Take A Deep Breath

Yah, memang. Bukankah memang manusia selalu mengeluh? Bukankah memang kita meratapi hari kelahiran kita?

Dan berbicara mengenai kesulitan, adalah selalu lebih sulit untuk melepaskan sesuatu yang sudah kita miliki. Harusnya diri sendiri paham akan hal itu. Nah, sesuatu yang tidak kita miliki seharusnya tidak perlu repot untuk dilepaskan, bahkan untuk dilupakan, bukan? Karena kita tidak pernah memilikinya.

Benar begitu, bukan? Iya, kali ini aku butuh validasi.

Kataku, nggak apa-apa sih, aku nggak sampai terikat atau dilanda sesuatu semacam itu, kok.

Pada dasarnya hanya aku yang sulit untuk melepaskan, bukan karena hal tersebut adalah sesuatu yang mengikat. Terhadap banyak hal pun aku seperti ini. Jauh…, jauh sebelum senandung nada dan lirik Idina Menzel dilantunkan, seorang dosen pernah mengomentari refleksi yang aku tuliskan bertahun lalu: “Kamu harus belajar untuk let go.”

Aku melakukannya, kok -belajar, maksudku.

Lalu untuk saat ini… memang, sih. Ada sedikit perasaan aneh yang sulit untuk dipahami, namun kuanggap wajar saja. Bukankah memang ada banyak hal yang tidak dapat kita mengerti? Bahwa misalnya ketika kita sedang berada dalam keramaian yang gembira, kita dapat saja merasa sedih secara mendadak, juga ketika hadir sebuah kesempatan singkat untuk menikmati kesendirian tanpa orang lain, justru menyenangkan dan tidak selalu menjadi masalah.

Saat-saat mulai tidak peduli dengan apa-apa yang terjadi adalah saat-saat untuk mulai memperbaiki segala sesuatu. Maksudku, aku tidak suka hal ini. Karena aku mulai kebingungan. Karena aku membenci diriku yang mulai naif berpikir bahwa di dunia ini hanya ada dua alternatif: kamu atau tidak ada sama sekali.

Seakan-akan setelah satu-dua kesusahan, maka hidup ini akan berakhir. Padahal, kalau memang hidup di dunia ini akan segera berakhir, memangnya kenapa? Bukankah itu lebih baik? Maka kita semua akan mengetahuinya: tentang adakah kehidupan sesudah kematian, tentang bertemu dengan Dia Sang Pemberi Izin bagi segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini.

Aku mungkin cengeng, meski tak sampai hati aku ingin menangis di hadapan siapapun. Saat ini… saat-saat seperti ini, ketika aku menyadari banyak hal salah, juga hal-hal yang seharusnya dapat kulakukan dengan lebih baik lagi, namun tidak kupedulikan. Aku tidak tahu bagaimana aku harus melihat esok dengan semua yang menarik-narik paksa dan kasar dari belakang. Aku memang bisa dan aku memang akan menghadapi esok apapun juga yang akan menantang, tapi tidak selalu seperti yang benar-benar ingin kulakukan. Buktinya adalah kemarin-kemarin yang terasa menyebalkan dan seringkali menahanku dari ungkapan syukur.

Kata seorang ibu konselor pada Selasa siang kemarin, aku terlalu menahan diri. Aku diam saja dan berusaha menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. Apakah terkadang seseorang baru menyadari dirinya sendiri tepat setelah seseorang menyatakan itu di depan dirinya? God, please tell me.

Advertisements

Filipi 4:10-13

Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

on Autarkeia.