Mengakhiri 2014

Kejadian-kejadian pada umumnya, seperti dapat nilai bagus, berkenalan dengan orang baru, dimarahi, berantem dengan teman, patah hati, bla-bla-bla sudah biyasa wess. Makanya, yang ingin saya review secara singkat adalah apa saja kejadian-kejadian yang aneh sekali buat saya pribadi di 2014 (parameternya adalah saya masih dapat mengingat hal-hal ini sambil menggeleng-geleng kepala). Nah:

1. Diteriaki “Supaya cepet dapet bus, kamu ngaku Muslim aja!” oleh seorang kondektur bus pada suatu sore di terminal Kampung Rambutan, Juli lalu. Ya, nggak sering juga orang mengalami hal seperti ini, ‘kan? Langkah kaki saya sempat terhenti waktu itu. Sempat mau balik untuk bertanya, ‘Memang segitu mudahnya ya mengenali saya sebagai gadis Kristen?’; ‘Dan lebih mudah lagi ya menyuruh saya untuk mengaku-aku beragama lain demi naik bus?’. Nggak sempat ngajak kenalan bapak kondektur itu, sih, tapi yaaah saya mencari-cari waktu untuk ke sana lagi. Bukan untuk nyari bapaknya kayak termehek-mehek begitu, tapi karena sudah lama tidak berpetualang sendirian lagi -naik-turun bus umum sembarangan; jalan ketemu orang; diajak ngobrol seadanya; digenit-genitin mas-mas di jalan. Nggak takut, kok. Hah, sesama manusia ini. Meski demikian, akhir-akhir ini, di paruh kedua 2014 ini banyak sekali rasa tidak nyaman ketika berada di tengah-tengah orang lain, juga di ibu kota. Well, saya Kristen, saya Chinese, terus kenapa? Tidak masalah, bukan? Lagian, saya sudah lebih kalem dari pak Ahok, kok. Beliau itu cerminan saya waktu sekolah dulu. :p Pokoknya saya sudah nggak semelotot dulu lagi lha. :\ Lagian, Sil… kamu harus banyak senyum, supaya kalau kamu terdampar di terminal 3 SHIA dan pulang ke Karawaci naik Shuttle Bus, bisa-bisa ada pria sebaya dan seagama yang ngajak ngobrol soal BEP.

2. Menginjak Sumatera. Ya, ini satu impian yang puji Tuhan sudah menjadi kenyataan. Sekarang, Kalimantan dan Nusa Tenggara cenderung menjadi obsesi saya, tapi itu mungkin nanti saja. Apa? Luar negeri? Ah, Indonesia masih menjadi misi saya. Lagipula, saya bukan tipe orang yang suka jalan-jalan libur-libur refresh-refresh. Istirahat itu di rumah. Saya ke mana saja ya buat kerja melakukan sesuatu.

3. Kehilangan ATM Card. Sekali sepanjang kehidupan saya! Seharusnya saya tidak pernah kehilangan smartcard, HP, atau apapun. Kalau bolpoin, ya saya ikhlaskan saja, karena ada yang benar-benar lebih membutuhkan. Dan, well, kejadian ini menyusahkan. Sangat, I mean. Memang saya ini hanya sanggup untuk hubungan long-term.

4. Hampir pingsan. Hampir… hampir… ternyata rasanya pandangan mendadak gelap, kepala berat dan mual. 😦 Sesuatu yang sangat buruk dan tidak ingin saya rasakan lagi, meskipun tidak sempat menikmati pingsan yang sebenarnya. Well, I don’t know. I’m just that strong. :\ Sungguh saya ini sangat jarang sakit: merasakan demam dua tahun sekali sudah hebat mungkin? Pokoknya, saya ini anak sehat nan kuat, makanya ketika tepar mungkin hanya gara-gara kena hujan dan katanya saya terlalu capek, tapi nggak ngerasa, entah mengapa ada rasa malu yang sangat menyiksa.

.

