Sedikit Bosan

Ya, saya tengah berada dalam rentang masa jenuh yang kira-kira dimulai sejak akhir Januari 2015 lalu. Memang saya hampir overdosis menghadapi Microsoft Office Word dengan nama file yang sama dan tumpukan buku dengan tema yang sama. Akhirnya saya pun membongkar folder-folder lama berisi film-film bajakan copy-an entah dari siapa dan kapan muncul di situ, lalu asyik menonton satu per satu.

Kemudian, karena bosan memandangi laptop terus-menerus, saya beralih ke telepon genggam dan mulai asyik mengutak-atik aplikasi di dalamnya, lalu mulai mengunduh banyak macam hal yang sebenarnya tidak baru, tetapi yang kemarin-kemarin tidak ingin saya unduh. Walhasil, saya mengaktifkan diri di beberapa aplikasi pembawa pesan dan juga di beberapa media sosial. Bukan keputusan yang benar-benar tepat sebenarnya, karena akhirnya banyak notifikasi yang justru datang dan menumpuk, tapi mungkin ini saatnya saya belajar secara praktis tentang bersosialisasi, sweet talk atau mengikuti wejangan teman sekamar saya di asrama: nikmati saja perhatian yang ada.

Kemudian saya menyadari, kapan terakhir kali saya benar-benar duduk dan memandangi layar televisi? Okelah bahwa laptop, telepon genggam dan televisi sama-sama memiliki layar, tapi maksud saya ini televisi lho… alias TV. Yang pakai antena dan remote, lalu ada banyak channel.

Oke, saya kembali menelusuri ingatan dan tersadar bahwa terakhir kali saya betul-betul duduk di depan layar TV adalah ketika pelantikan Kabinet Kerja 27 Oktober 2014 lalu. Itupun separuh jalan, karena tiba-tiba listriknya padam saat mesin pompa air dijalankan. Ya, waktu itu saya sedang berada di sebuah daerah yang tentu tidak senyaman lingkungan saya saat ini. Tapi itu sudah lewat.

Sesungguhnya saya menyadari bahwa adalah sebuah hal memalukan ketika saya tidak tahu tayangan apa yang hadir di TV saat ini, terutama sekali per-TV-an Indonesia.

Sempat tahun lalu saya bertanya apa itu GGS? Yang samar-samar saya ingat ketika lewat selintas di depan TV adalah ketika aduh siapa itu namanya berubah menjadi serigala di dekat pohon pisang, saudara-saudari. Saya terkikih sambil merinding, lalu cepat-cepat berlalu.

Kemudian, siapa itu Cita Citata? Barusan kurang dari 3 jam yang lalu saya baru membaca tentang doi dari sebuah koran online.

Begitupun setiap kali melewati TV, baik di ruang depan lantai 5 asrama saya, maupun di mall, maupun di warung-warung tepi jalan tempat orang nongkrong, saya menjadi terasing sendiri dan berkomentar, ‘oh, sekarang iklan pasta gigi itu begitu ya…’; ‘oh, tayangan gosip itu ada di channel yang itu…’. Atau saya bertanya-tanya, ‘itu sinetron apa? bagaimana ceritanya?’; ‘siapa aktor muda yang pakai eyeliner itu?’; ‘siapa yang nikah sama siapa? siapa yang selingkuh sama siapa?’; aduhhh, masih panjang.

Di sini saya tidak ingin menetapkan diri sebagai anti-mainstream atau bahkan yang disebut-sebut sebagai kudet. Saya membaca berita dari koran atau majalah, baik online ataupun cetakan. Setidaknya saya tahu bahwa BG tidak jadi dilantik dan digantikan BH atau bahwa ada kecelakaan Bus di Jakarta atau tentang keterlaluannya delay sebuah maskapai penerbangan. Coba tanyakan kepada sebagian besar orang yang anda temui di jalan, tidak banyak yang tahu, percayalah… *duh, kok malah terkesan nyombong, sih*

Memang betul bahwa TV, media cetak ataupun media sosial sama-sama menyediakan informasi, dan perihal selera siapa yang lebih suka menonton gambar bergerak sambil mendengarkan suara, membaca kata per kata dalam lembar kertas atau membaca tweet tentu tidak jadi soal. Fungsi para pemasok informasi ini pun luas, mulai dari bidang hiburan sampai pendidikan. Jadi, kalau ujung-ujungnya dikatakan berbeda genre pun, saya terima saja. Tapi saya juga menyadari bahwa genre informasi yang bertebaran ada baiknya seimbang, demi kesehatan mental pribadi. Jangan yang bikin dahi berkerut melulu dan jangan pula yang nggosip mlulu. Tenang saja, saya tahu kok gosip terbaru mancanegara saat ini: tentang Harry-Emma, ‘kan? Hayoo, sudah baca HP 8 belum?

Nah, sebenarnya kalau masing-masing dengan kehidupan masing-masing kan jadi oke. Situ ngurusin hidup situ, saya ngurusin hidup saya. Tapi, kata mama saya, ‘kalau kamu cuma mau mikirin diri sendiri terus, hidup aja di hutan sana’. Well, iya kalimat tersebut ditujukan kepada saya, kata demi kata.

