Separuh 2014

Banyak hal telah terjadi. Banyak hal masih akan terjadi.
1. Seperti halnya Juni ini, Januari juga pernah hujan. Hujan yang kusukai dan hujan yang sempat kubenci. Mungkin lebih tepatnya sempat kita benci. Ya, masih ingat banjir saat awal tahun? Juga banyaknya hal yang sempat pergi, juga sedikit melankoli ditemani es krim dan tidur yang kurang nyenyak. Ya, saat Januari. Saat ada yang pergi dan aku juga.
2. Benar, untuk sekedar sebentar melupakan hal-hal yang tidak ingin diingat, kesibukan adalah pelarian seumpama meminum kopi dengan alasan agar tidak mengantuk, atau segunung kalimat mutiara untuk motivasi agar berubah. Sayangnya, hal-hal demikian tidak lagi mempan bagi diri sendiri. Sedih? Iya, tetapi mungkin layak dicoba. Untuk itu, Februari terlewatkan dengan praktikum dan segala sesuatunya.
3. Maret terbagi dua: awal dengan kenangan tahun-tahun lalu yang terhenti pada 2012 dan satu pesan yang tidak terbalas kala itu, lalu akhir dengan keputusan-keputusan kecil dan harapan-harapan yang besar saat ini, terutama untuk diri sendiri, karena tidak pernah ingin berharap terlalu banyak pada orang lain. Tidak juga semua-semuanya bergantung kepada diri sendiri karena sadar diri akan kelemahan-kelemahan yang ada.
4. April yang begitu bising. Salah satu bulan yang tidak kusukai juga, juga karena tidak banyak memorial di bulan ini. Menyempatkan diri untuk bertukar pikiran secara dalam dengan berbagai orang dan me-time bagi diri sendiri bagaikan perburuan harta karun dalam bulan ini. Tidak mengapa, memang ada hal-hal prioritas lain yang harus dikerjakan. Mengarungi badai akhir semester misalnya?
5. Lebih tepatnya, akhir semester benar-benar berakhir pada awal Mei. Iya, Mei yang itu, Mei yang mengejutkan saat membawa oleh-olehnya. Mei yang mengembalikan segala sesuatu, dan semoga pada tempatnya yang tepat. Mei yang sedikit banyak membuat berdebar-debar. Mei yang mengajarkan bahwa ada orang yang pergi dan akan kembali. Mei yang mendorong untuk bertanya kepada Tuhan tentang rancangan penuh kebaikan untuk hari depan penuh harapan yang Ia maksudkan. Ya, Mei yang lucu dengan banyak tanggal merah, namun tidak banyak kegiatan jalan-jalan.
6. Lalu Juni datang. Juni yang mondar-mandir pada mulanya. Juni sebagai bulan yang juga bukanlah bulan favorit dan hanya sebagai bulan yang ingin kupijak untuk menuju Juli. Banyak hujan yang hadir pula, dan aku terus berdoa semoga hujan-hujan kali ini tidak sama seperti yang ada pada Januari. Suatu Juni yang tidak pernah disangka akan menyambut kepulangan seorang yang dianggap sebagai pahlawan masa lalu. Juni, yang kemudian kulabeli sebagai bulan panen senyum haru ditambah sorak-sorai bagi sosok pahlawan itu. Lagi-lagi aku diingatkan bahwa ada yang akan pergi dan akan pulang kembali, sepesimis apapun orang-orang di sekitar, bahkan diri sendiri. Masih ada beberapa hari menjelang berakhirnya bulan ini dan keberanian untuk kehilangan segala sesuatu di dunia masih akan menjadi perjuangan yang panjang. Mungkin juga sepanjang tarikan napas di dunia.

Ya, benar. Separuh 2014 adalah sepotong perjalanan untuk belajar mata pelajaran hidup dan materi tentang probabilitas hilang dan kembali. Terdengar klise? Biar saja. Terdengar drama? Mungkin hanya perasaan anda saja.

