Tentang Selalu Berada di Sana

Dua hal: ‘selalu’ dan ‘berada di sana’.

Tentu sangat menyenangkan untuk mendapatkan seseorang di tempat dan pada waktu yang kita inginkan. Dengan kata lain, di sisi dan selalu ada di sana kapanpun, bahkan pada waktu-waktu yang tidak tepat bagi orang lain. Mengapa kupikir bahwa manusia membutuhkan orang seperti itu? Kujawab bahwa mungkin karena sebagai manusia, kita juga ingin memberikan hal yang sama. Entahlah, mungkin ini hanya aku saja. Aku sendiri mengakui keterbatasan yang manusiawi, bahwa seseorang tidak bisa selalu ada, tetapi aku percaya pula bahwa untuk orang yang dikasihi, akan ada usaha yang sekuat tenaga. Bagiku, usaha itu adalah jaminan yang akan kuberikan, karena itu satu-satunya yang kupunya. Mungkin dalam artian bahwa ‘selalu’ dan ‘berada di sana’ yang kumaksud bukanlah perhatian-perhatian manis berupa mawar dan cokelat, atau jalan-jalan romantis setiap hari, tetapi berupa mendekati 100% bahwa dalam hal-hal sulit, kita berjuang bersama. Bahwa kita kuat secara masing-masing, tetapi kita menjadi satu dan kita tak terkalahkan. Bahwa kita memiliki masa lalu masing-masing, tetapi masa depan kita sama. Mungkin janji ini manis, dan bicara itu murah, tetapi itu juga mungkin karena ada orang-orang yang belum pernah menemukan orang yang sungguh-sungguh, atau mereka pernah bertemu orang-orang yang mereka kira sungguh-sungguh. Lagi-lagi kukatakan bahwa memang tidak mudah, tetapi ketahuilah bahwa dalam hal ini aku tidak ingin main-main. Pula sesulit untuk secara langsung mengungkapkan kata-kata sederhana bahwa “Aku akan selalu ada di sana. Mungkin tidak selalu membantu dan tidak selalu menolongmu dalam cara yang kamu inginkan. Aku hanya akan ada di sana, menantikanmu untuk datang jika kamu ingin. Maukah kamu datang? Atau begini saja, bolehkah aku memintamu di sampingku?”

Advertisements

A Journey Along The Way

Satu perjalanan memiliki ganti saat kita mengakhirinya. Partner, waktu, tempat, cara, dan tujuan, juga apapun itu. Mungkin, mungkin dunia kita terlampau teknis. Efisiensi dan efektivitas memang hal penting untuk diperjuangkan. Hanya, istirahatkanlah waktumu, sebentar saja. Renggangkan tubuhmu, tarik napas dan hembuskan lagi, pejamkan matamu. Sedetik, dua detik. Waktu sedang lelah, kamu terus memburunya. Lihat, kamu juga lelah, bukan?

***

Tatkala kamu berjalan, dongakkan kepalamu. Bukan, bukan karena sombong dan arogan, tapi untuk melihat langit biru dan awan putih. Hiraukanlah mereka, mungkin untuk kali ini saja, sebab awan berikutnya yang kamu lihat mungkin tidak akan lagi berada dalam formasi yang sama seperti yang sedang kamu pandangi saat ini.

Kalau kamu harus menggunakan kendaraan, pergilah dengan kendaraan umum yang belum pernah kamu naiki. Pergilah melewati jalur yang belum pernah kamu bayangkan.

Ya, naiklah bus mana saja yang muncul dalam pandanganmu. Perhatikanlah raut wajah kondektur yang menagih ongkos bus, sampai kadang ia meminta layaknya preman yang sedang memalak, lalu menghitung uang seperti rentenir dalam sinetron-sinetron yang ditonton ibumu, yang seringnya kamu juga dipaksa untuk menontonnya.

Perhatikanlah pula para penyanyi jalanan yang tiba-tiba sudah nongkrong dan membajak bus tumpanganmu. Ada yang bermodal gitar, bahkan ada pula yang memainkan biola, membuatmu terkesima. Ya, ibu kota adalah tempatmu pertama kali melihat pengamen. Mungkin sekarang sudah bukan waktunya untuk kaget lagi. Dengarkan saja suara mereka dan alunan melodi dari alat musik yang mereka mainkan. Ada yang bagus dan membuatmu membelalakkan mata, ada pula yang sepertinya jatuh terguling-guling dari tangga nada.