Akan tetapi, sebagai gadis cool, saya tidak akan misuh-misuh apabila saya tidak terganggu secara langsung. Jadi, misalnya ada debat-debat di salah satu tanah kavling milik saya, seperti di daerah metropolitan facebook, barulah saya kadang harus turun tangan. Pertama, dengan sabar mengingatkan supaya jangan sampai mereka takabur dan mengeraskan hati *duileh*. Kedua, ya diamkan saja (biasanya karena orang-orang ini adalah orang-orang yang selalu ngeyel), kemudian unfollow, atau bahkan unfriend, apabila luar biasa keterlaluannya.

Bagaimanapun, media sosial adalah bagian dari media massa sebagai yang disebut cyber media (apa padanan bahasa Indonesianya? media siber? media dunia maya?), di samping media cetak (koran, majalah) dan media elektronik (televisi, radio). Perbedaan yang paling kelihatan terletak pada rentang waktu informasi sampai kepada konsumen atau biaya yang dikeluarkan. Oleh karena itulah, media sosial populer dan menurut saya menjadi peringkat pertama penyaluran informasi. Kedua, tentu saja TV. Alat elektronik nan apik ini menjangkau sekali masyarakat yang belum melek internet. Menurut mama saya, TV memang lebih menyenangkan dibandingkan radio. Nah, kalau media cetak ini yang susah. Sudah besar biayanya, informasi sampai kepada masyarakat pun tidak cepat-cepat amat. Perpustakaan kampus saya sih tiap rentang dua minggu mengupdate majalah tempo dan tiap sebulan sekali mendatangkan majalah chip terbaru. Kurang senang apa lagi diri saya ini? *kurang Animonster kayaknya*

Kalau berbicara tentang bias informasi ya bisa lebih panjang lagi. Akan tetapi, penekanan saya adalah bahwa perkembangan penyaluran informasi melalui berbagai media memang makin pesat. Apa-apa bisa diakses di mana-mana, bahkan meskipun kawasan Indonesia Timur mengeluhkan perbedaan tarif penggunaan internet dengan tempat-tempat lainnya, tetap saja dari hari ke hari informasi menjadi lebih ada.

Adanya informasi yang berlimpah ini merupakan pintu pertama bagi khayalak ramai. Selanjutnya informasi tersebut mestinya dicerna. Kemudian, informasi tersebut dapat pula diteruskan kepada yang lain. Nah, kalau informasi yang tidak ditelaah dengan baik kemudian di-sharing melalui media sesuka hati, saya pikir itu sesuatu yang gegabah sekali. Oya, saya tidak suka dengan argumen ‘semua tergantung masing-masing individu’. Buat saya, kalimat tersebut cukup malas mikir. Ada ‘sesuatu’ yang bisa dilakukan oleh setiap para pengguna media –membaca lengkap sambil mikir, maksud saya. Kalau memang nantinya berbeda pendapat tentang sebuah topik, itu benar-benar urusan panjang lain, tapi mbok ya itu, tolong sebelum membagikan informasi ya jangan baca judulnya saja. Tentunya ini ajaran penting buat anda dan juga bagi saya.

***

Jadi, bagaimana? Anda sudah makan malam? Sudah mendengarkan kira-kira 6 album MLTR sejak siang? Oh, hanya saya saja. Yaudah sih. Eh, besok Senin, tapi saya sih bimbingan hari Selasa. :p

The Man of My Dreams

Saya sedikit jenuh dengan tugas akhir dan sedang ingin menonton film.

Oh…,  ini bukan tentang fifty shades of grey. Tenang saja, saya jauh lebih jatuh cinta kepada Forrest Gump daripada Christian Grey. Tapi ini juga bukan tentang keduanya. Lebih-lebih lagi, tidak seperti judul yang saya tampilkan, ini bukan sepenuhnya tentang pria.

Ini tentang Liz Gilbert. Iya, Liz yang itu. Liz dalam Eat, Pray and Love. Membaca novel ini dalam dua bahasa, kemudian menonton film ini berulang kali belum juga membuat saya bosan. Yang paling saya ingat adalah ketika Ketut meramalkan bagaimana kehidupan Liz yang akan datang. Memang sih adegan-adegan ketika mereka berdua tampil adalah setiap detik yang selalu saya nantikan setiap kali menonton. Seperti ada sesuatu yang harus saya saksikan dan tidak boleh terlewati.

Sepotong adegan Ketut dengan perkataannya tentang nasib Liz senantiasa membuat saya teringat sebuah kejadian kala saya masih sekitar kelas 5 atau 6 SD dulu. Ada seorang kerabat yang sering datang ke rumah, bolehlah saya sebut si Paman. Suatu kali, Paman datang ke rumah dan ketika saya ikut duduk-duduk di ruang tamu bersama lainnya, beliau meminta saya memperlihatkan telapak tangan kanan saya. Beliau mengamati tangan mungil saya dengan serius. Seingat saya, beliau mengerutkan dahi dan sedikit menganggukkan kepala naik turun, kemudian berkomentar, “Jodohmu itu mungkin bukan orang yang sangat kaya, tetapi kepribadiannya luar biasa.