Ya, takut kehilangan adalah sebuah ironi, karena kita tidak ingin merasakannya, padahal kita memang tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Menyadari itu, tidakkah manusia merasa bodoh tatkala ingin mempertahankan apa-apa di dunia?

Sudah, jangan membahasnya karena hanya akan memulai perdebatan tidak penting. Tidak semua orang setuju dengan pandanganmu dan mayoritas hanya akan membantaimu. Kadang kamu harus tutup mulut, agar tidak merugikan siapa-siapa, tidak juga dirimu sendiri.

Tidak selalu berarti menjadi musuh yang saling menyalahkan. Tidak selalu berarti pula untuk menerima hal-hal yang tidak ingin kamu setujui. Kadang-kadang yang diperlukan secara urgen hanyalah mendengarkan dan memahami sisi-sisi yang berseberangan dengan milik sendiri, sebab kamu sendiri menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikonfrontasi dan tidak semua orang dapat menerima konfrontasi.

Entah, entah nanti aku akan bertambah dewasa atau hanya sekedar bertambah tua, Tuhan tahu. Kiranya Tuhan dalam kehendak-Nya menyertai kita semua, karena aku percaya dengan mulut yang mengaku dan lutut yang bertelut bahwa Dialah Tuhan dan bahwa Dia mengasihi kita.

Selamat menikmati hujan sore ini. Semoga kopi hangat setia menemani anda, karena saya tidak bisa berada di sana. 😀

Sedikit Cerita – An Evening at the Opera

Aula Simfonia Jakarta, entah sudah berapa kali saya mengunjungi gedung ini dan tidak sekalipun saya tidak terpukau pada tempat ini, baik interior di dalamnya maupun apa-apa yang ditampilkan di sini. Tidak lupa juga menyebutkan Sofilia Fine Art Center yang menakjubkan dan masih ingin saya kelilingi itu.

***

Di dalam concert hall inilah kemudian diselenggarakan suatu pagelaran musik opera tadi sore bertajuk ‘An Evening at the Opera’.

Karya-karya yang ditampilkan antara lain adalah:

The Barber of Seville Overture by Giacchino Rossini (1792-1868)

Largo al factotum (The Barber of Seville)

Bella siccome un Angelo (Don Pasquale) by Gaetano Donizetti (1797-1848)

Belle nuit ȏ nuit d’amour (The Tales of Hoffman) by Jacques Offenbach (1819-1880)

Mon Coeur s’ouvre a ta voix (Samson et Dalila) by Camille Saint-Saëns (1835-1921)

Prelude to Carmen

Habanera (Carmen)

Votre toast, je peux – “Le Toreadors” (Carmen)

La fleur que tu m’avais jetée (Carmen)

Holá Carmen (Carmen Act 2 Finale)

Lalu ada intermission a.k.a break, yang kemudian dilanjutkan dengan:

Nabucco Overture by Giuseppe Verdi (1813-1901)

Va, Pensiero – “Chorus of Hebrew Slaves” (Nabucco)

Si, mi chiamano Mimi (La Bohème) by Giacomo Puccini (1858-1924)

La donna é mobile (Rigoletto) by Giuseppe Verdi (1813-1901)

Intermezzo (Cavalleria Rusticana) by Pietro Mascagni (1863-1945)

Tu, tu piccolo iddio (Madame Butterfly) by Giacomo Puccini (1858-1924)

Nessun Dorma (Turandot)

Finale

***

Konduktor performansi ini adalah Eunice Tong Holden dan Rebecca Tong yang memimpin Jakarta Oratorio Society dan Jakarta Simfonia Orchestra. Bersama mereka hadir pula Cecilia Yap sebagai penyanyi sopran, Anna Koor sebagai penyanyi alto, Jae Wook Lee sebagai penyanyi tenor dan Noel Azcona sebagai penyanyi bariton.

