telepon kemarin-kemarin?”

Ya, dia tahu. Dia sudah tahu. Seharusnya tidak perlu bertanya sejak awal, ‘kan? Dasar lelaki.

“Maaf, aku sendiri nggak tahu gimana harus ngomong.”

Feeling foggy. That’s all I know now.

“Masih kepikiran?”

“Gimana nggak dipikirkan?”

“Aku juga nggak bisa bilang untuk jangan dipikirkan. Sejak awal seharusnya ‘kita’ sudah tahu itu.”

“Yupp, obviously.”

Dia masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi seorang pelayan sedang berjalan menuju meja kami untuk mengantarkan pesanan tadi. Sibuk-sibuk mengatur meja hanya memakan waktu beberapa menit. Setelah pelayan itu pergi, kami terhenti sebentar dan saling memandang. Seperti biasanya sebelum memulai kegiatan makan dan minum.

“Berdoa masing-masing ya.” lagi-lagi dia yang berkata demikian, memang karena dia tahu dan paham aku tidak sanggup mengeluarkan kata-kata itu.

Menit-menit awal, kami saling mendiamkan satu dengan yang lain. Kesesakanku ditambah dengan kesadaran bahwa selalu dia yang memulai segala sesuatu yang tidak bisa kumulai. Bukan, bukan merasa bersalah, lebih kepada merasa tidak berguna-padahal aku bisa, hanya kendala-kendala yang entah dari mana yang mengekang.

Aku pun meletakkan sendok garpuku sambil menghela napas dengan sangat berat, “Aku kepikiran dengan pendapat orang-orang. Entah pandangan kakak seperti apa ya. Yang aku maksud dengan ‘kepikiran’ bukan berarti bahwa aku peduli dengan pendapat orang lain, tetapi bahwa aku tidak… tidak bisa hidup dengan mengenyahkan mereka begitu saja. Begitu pula pendapat-pendapat mereka. Bodoh sepertinya, tetapi begitulah adanya.”

Dia tercengang. Mungkin karena jarang-jarang aku memulai mengungkapkan sesuatu.

“Iya, kamu kepikiran. Jelas. Berada di posisi kamu mungkin tidak segampang yang kita bicarakan. Tidak masalah jika kamu memikirkannya. Ada keputusan-keputusan yang harus diambil, dan salah satunya adalah yang kita bicarakan sejak awal.”

“Ya, aku tahu.”

“So, do you regret about it then?”

“No, I don’t.” jawaban yang kuberikan tanpa kupikirkan lagi, karena aku memang terlalu sering memikirkannya sebelumnya.

“Good, neither do I.”

Kami melanjutkan makan. Meski demikian, akulah yang masih terganggu.

“Kalau misalkan memang kita tidak akan ke mana-mana?” itu pernyataan dengan nada tanya.

Dia terdiam. Melepaskan sendok garpu dengan sopan, kemudian meletakkan sikutnya di atas meja dan kedua tangannya saling menggenggam untuk menopang dagunya. Posisi berdoa? Hmm, pikiranku benar-benar berkabut.

What if? Poin itu sudah kita bahas juga, ‘kan?” dia berusaha mengingatkan.

“Iya, aku ingat… So be it then.” itu yang selalu kami ulang-ulang. Jawaban yang nampaknya terlalu apatis dan sekedar mengikuti arus. Yah, memangnya ada jawaban lain. Tidak, ‘kan?

Listen, chill. Tentu kamu khawatir bahwa bisa saja ada hal-hal yang terlewatkan dan terabaikan oleh kita dan justru tertangkap oleh orang lain. But are you happy with ‘our’ decision? Are you not?

Oke, dia mulai dengan topik itu.

“Ini bukan masalah bahagia atau tidak.” aku sudah tidak ingin melanjutkan kegiatan makanku lagi.

Dia mengerutkan dahi mendengar pernyataanku.

“Oke, kita bicarakan yang lain saja.”

Aku benar-benar tidak fokus. Mungkin karena mendung, mungkin karena temperatur ruangan yang terlalu dingin. Mungkin karena bisa-bisa aku menangis, padahal aku tidak ingin. Tidak, terlebih lagi di hadapan orang ini.

“Aku mau pulang.”

Dia ternganga. Oke, aku mulai terdengar seperti anak manja yang tidak dibelikan mainan.

Please, this is a very bad timing.

“Mau diantar?”

“Nggak, nggak usah.”

What’s the matter with you?”

I need time.”

Diam sebentar. Tidak ada yang bergerak.

Alright, then.” Dia bergerak dari kursinya.

Aku ikut bangkit dari kursiku.

“Maaf.”

Sudah. Segitu saja. Sedih? Tidak juga. Marah? Tidak juga. Merasa bodoh? Sedikit, karena tingkah lakuku di akhir-akhir pertemuan yang begitu kekanak-kanakan. Minta dimengerti? Tidak juga. Butuh waktu? Ya.

Terserah kakak mau berpikir apa tentang aku, tapi tentunya aku memikirkanmu, kak.

