Today’s Knot

Kupikir sebenarnya dia kesepian, karena semua anak, kecuali dirinya, akan menjadi dewasa…

.

Ya, begitulah Peter. Peter yang entah mengapa-aku tidak benar-benar tahu alasan di balik ketidakmauan anak lelaki itu untuk menjadi dewasa. Cerita tentangnya akan selalu mengingatkan kepolosan masa kanak-kanak dan bahwa menjadi orang dewasa sebenarnya penuh pertanggungjawaban.

.

Apa ya… aku sebenarnya membenci saat-saat seperti ini. Seolah-olah ada tekanan, padahal bagi orang lain tidak ada. Aku seperti dikatai, “Nggak usah buat masalah yang nggak ada, deh.” atau “Nggak usah bikin susah suatu hal yang nggak susah, deh.”. Jadinya tidak nyaman dan ada sakitnya.

Atau mungkin aku hanya membenci kelakuan orang-orang -yang katanya- dewasa yang nyatanya egois dan mementingkan diri sendiri, sampai tidak peduli lagi terhadap orang lain.

Atau karena aku mulai merasakannya, ketakutan untuk mengatakan kebenaran karena tertahan oleh nilai yang akan kudapatkan, ketakutan akan sebuah penghargaan yang akan hilang begitu saja. Karena mempertahankan sesuatu yang kutahu itu benar. Oh, ya ampun… ini bahkan bukan masalah apakah Tuhan ada atau tidak. Ini bahkan hanya sekadar masalah 1+1=2 atau bukan. Parameternya ada, hukumnya ada. Dan alasan yang tertolak dengan “Udah, ikuti saja kata saya.” sudah cukup untuk membuat diri sendiri hampir muak.

.

Tunggu, sabar… tarik napas…

.

Tapi ini memalukan bahwa ketika aku disuruh melakukan hal yang salah, sekalipun aku tahu pasti kebenaran yang harus kulakukan, karena koar-koar seenaknya, “Udah, kamu ikutin aja. Demi nilai ini, kok.”. Atau demi uang atau demi penghargaan atau demi kuasa. Well, aku sungguh tidak ingin memaki di sini.

.

Ya, sejak awal aku tidak pernah ingin menyenangkan orang lain. Pada saat yang sama, aku juga tidak merasa perlu akan hal-hal seputar pujian itu. Apa? Kepentingan? Sebegitu pentingkah yang namanya kepentingan itu? Milik diri sendiri? Milik atasan? Milik orang yang katanya memiliki peranan atau kuasa atau apapun itu. Sampai sebegitukah rasa haus akan dihormati sehingga manusia harus menguasai manusia lainnya? Tenang saja, aku tidak ingin membenci. Aku juga tidak ingin dibenci. Aku hanya tidak dapat menemukan kata-kata yang baik untuk mengungkapkan semua ini. Bahwa yang dapat kulakukan akhirnya adalah mengeluarkan keluhan-keluhan yang memperburuk keadaan. Bahwa aku tidak begitu pandai untuk terdengar manis pada saat-saat seperti ini. Tidak seperti mereka…

.

Ya, begitulah… melihat ke belakang, sudah begitu banyak kesempatan yang lebih baik dan yang kulepaskan begitu saja. Tidak masalah. Kali ini akan kulakukan juga, demi satu hal benar yang aku tahu. Mungkin nanti aku bisa cerita kepada generasi masa depan bahwa aku melakukan hal ini, bahwa setelah pahit yang teramat kali ini, rasa bangga yang manis di hadapan mereka akan mengobati segalanya. Semoga. Karena aku tahu bahwa aku tidak takut. Karena aku tahu bahwa yang tidak kuinginkan adalah kebencian terhadap orang lain.

.

.

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa sebenarnya mungkin aku bisa sedikit mengerti perasaan Peter.

Advertisements

10 Maret

Hari ini pada tiga tahun yang lalu, seorang perempuan berusaha setengah mati untuk berhenti pada sebuah titik.

.

Perempuan itu tentu masih teringat akan rasa ragunya untuk melangkah maju.
Ia memang begitu, melihat ke belakang terkadang menjadi kesukaannya. Beberapa dengan kekecewaan, beberapa dengan kegelisahan, beberapa dengan kegalauan, beberapa juga dengan kemarahan…, tapi namanya bukan Sally.

.

