Tentang Seseorang yang Pergi

   As we go on, we remember
 All the times we had together
 And as our lives change
 Come whatever
 We will still be
 Friends Forever
Vitamin C - Graduation (Friends Forever)

Memiliki kenangan adalah hal yang terlalu biasa, mungkin sampai kita membahasnya. Oleh karena selama ini kenangan itu diam saja dan bersembunyi di balik kotak dengan gembok berkarat, makanya ia menjadi hal yang tidak luar biasa.

***

Ini bukan cerita mengenai kelulusan, wahai pembaca. Ini adalah kisah nyata mengenai perpisahan, yang mungkin anda juga alami, namun anda tidak sempat untuk merenungkannya. Sekiranya anda berkenan untuk melanjutkan kegiatan membaca post ini, biarkanlah saya yang mengutarakan sudut pandang saya bagi anda.

***

Ada seseorang yang saya kenal pada akhir tahun 2008. Seseorang yang berada dalam pergumulannya sendiri. Seseorang yang egois dan kurang-lebih tidak menunjukkan kepeduliannya terhadap orang lain dalam dunia nyata. Meski demikian, dalam pandangan saya, ia adalah orang yang sangat menjunjung tinggi kemanusiaan, tetapi harga dirinya yang intelek itu membuatnya memegang erat prinsip bahwa “orang bodoh harus dibantai”. Tentu saja ia memiliki definisi tentang ‘orang bodoh’ versinya sendiri.

Benar bahwa saya adalah orang yang cepat takjub ketika menyadari bahwa ada orang yang memiliki pemikiran yang kurang-lebih mirip seperti saya. Karena jujur saja, tidak mudah bagi saya untuk menemukan orang-orang demikian di lingkungan sekitar saya hidup. Padahal saya ini sudah mengelilingi beberapa tempat di Indonesia, mulai dari Maluku, Papua, Sulawesi, dan sekarang terdampar di ujung barat pulau Jawa. Dan dalam perjalanan hidup saya, hanya beberapa orang yang benar-benar saya tahu bisa memiliki pandangan yang mirip-mirip dengan saya. Bukannya selalu menuntut untuk dipahami, tetapi kadang-kadang merasa seperti alien atau unicorn itu tidak menyenangkan. Bagaimanapun saya adalah manusia dan yang berkeliaran di sekitar saya adalah manusia juga.

Oke, kembali pada pembahasan mengenai orang yang saya maksud. Oiya, biarlah saya menyebutnya sebagai ‘beliau’, karena saya memang ‘cukup’ menghormati beliau ini.

Saya sendiri mengakui bahwa beliau mempunyai peran penting dalam satu fase kehidupan saya tatkala masih lugu awal SMA dulu. Mendorong saya untuk menulis? Jelas. Bolehlah saya berkata dengan bangga bahwa beliau adalah inspirasi saya! 😉 Ditambah pula belajar multi-bahasa, juga di sinilah kisah saya dalam apologetika dimulai. Jangan lupa juga sejuta cara saya untuk terus bisa bercakap-cakap dengannya, untuk tahu pemikirannya dan apa-apa di balik kepala yang sepertinya tiada lelah berpikir itu. Kadang terlintas sepenggal komentar bahwa beliau memaksa orang-orang yang bertemu dan berbicara dengannya untuk menjadi dewasa. Yah, bagaimanapun kita akan melaluinya.

Dengan pengetahuan dan skill yang dimilikinya, beliau senang berbagi dengan orang lain. Memang lebih banyak berujung debat saat beliau mencoba untuk membagikan pendapatnya. Dampak dari perbedaan pendapat seringkali memang fatal atau sekedar cukup fatal. Apalagi, beliau sangat keras kepala dalam mempertahankan pendapat. Akan tetapi, saya menyukainya karena ia memiliki pendirian yang kuat. Waktu itu, ke-rebel-an saya sendiri belum seperti saat ini. 😉

Beliau juga adalah seorang pengumpul massa, yang kemudian menghipnotis memimpin orang-orang untuk meyakini dan mengikuti kata-katanya. Benar-benar seorang pemimpin. Bagi saya, tipikal orang seperti ini layaknya seorang guru yang digugu dan ditiru para siswanya. Kharismanya kuat, atau mungkin sangat kuat. Jika ia pergi, maka kerumunan yang sedang berapi-api itu akan bubar. Kosong, kesepian, dan merindukan dia.

Hal ini tidaklah berarti bahwa beliau tidak memiliki musuh, tetapi di situlah letak keseruan hidupnya. Saat-saat ketika ia membutuhkan dukungan, dan teman-temannya ternyata ada di belakangnya. Oh, Tuhan. Aku tidak bisa berhenti tersenyum. Mereka seperti tim sepakbola yang menang dengan angkuh di lapangan, dan kalah dengan gagah pada sewaktu-waktu.

Beliau mengakui diri bahwa beliau tidaklah tampan, tidak juga kaya, bahkan tidak ada manis-manisnya sebagai seorang lelaki 20-something. Bahkan, senantiasa berpakaian semaunya. Tetap rapi sih, karena yah, dia memang punya style-nya sendiri. Mainstream tidak, anti-mainstream juga tidak. Golongan netral -yang selalu menyebalkan bagi saya sebenarnya. Well, untuk penjelasan fisik tidak bisa saya detailkan, sebab tidak terlalu saya perhatikan. Memang saya teramat-tidak-peduli terhadap penampakan fisik seseorang. Toh kalau tata kramanya baik, tetap bisa digandeng ke mana saja.