Mungkin apa yang orang-orang komentari tentang aku adalah benar adanya: too independent. Well, aku nggak pernah bilang bahwa adalah hal yang mudah untuk get along with me.

Advertisements

“Kok aku nggak pernah lihat kamu ke …”

Pertanyaan nyeletuk dari seorang teman kamarku di asrama yang dicetuskannya sekitar dua minggu lalu: mengapa baru kutulis saat ini? karena aku sibuk; mengapa masih tetap kutulis? karena tidak bisa aku diamkan saja dalam kepalaku. Tentu saja karena aku kepikiran dan jika tidak kusuarakan melalui tulisan, maka kepalaku yang akan berdenyut-denyut-tidak sampai meledak tentunya.

Pertanyaan yang gadis manis itu ungkapkan adalah pertanyaan biasa, singkat, dan aku tidak bisa mengatakan bahwa itu pertanyaan luar biasa. Well, begini bunyi: “Kok aku nggak pernah lihat kamu ke Gereja ya?”

Aku masih ingat ketika aku tertegun sebentar dan berusaha menatap matanya lekat-lekat. Setelah beberapa detik aku mencoba mengembalikan kesadaranku bahwa ia membutuhkan jawaban, maka aku memberikannya: “Udah dari semester lalu cuma ikut Chapel sih. Nggak ke Gereja lagi setelah itu.”

Lalu dia diam saja, mungkin masih ingin mengeluarkan kata ‘kenapa’ atau ‘mengapa’ atau ‘apa alasannya’, tetapi yang berlanjut kemudian hanyalah sibuk-sibuk di Minggu pagi waktu itu.

Mendapatkan pertanyaan demikian, tentu saja introspeksi diri masih menjadi pilihan pertamaku dalam memikirkannya. Tidak masalah dengan pertanyaan gadis ini, tidak masalah pula bagaimana cara ia mengungkapkan pertanyaannya. Tidak ada nada sinis, merendahkan ataupun sejenisnya yang kutangkap dari apa yang keluar dari mulutnya. Ia mengamatiku, dan ia menanggapi apa-apa yang kulakukan dan tidak kulakukan. Itu normal.

Yang kubutuhkan adalah refleksi atas diriku sendiri: mengapa aku menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang kutekuni beberapa waktu belakangan ini. Memang pergi ke Gereja setelah mengikuti Chapel adalah suatu hal yang dapat kukatakan overrated dari pandanganku setelah berkomunitas di sini. Bukan karena malas, bukan karena tidak punya waktu, juga sebenarnya bukan karena aku jenuh.

Aku ingin memiliki lebih banyak waktu untuk bersama Dia. Hanya aku dan Bapa. Mungkin ini jiwa introvert yang sering dicemooh teman-temanku, tapi itu lain soal-yang bisa dibahas lebih panjang berkaitan dengan pergumulanku saat ini pula mengenai ‘apa itu teman’. Aku ingin berdua saja, lepas dari kekakuan dan mengadu tentang segalanya kepada Dia. Selama hampir dua puluh tahun kehidupanku, Dialah Sumber Pengharapanku. Satu-satunya yang mendengarkan dan menegurku setiap kali timbul maksud yang menyimpang dalam pikiran, perasaan, dan tindakanku. Belum pernah ada yang seperti Dia, sih.

Dan sekarang ketika muncul ketertarikanku kepada hal-hal yang tidak Ia setujui, tentu saja aku merasa telah menjadi seorang pengkhianat. Waktu-waktu berkualitas kami yang semakin berkurang pun membuat aku menangis tatkala aku merindukan-Nya. Ketika itu terjadi, aku tinggal berpaling dan Dia di sana, menantikan aku untuk jujur sepenuhnya dan berserah. Mengungkapkan semua kepada-Nya tentu saja menjadi satu-satunya hal paling melegakan dalam hidupku. Jawaban yang sesegera mungkin memang bukanlah tujuanku. Dia paham, aku yakin itu, karena aku merasakan damai sejahtera itu setelah aku berbincang dengan-Nya.

Mungkin post ini tidak menjawab pertanyaan teman sekamarku itu, tetapi kuusahakan cukup untuk menjelaskan bahwa aku tidak ingin memandang sekelilingku dan membanding-bandingkan orang lain yang pergi dan aku yang tidak pergi. Karena bagiku kekecewaan terhadap manusia itu tidak menyenangkan. Makanya aku menghindari kebergantungan kepada mereka, sampai titik nol persen-jika diperlukan. Karena bagiku pula, aku belum menemukan bedanya antara orang yang pergi dan yang tidak pergi.

Tentu aku tetap pada prinsipku bahwa dunia tidak perlu tahu apa-apa yang terjadi padaku, apa-apa yang kupikirkan dan rasakan. Karena dunia tidak sama dengan Dia. sekalipun saat ini rasanya aku berusaha menjauh, tetapi panggilan-Nya agar aku pulang tetap terdengar dan mendorongku untuk kembali. Percaya atau tidak, mengenai iman ataupun rasio, ada hal-hal yang tidak terjelaskan dengan detail, tetapi begitulah adanya.