Perhatikanlah pula orang di sebelahmu, entah kirimu, entah kananmu, atau barangkali keduanya. Apakah ia wanita atau pria? Apakah ia memakai anting atau tidak? Jika ya, berapa lobang tindikannya? Apakah ia memakai jam atau tidak? Jika ya, apakah ia memakainya di tangan kiri atau kanan? Jika ia memakainya di tangan kanan, apakah ia memang kidal ataukah itu memang kebiasaannya?

Perhatikanlah juga orang di depan atau di belakangmu, entah itu orang tua atau anak muda, atau bahkan anak kecil yang sedikit hiperaktif. Entah itu pria yang bergaya wanita atau wanita yang bergaya pria.

Lalu, arahkanlah pandanganmu keluar jendela bus. Perhatikanlah kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di luar sana. Besar dan kecil, mewah dan lusuh. Truk, mobil, motor, becak, bajaj, atau bahkan delman. Selintas ketika ada dua insan yang berpelukan tanpa batas di atas sebuah kendaraan bermotor beroda dua, jangan kaget dan tersenyum tipis. Itu biasa, kamu saja yang menanggapinya berlebihan. Jelas kamu kurang pengalaman di bagian itu, barangkali yang paling sering memboncengmu hanyalah kakak lelakimu dan tukang ojek langganan sahaja.

Dari jendelamu juga, kamu mempertanyakan lagi pertanyaan yang belum ada jawabnya bagimu itu. Ya, tentang mengapa orang-orang di luar itu berjalan sendirian? Seperti mereka menyimpan sesuatu yang dalam dan memikul sesuatu yang berat, dan seperti ada hal-hal yang ingin mereka bagikan untuk mengurangi beban dan memberikan sedikit kelegaan bagi dirinya sendiri. Hanya saja, ada sekat yang menahan untuk mengalirkannya. Kadang, pandangan mereka terlalu fokus pada jalan di hadapan mereka, membuatmu sedikit gemetar dan membayangkan kekosongan yang sedang tersembunyi di sana. Inginnya dirimu untuk menatap mata-mata itu. Kan? Kamu lupa bahwa kamu juga sedang sendiri dalam perjalananmu.

Setelah terbiasa sedikit dengan apa-apa yang kamu lihat, kini kamu harus melanjutkan perjalananmu dengan angkot setelah turun dari bus tersebut. Lalu ketika kamu menaiki angkot, kamu menemukan seorang ibu sedang menggendong bayinya. Duduklah di hadapan mereka. Berusahalah pikat bayi itu dengan senyumanmu yang tulus, tapi jangan sampai kelihatan ingin menculik dan memakan sang bayi. Mainlah mata dengannya, ajaklah ia berbicara meskipun ia hanya dapat menggumam tak jelas layaknya minion. Buatlah para penumpang angkot yang lain ikut meramaikan sepenggal kebersamaan dengan sang bayi tersebut. Kemudian, tataplah ibunya yang kemudian menempelkan wajahnya erat-erat ke wajah putranya. Lalu, sang ibu membisikkan sesuatu ke telinga bocah dengan mata bening itu. Apa? Ingin tuk didengar, tapi suaranya tak sampai padamu. Mungkin ungkapan sayang, mungkin nasihat agar tidak rewel, mungkin doa singkat bagi anak tercinta. Kamu menerka-nerka, namun biarlah tetap sebagaimana yang tidak perlu kamu ketahui. Setelah itu, biarlah mereka turun dengan sukacita sambil mengucapkan selamat tinggal yang gembira bagimu.

Kamu tahu, kamu bahagia karena kamu menikmati kebahagiaan itu. Ketakutan ada, tapi hanya sedikit, dan tidak bisa meredam cahaya yang menerangi jalanmu. Memang kadang kamu ingin cepat sampai dan mengeluhkan macet, tetapi kadang juga kamu memarahi sopir yang ugal-ugalan. Jalan yang berbatu-batu, lintasan kereta yang berdebu, panas terik dan hujan deras, semuanya tetap akan terlewati. Kamu tahu itu.

Saat ini, kamu belum tiba pada tujuanmu, tetapi kepercayaan dirimu -bahwa kamu akan sampai meskipun kamu tidak tahu kendaraan apa yang kamu naiki dan jalur apa yang kamu lewati- ya, semuanya itu bisa membuat orang lain terperanjat dan bahkan merasa iri, kau tahu? Yah, kamu bahagia, karena damai sejahtera itu ada dalam hatimu dan menyertaimu ke manapun kakimu membawamu.

***

Ah, diriku… kamu dan waktu terus-terusan saling menertawakan…

Lalu kudengar suara gemerisik dari dalam diriku yang berkata, “Waktu, kusempatkan kamu, karena mungkin suatu hari nanti, aku tidak akan berada di kota ini lagi.”