Beliau adalah orang yang tidak segan-segan meninggalkan hubungan, bahkan tanpa permisi sekalipun. Mungkin karena beliau adalah seorang INTJ? Saya juga INTJ, sih. Dan ‘mungkin sepertinya benar’, karena untuk beberapa kasus, saya melakukan hal seperti itu, meskipun saya tahu itu tidak sopan. Ah, natur dosa.

Untuk kasus beliau ini, memang begitulah adanya. Pergi. Begitu saja. Tanpa permisi. Tanpa pamit. Tidak sopan!

Kepergian beliau mematahkan hati banyak orang, meski mungkin beliau tidak menyadari efek yang ditimbulkan dari hilangnya keberadaan dan interaksi beliau dengan orang lain -orang-orang yang biasa berkumpul bersamanya, bercanda bersamanya, berdiskusi mulai dari hal yang sangat serius, setengah serius, dan serius-serius lainnya. Ia pasti punya alasannya sendiri. Saya memang ingin tahu, tapi tidak seperlu dan sepenting itu untuk memberitahukan dunia. Jelas, ia bisa menyimpannya sendiri, sampai ke firdaus nanti. Hanya, kadang-kadang melihat orang-orang yang masih bersedih hingga tahun berganti setelah kepergian orang ini memaksaku untuk ikut terharu.

Mungkin, di suatu tempat pada saat ini, orang yang mereka rindukan itu sedang bercengkerama dengan orang lain yang baru ia temui. Mungkin ia sudah memiliki istri yang seharusnya tahan banting untuk hidup bersamanya dan bisa jadi ia sudah memiliki anak yang sudah pasti bandel seperti ayahnya. Mungkin ia akan tetap tidak tahu bahwa ada orang-orang yang diam saja, tetapi tenggelam dalam momen-momen mengenang kebersamaan mereka dengannya. Atau mungkin dia tahu, tetapi dengan kejamnya dia diam saja? Karena mungkin ia berpikir bahwa tidaklah penting untuk bersama, asalkan kita saling mengingat, dan kemudian ia menyimpulkan bahwa itu saja sudah cukup?

Nyata sekali bahwa kerumunan yang dulu pernah ada, kini tiada. Ingin lagi bercengkerama bersama, tetapi semuanya hanya mengenang masa lalu. Aku sulit melupakan hinaan sebagian orang beberapa waktu lalu terhadap Liverpool dengan segala macam past good times¬¬¬-nya. Ternyata, merekalah yang justru memendam rasa kangen itu.

Tidak, saya tidak bermaksud merendahkan. Ya, ampun. Maafkanlah saya jika seringkali membuat salah paham, baik melalui pemilihan kata maupun intonasi kata-kata saya, entah itu tulis ataupun nontulis. Di sini, saya hanya mengungkapkan apa yang tertulis dari air muka, kata-kata, juga tindak-tanduk orang-orang yang saya amati. Entah mereka mau mengakui kerinduan mereka atau tidak, tetapi begitulah yang saya lihat. Sampai sekarang belum berubah juga. Bicara soal perasaan, memang tidak bisa asal gampang untuk membuktikannya, tetapi mereka memang kangen. Oh, Tuhan. Jelas sekali mereka kangen terhadapnya.

Untuk sepersekian waktu, timbullah pemikiran saya tentang orang yang hilang itu: “Salahmukah untuk masuk dalam kehidupan orang lain? Salah orang-orang yang merindukanmukah bahwa mereka mengizinkanmu untuk menempati tempat penting dalam perjalanan mereka? Tidak, kita tidak sedang mencari pelaku di sini. Cukuplah sudah kesadaran mengenai fananya dunia ini, dan bahwa ada orang-orang yang berlalu, juga orang-orang yang akan datang.

Karena itu, jika aku bertemu kamu nanti, aku hanya ingin memberikan senyuman terbaikku.
Lalu aku akan pergi. Sudah. Itu saja.”

 

 

ps. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai liburan. Meski aku masih harus mengurus beberapa kepanitiaan, namun kehidupanku sementara ini layaknya pengangguran musiman. Dan waktukupun lebih banyak dihabiskan untuk tidur, makan, mendengarkan musik, membaca buku, menelepon beberapa orang sekedar untuk larut dalam small talk bersama mereka, lalu tiba-tiba… memikirkan hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu kupikirkan. Mengapa? Tuhan saja yang tahu segala sesuatu.

Only Know You Love Her When You Let Her Go

Only know you love her when you let her go

You may think over and over again…

Of course it’s true that your life is yours.

***

 

Well, aku ingin menertawakan kamu yang tidak bisa lepas dari masa lalumu, lalu aku melihat diriku dan pada akhirnya aku menertawakan diriku sendiri.

Karena bagi kamu banyak hal yang semu. Bagi kamu, yang kamu tahu hanyalah kehidupanmu. Yaiya, itu benar, kok. Hanya saja untuk beberapa waktu, aku menemukanmu bingung seolah kamu tidak tahu bahwa ada hal-hal kecil yang kamu sebut itu remeh, namun mungkin saja merupakan hal besar bagi orang lain, hal yang begitu berarti dan bahkan memiliki makna yang tidak tergantikan.

Ini bukan sindiran, dear. Mungkin kamu menganggapnya sebagai sebuah ke-sotoy-an belaka. Di atas segalanya, aku percaya kamu punya hati, sayang… Sehancur apapun itu, ia tetap ada. Akan sangat menyenangkan kalau kamu menoleh dan menemukan bahwa di sini ada orang yang peduli. Well, karena kamu sudah tahu itu.