Kedua perempuan konduktor yang cantik sedemikian rupa membuat saya terpukau dan hampir-hampir selalu menahan napas tatkala memelototi mereka menggerak-gerakkan tangan mereka mengatur ritme dan dinamika senandung musik. Permainan Jakarta Simfonia Orchestra pun tidak kalah megah dalam tiap-tiap cerita.

Untuk Jakarta Oratorio Society sendiri saya memiliki kisah unik, karena kursi saya bernomorkan CA-31, alias berdekatan dengan chorus tersebut. Tepat di samping mereka. Dalam hal paduan suara ini, entah mengapa saya mendapati mereka masih sedikit ragu-ragu dalam mengekspresikan suatu lagu. Kalau dikatakan perbandingan, mungkin saya membandingkan mereka dengan teman-teman saya dalam acara Commissioning 12 Juni lalu. Mungkin juga karena bahasa? Saya memang kurang paham untuk urusan teknis masalah begini, tetapi itu yang saya rasakan di dekat mereka. Selebihnya, mereka memang tampil necis dalam sesi Carmen dan Turandot.

Meski memang musik klasik bukanlah sesuatu yang dapat saya lampaui secara pengetahuan, saya menyukai keutuhan dari sebuah pagelaran. Mendengarkan sesuatu yang sepotong-sepotong tidak terlalu membuat saya nyaman. Untuk itu, saya berharap untuk konser-konser berikutnya dapat menampilkan satu cerita secara keseluruhan. Bisa dikatakan: seperti Les Misérables. 😀 Tentu saya bersedia untuk duduk tenang selama tiga jam lebih asal diberikan waktu istirahat untuk ke toilet.

Di atas semua itu, secara keseluruhan, konser berlangsung dengan syahdu dan saya senang-senang saja ketika muncul ‘deg’ dan menahan napas sebentar pada satu-dua sesi. Konduktor, orkestra, dan paduan suara tampil dengan ‘wah’ dan membuat debaran jantung saya cepat dan lambat secara tiba-tiba. Para solois pun memiliki keunikan masing-masing dan sejujurnya, sang tenor Jae Wook Lee telah memenangkan hati saya dengan menampilkan Nessun Dorma melalui suaranya yang solid dan ehm, ekspresif?

Pada akhir acara, Dr. Stephen Tong menyempatkan diri memberikan satu-dua patah kata. Secara terbuka, beliau menyampaikan kembali keinginannya untuk membuka sebuah opera house di Indonesia sama seperti keinginan beliau dulu untuk mendirikan concert hall, dan jadilah Aula Simfonia ini. Memang modalnya tidak sedikit, alias mahal. Beliau juga menegaskan kembali akan pemerintah yang masih buta soal musik. Bersyukur pula bahwa masih ada para musikus yang berkenan untuk datang dan menyajikan talenta mereka di Indonesia. Dengan harga murah. Bahkan gratis.

Keinginan beliau ini tentu saya dukung dalam doa. Musik klasik ataupun musik opera memang jarang dipertunjukkan. Juga mungkin masalah selera sebagian orang Indonesia yang tidak bersilangan dengan genre ini? Bahkan drama musikal pop seperti High School Musical masih digandrungi sejak dulu dan sampai sekarang masih ada yang mendengarkan. Sementara itu, saya masih ingat pula bagaimana pertama kali nobar Frozen dan orang-orang sibuk tertawa saat Anna ataupun Elsa bernyanyi. Ada perbedaan tipis yang sedikit membuat miris di antara keduanya.

Yah, karena kita sudah mendapatkan berkat melalui keindahan konser malam ini, marilah kita turut berdoa untuk mengharapkan dengan sungguh-sungguh agar kualitas musik di Indonesia semakin membaik, dalam artian sederhana menampilkan lebih banyak lagi konser-konser seperti demikian.