Saya masih ingat saat itu keluarga saya yang sedang berkumpul kemudian tertawa mendengar ocehan Paman. Saat-saat memikirkan perkataan beliau seperti sekarang ini, saya juga menganggap beliau hanya bercanda. Jika tidak, mungkin beliau sedang kemasukan sesuatu atau mungkin sedang mabuk. Yang pasti saya tidak menganggap beliau memiliki kemampuan lebih seperti itu. Sama halnya dengan horoskop yang sering saya tertawakan. Lagipula saya tidak percaya karma. Sayangnya, beliau sudah meninggal kira-kira saat saya SMA, sehingga saya tidak bisa menindaklanjuti perkataannya.

Berkaitan dengan perkataan beliau, sepengetahuan saya adalah bahwa setiap gadis memiliki seorang pria dambaan dalam alam bawah sadarnya. Lelaki juga mungkin demikian. Makanya pencarian Mr. dan Mrs. Right tidak pernah bosan dikumandangkan di mana-mana. Selanjutnya, kriteria yang disusun dan diungkapkan oleh masing-masing kita adalah puncak gunung es yang kelihatan, sementara apa-apa yang ada di bawahnya justru lebih besar dan lebih berpengaruh terhadap cara pandang kita terhadap Mr. dan Mrs. Right ini. Oleh karena itu, meski sering berkoar-koar untuk mencari pria parlente sebagai pasangan, seorang gadis tetap dapat jatuh cinta kepada pria yang penampilannya biasa-biasa saja. Atau juga meskipun seorang gadis sangat ingin mencintai seorang pria yang takut akan Tuhan, ya tiba-tiba saja ia malah menyadari bahwa ia telah terikat perasaan kepada seorang pria yang ehm, -bisa jadi- mengklaim dirinya ateis.

Benar.

Jatuh cinta itu bisa dikarenakan berbagai macam alasan. Kamu bisa jatuh cinta kepada seseorang karena penampilannya. Jelas, ini sangat memudahkan, sebab kamu akan sering sekali jatuh cinta seiring kamu membuka mata dan melihat banyaknya gadis cantik dan pria tampan di luar sana. Atau kamu bisa jatuh cinta kepada seseorang karena uang yang dimilikinya. Seperti kata sebuah meme bahwa jatuh cinta itu pakai perasaan, tapi untuk memeliharanya ya pakai penghasilan. Atau kamu juga bisa jatuh cinta kepada kepribadian yang dimilikinya, meskipun sebenarnya tidak perlu serumit itu, kok. Kamu bisa juga jatuh cinta kepada seseorang, hanya karena ia bisa main gitar atau karena ia memelihara anjing atau karena suaranya seperti malaikat atau karena tulisannya bagus. Yup, kamu bisa.

Yang namanya sulit jatuh cinta juga ada. Ini juga dapat dikarenakan bermacam-macam alasan. Bisa jadi, kamu sulit jatuh cinta karena ekspektasi yang kamu miliki tidak bertemu dengan kenyataan di sekitarmu. Atau malah karena power of solitude yang kamu miliki, sehingga kamu merasa enjoy dengan dirimu sendiri.

Jadi…,

jangan terlalu khawatir. Semua indah pada waktunya. Kamu bisa kok jatuh cinta lagi. Hahaha! *plak*

Kemudian, saya menyadari satu hal. Saya membandingkan bahwa pada hari Valentine tahun lalu saya memiliki hal-hal yang membuat saya teralih, sementara tahun ini saya melihat hari Valentine tiba-tiba menjadi sebuah kasus yang kurang lebih mirip seperti kasus mengucapkan selamat hari Natal kepada yang merayakan. Jadinya ya saya juga bingung sejak kapan hari kasih sayang diartikan sebagai hari pro free sex. Sejak kapan pula tingginya omzet para pengusaha bunga dan cokelat pada hari Valentine berarti semakin memperparah kebobrokan moral dan akidah bangsa?

Saya biasa saja memproklamirkan diri sebagai single dan tidak memiliki kencan yang gimanaaa gitu pada hari ini. Ada kalanya juga saya merasa sebal dengan beberapa orang yang hyper dengan penetapan tanggal 14 Februari ini sebagai hari kasih sayang, sehingga mereka kelebihan riuh dan heboh di mana-mana. Memang, memang saya lebih bisa bersyukur kalau setiap tahunnya tanggal ini dijadikan hari libur saja.

Di sisi yang lebih drastis, untuk beberapa orang yang akhirnya tersakiti hanya karena terintimidasi dengan orang-orang yang sumringah pada hari ini, saya pikir itu sesuatu yang rendah diri sekali. Padahal, berbahagia bersama mereka-mereka yang berbahagia pada hari ini juga tidaklah merupakan sesuatu yang tidak baik, bukan? Kalau kamu merasa sengsara karena kamu single, saya bisa pastikan bahwa kamu bukan hanya merasa sengsara pada hari ini, tetapi juga pada hari-hari lainnya. Jadi, enjoy your days ya. 🙂