Nah, kebalik, bukan? Buat orang lain, ini mungkin justru biasa. Buat saya, ini tidak. Untuk beberapa hal, seperti nomor 3 dan 4 yang terjadi sekaligus saat Desember 2014, saya harapkan tidak terulang lagi tahun berikutnya, sih.

Apa? Tentang makna post ini? Hanya sekedar coba-coba menjadi anak yang agak berlebihan dalam menilik tahun kehidupan 2014 miliknya sebagaimana efek dari kemungkinan kelebihan dosis gula saat akhir tahun. *melanglang buana mencari yakult*

***

Di ruang tamu, kami melepas canda tawa. Lama tidak jumpa katanya. Aku menatapnya dengan intens. Dia membalas dengan melakukan hal yang sama. Platonic love? Whatever you call it.

Tiba-tiba Ibu masuk, sepertinya dari dapur. Suasana pun terdiam.

“Kalian ini bahagia sekali ya…”

Tercengang, aku buru-buru bangkit berdiri dari sofa. Sementara pria yang tadi duduk selisih satu sofa denganku itu terduduk tegak di tempatnya.

“Ibu…” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Diam, sunyi.

“Ibu ini sayang sekali sama kamu, dek… tapi…” terhenti suaranya, berkaca-kaca matanya.

Aku mendekatinya, merentangkan kedua tanganku lebar-lebar, lalu memeluknya. Inginku erat, tetapi selalu ada batas yang tidak kelihatan, sesuatu yang bagiku sebenarnya sangat tidak perlu. Satu kebiasaanku, mengelus punggung orang yang kupeluk. Semoga kamu tenang… semoga kamu tenang…, begitulah mantraku.

“Ehm, kayaknya aku mau belanja nih. Ibu mau nitip apa? Atau Ibu mau nanti aku yang masak?” membelokkan pembicaraan, mencairkan suasana, apapun sebutannya, aku ingin lari.

Ia menyeka ujung matanya dengan anggun. Ia, kebanggaan dari seseorang yang penting bagiku, terpenting mungkin. Ia, yang seorang diri dan sekuat tenaga membesarkan lelaki itu sejak tahun-tahun yang lalu. Wanita kuat dan tegar. Memang belum terlalu lama aku dikenalkan padanya, tetapi beberapa pembicaraan yang sudah berlalu membuatku terkesima akan kehidupannya. Ya, dia pantas untuk dipuji.

Memahami maksud dari pertanyaanku untuk menghindari pembicaraan saat ini, ia kemudian berkata, “Ibu titip beli semangka ya…”. Akupun mengangguk.

“Tunggu, aku ambil kunci mobil dulu.” celetuk seorang yang sedari tadi diam saja sambil beranjak berdiri dari sofa.

“Eh, nggak usah. Ke minimarket dekat sini aja. Kalau aku sendiri juga nggak apa-apa, kok.”

Impulsif… ya, mungkin aku memang demikian. Ada jeda, sunyi sedikit sebelum pria itu melanjutkan dengan tenang, ramah dan tegas dalam nada suaranya.

“Kita naik mobil.”

Aku tidak menjawab. Ibu menepuk pundakku, memberi senyuman lewat sendu matanya, lalu kembali ke dalam. Cool family, I presume.

Akupun memakai sepatu dan menunggu di depan pintu. Merasa tidak enak jika harus naik kendaraan pribadi milik keluarganya, sementara selama ini masing-masing kami lebih suka naik kendaraan umum jika ingin saling bertemu. Satu sampai dua menit kemudian, ia keluar sambil menenteng jaket kulit dan serenceng kunci dengan gantungan bertuliskan Frankfurt berwarna hitam-merah-kuning. Ia berhenti sebentar di sampingku, membuatku menoleh dan mendongak ke arahnya, tepat pada saat ia menghunjamkan tatapan telak di mataku.

“Kita harus naik mobil, karena mungkin kamu akan menangis…” ucapnya, nyaris berbisik.

Aku hampir tersedak napasku sendiri. Tercekat melihatnya yang lalu berjalan ke arah mobil yang diparkir di depan rumah. Punggung itu, punggung yang kelihatan sepi dan sendiri. Punggung seseorang yang aku cintai.