Perempuan itu tentu masih teringat pula akan rasa bimbangnya saat menatap layar telepon genggam kala itu. Menimang-nimang keputusan untuk mengirimkan doa dan ucapan selamat. Padahal, ia adalah seorang gadis belasan tahun yang biasanya cepat sekali mengambil keputusan. Ya adalah ya. Tidak adalah tidak. Yes, she is decisive by nature.

.

Namun, ternyata ada hal-hal yang tidak selalu bisa dilogikakan dengan skala seperti itu. Belakangan ia sadar penuh akan hal tersebut.

.

.

Setelah lari pagi pada Sabtu yang cukup cerah itu, ia menarik napas. Di sampingnya ada seorang kakak perempuan yang memiliki tanggal istimewa yang sama dengan tanggal hari itu. Memberi satu-dua nasihat. Mendorong satu-dua senyuman. Sampai jemari itu mengetikkan huruf-huruf yang sebisa mungkin menyembunyikan semua perasaannya. Hanya untuk sekedar kata-kata biasa dari seorang teman yang juga biasa. Tekan tombol ‘kirim’, selesai sudah.

.

.

Hari itu belum ada perubahan yang begitu berarti sebenarnya. Akan tetapi, hari itu muncul sedikit dorongan yang benar-benar memacunya untuk melangkah ke titik selanjutnya. Sebuah revolusi yang agak kasar bagi perempuan itu. Namun dengan segala pembenaran, ia menganggap segala sesuatu yang ia lakukan sebagai keputusan yang paling tepat yang dapat diambilnya. Baginya, hidup itu bukan cuma pilihan, tetapi lebih kepada keputusan. Make it now. Meskipun nantinya harus meminta maaf, meskipun nantinya takut meminta maaf…

.

Lalu sambil mengamati sebuah gambar dengan kata-kata mutiara entah-dari-mana, kemudian ia berbisik, “Everything leaves a mark. Sorry to leave you a bad one.”. Padahal, angin yang lewat tidak akan pernah menyampaikan satu pesanpun. Tidak. Tidak ada satu silabelpun yang akan pernah tiba tanpa dirinya sendiri yang mengantarkannya.

.

.

.

Kini, kata perempuan itu, dia bahagia. Setelah melangkah kepada titik yang lain, namun masih tersandung juga. Lalu, dengan sedikit tertawa getir tanda mengejek diri sendiri, ia bercanda, “Bukankah cinta mesti jatuh?”. Dan ia pikir ia hanya membutuhkan waktu untuk diam sejenak. Atau mungkin akan berlama-lama.

.

“…nanti akan ada waktu untuk berdiri lagi, kok.” lanjutnya lagi.

.

Untuk yang tidak ia lanjutkan, ia bergumam dalam diam. mungkin sendiri, mungkin juga dibantu seorang lain, pokoknya bisa!

.

.

Kemudian, pada tanggal yang sama saat tiga tahun kemudian, perempuan itu menyadari bahwa banyak hal telah berubah. Orang-orang menjadi lebih tua, orang-orang muda bermunculan. Orang-orang menjadi lebih kaya, orang-orang menjadi lebih melarat. Orang-orang menjadi lebih bahagia, orang-orang menjadi lebih bermuram durja. Rotasi bumi juga tidak peduli sebenarnya.

.

Menarik napas, menatap layar telepon genggam, lalu melihat foto dua orang belia yang cocok satu sama lain di hadapannya, lalu Ia menarik napas sekali lagi. Kemudian mengurungkan segala kehendak untuk mengetikkan kata. Ada banyak kesibukan untuk dikaryakan. Bahkan menyempatkan diri untuk menulis isi hati sesungguhnya adalah pembuangan waktu. Akan tetapi, menurutnya sebaiknya tetap dilakukan kala ingin -membicarakan orang-orang dan keadaan dengan cara yang paling tepat yang dapat ia lakukan selagi tidak mampu dan tidak mau membuka suara.

.

Kemudian, bagi perempuan itu, tanggal ini masih akan dikenang. Mungkin akan sampai beberapa atau beberapa puluh tahun mendatang. Tanggal yang menelusup dalam ingatan seakan diberi warna stabilo, sejak masih seragam putih-abu sampai cukup sudah baginya setelah pesan singkat Sabtu pagi kala itu. Semoga si penerima sms tidak membaca post ini. Sungguh.