Hari Ini Hujan

Tempat ini biasanya begitu panas dan kering. Kemudian, hari ini hujan, pada jam segini pula. Bau tanah yang dikeroyok tetesan air yang tak terhitung. Termangu di dalam kamar. Libur selama dua hari: Kamis-Jumat. Dilanjutkan Sabtu-Minggu. Akhir minggu yang akan terasa sedikit lebih panjang dari biasanya. Akan tetapi, aku bisa menebaknya bahwa pada akhir dari hari-hari lowong ini, segala sesuatu terasa pendek. Tentu saja, karena sudah terlewati. Yah, bukannya tidak ada yang harus dikerjakan saat ini, sih. Akan tetapi, saya ingin menikmati hujan yang tidak biasanya ini dulu.

Biasanya hujan berkenaan dengan genre melankoli. Akan tetapi, pada saat ini saya menganggapnya sebagai trigger yang memunculkan sedikit keinginan untuk bernegosiasi dengan diri sendiri.

Tempat ini mengajarkan begitu banyak hal kepada saya, terutama sekali mengenai romansa. Entah dikarenakan faktor lingkungan yang sunyi dan tepat untuk solitude, sehingga mau tak mau mendorong saya untuk jatuh cinta. Kepada tempat ini, maksudnya. 😉 Ditambah pula bintang bertaburan dan bulan yang menawan pada malam hari. Tidak lupa langit biru yang benar-benar biru yang dihiasi awan putih seadanya saja pada pagi hari. Begitupun siang yang terik dan penuh debu. Romansa tentang alam, bagi saya. Kemudian…

"Ini khusus untuk kamu."

"Thanks for today."

Romansa itu tidak selalu tentang pasangan. Romansa adalah tentang mutual love. It’s always exciting, you know.

Saya juga tidak tahu mengapa justru di tempat seperti inilah, timbul ketertarikan orang(-orang) lain akan bagian kasih-sayang dalam kehidupan yang saya jalani. Sudah saya katakan sejak awal, bukannya saya tidak ingin mengungkapkannya dengan gamblang, tetapi memang ada sesuatu yang menahan. Sesuatu yang tidak berdasar, memang. And when you give me a question about what is holding me back, then I will proudly give you an answer that it is no one but myself.

Entah ya, ini juga yang sedang saya koreksi dari diri sendiri. Tentang mengapa begitu sulit untuk mengungkapkan hal-hal terdalam kepada orang lain. Menurut saya, bukan hanya saya yang merasakan sesuatu seperti ini, pasti ada orang-orang lain juga. Hanya, saya selalu terganggu untuk menyempatkan waktu dan memikirkannya. Saya bukan orang yang bisa menghindar begitu saja dari masalah. Kadang-kadang malah timbul pemikiran betapa enaknya menjadi orang yang plegmatis.

Ada beberapa komentar bahwa saya ini hanya seorang gadis yang terlalu banyak pikiran, terutama sekali pikiran-pikiran yang membuat saya kelihatan bengong, bukan pikiran-pikiran teknis yang bisa dikerjakan. Ada beberapa yang menanggapi dengan serius bahwa ini perihal trust issues. Entah ya, tidak banyak orang yang bisa diajak berdiskusi dengan topik semacam ini sih. Biasanya, akan muncul solusi yang begitu teknis, yang memang bisa dipahami dengan nalar, tetapi tidak mencapai kedalaman emosi yang mencukupi.

Dan itu selalu tidak cukup. Atau tidak utuh lebih tepatnya.

.

Jadi, seperti demikianlah kebiasaan saya ketika ada sela-sela waktu untuk berpikir dan ketika saya tidak sedang tergoda untuk tidur. Dan saya juga tidak menyangka sama sekali bahwa MLTR ternyata cocok didengarkan kala hari hujan.

Minggu Pagi

Segelas teh vanila dengan perasan jeruk nipis. Sebungkus gabin gula kesukaan. Musik yang mengalun pelan. Hidupku bahagia ya.

Tidak, sayang… jangan sekedar melihat. Ada hal-hal lain yang dapat kamu lakukan selain melihat. Di dalam sini ada ketidakpuasan karena aku belum sanggup mengatakan segala hal yang sesungguhnya kepadamu. Segala yang tertahan, segala yang terkekang, segala yang terkendali. Entah mengapa… hanya itu yang bisa kukatakan. Padahal aku ingin… aku butuh untuk mengatakannya.

Kepada Tuhan aku meminta sejumput keberanian agar aku mengatakan kebenaran dan agar kamu menerimanya. Sayang, aku mengasihimu.