Odd

Ini mungkin berupa sebuah konfirmasi, tapi rasanya soal itu aku tak terlalu peduli.

September, the beginning of autumn. Bulan melankoli.

Tahun lalu, itu satu hal baru yang kuketahui, dari banyak hal yang tidak kuketahui.

Iya, ya… ada banyak hal yang dibawa, ada banyak hal yang terbawa. Ada banyak hal yang ditinggal, ada banyak hal yang tertinggal.

Aku menyadari betul bahwa aku selalu bisa belajar dari pengalaman. Well, sebenarnya kan hal itu sudah dan sedang kulakukan. Memahami sekat, anugerah yang tidak selalu mudah untuk dibicarakan dan betapa peduli kepada orang lain tidaklah selalu perlu untuk diketahui yang bersangkutan. Doamu sampai atau tidak kepadanya, hanya Tuhan yang tahu. Pula, setidaknya aku semakin menyadari tentang diriku sendiri. Bahwa di dalam tangis ataupun senyum, itu adalah setitik emosi yang menunjukkan bahwa aku hidup.

Aku paham bahwa mungkin ada yang sedikit berbeda dalam diriku sendiri. Bahwa ada yang tidak ingin kubuka. Bahwa ada yang ingin kubuka, tetapi tidak kulakukan. Bahwa ada bagian yang tidak selalu mudah untuk diperlihatkan kepada orang lain. Bahwa ada bagian yang tidak selalu dapat diterima secara baik-baik. Bukan… bukannya ingin memperlihatkan yang baik-baik kepada yang lainnya, tetapi hidup bersama menuntut banyak hal. Itu yang aku tahu.

Sejak memasuki bulan yang baru hingga tanggal empat kemarin, aku sudah menghitung. Kira-kira lima orang mengatakan kepadaku untuk ‘santai saja’. Untuk orang yang mengungkapkan lewat teks, aku hanya dapat termangu. Untuk orang yang mengatakannya secara langsung, aku memaksa diri untuk menatap mata yang telah melihatku seperti itu. Dan untuk kesekian kalinya tatkala aku berada di tempat baru dan kurang dari dua minggu, sudah ada yang melabeliku perfeksionis. Dulu dan kini. Benarkah? Sedikit tidak percaya dan bahkan sedikit kerutan di dahi bahwa seolah kenal diri sendiripun aku tidak.

Ini lingkungan yang baru. Masih lingkungan bersama orang-orang. Manusia, sama sepertiku. Entahlah. Aku pikir aku hanya ingin menyelesaikan segala sesuatu dengan baik, diberikan feedback, entah pujian atau kritik. Aku pikir aku harus menyelesaikan ini-itu secara efisien. Aku pikir bahwa menepati janji adalah harus. Aku pikir hal-hal tulus dan setia itulah yang penting untuk dilakukan. Karena itu aku melakukannya. Ya, melakukannya… tapi, mungkin itu tidak penting bagi beberapa yang lainnya ya. Untuk itu, aku yang akan memilih, siapa yang aku percaya dan siapa yang tidak, siapa yang dengannya aku mau melakukan kerja sama dengan sungguh-sungguh dan siapa yang melakukan satu hal dengannya pun aku terpaksa karena lingkungan mengkondisikan demikian.

Tidak selalu karena aku lebih baik dari siapapun yang lainnya, kok. Untuk banyak waktu, kita hanya tidak mau duduk dan minum kopi bersama, lalu saling berbagi pemikiran.

Atau mungkin aku yang memang tidak bisa santai dalam menghadapi apa-apa? Selama ini kupikir ketidakpedulianku terhadap komentar orang yang hanya menekankan pada performa luar justru menunjukkan bahwa aku santai. Entah mengapa pula dua penggal kata yang menyuruh untuk santai saja malah membuatku memikirkannya. Kadang pendapat orang lain memang benar sih, tapi tidak selalu. Dan kali ini, hal itu membingungkan, karena sekedar memberi perintah dan aku bukan seseorang yang benar-benar penurut ketika tidak paham apa-apa di hadapanku.

Yah, mungkin harusnya akhir pekan ini kuhabiskan untuk bersantai ria, ya. Hanya, besok aku harus belanja seharian untuk memenuhi kebutuhan sebulan ini, lalu lusa malah harus bersiap-siap untuk pekan yang baru. Mungkin santai ini bisa ditunda dulu. Mungkin. Sampai akhir tahun ini sepertinya. Hufft….

Advertisements