A Reminder

Because the bitter taste of incorrect decision lingers longer than the memory of correct decision.

-50 Great Myths of Popular Psychology: Shattering Widespread Misconceptions about Human Behavior (hal. 89)

Advertisements

Setelah Roller Coaster

Ada banyak macam label bagi seseorang dalam dunia ini, mulai dari yang terbaik sampai kepada yang terburuk. Salah satunya dapat mengatakan seseorang terlalu sering bersikap serius dan katanya sih kurang bisa having fun. Padahal having fun bagi setiap orang bisa jadi berbeda-beda.

Misalnya beberapa orang lebih menyukai kegiatan outdoor dan senang sekali pergi sana-sini, wara-wiri, dan melakukan segala macam kegiatan sampai -sekiranya- berkeringat dan -sekiranya- melegakan, karena meluapkan emosi, kata mereka.

Ada pula orang yang memilih menghabiskan waktunya dengan cara duduk di perpustakaan berjam-jam meskipun dia hanya sibuk memilih-milih buku yang akan ia pinjam untuk dibawa pulang.

Beda itu nyata. Jelas.

Apalagi tentang hubungan. Beberapa mendefinisikan having fun sebagai setiap hal yang dapat dilakukan bersama, termasuk berpikir keras menyelesaikan apapun masalah yang muncul. Beberapa mengumandangkan having fun sebagai swinger, atau minimal punya cadangan.

Terserah sih. Laki-laki maupun perempuan sama saja. Kebanyakan mereka tidak dapat dipercaya. Manusia memang terlalu sering mendiskreditkan satu sama lain. Kamu memandang rendah saya dan saya memandang rendah kamu.

***

“Kamu tuh nggak cocok sama dia..,”
“Nggak cocok?”
“Okelah kalian punya banyak hal yang sama, sekaligus hal yang beda, tapi..,”
“Maksudnya nggak cocok?” untuk kedua kalinya, aku memotong perkataannya.
“Dia itu rajin sholat dan kamu pernah belajar teologi. Aku bahkan nggak habis pikir…,” kali ini dia yang tidak meneruskan ucapannya. Aku sendiri hanya terdiam.
“Bukannya justru malah cocok ya…” cengirku akhirnya disambut pelototan.
“Kamu tahu sendirilah,” dia mengedikkan bahu. Lanjutnya kemudian, “Lagipula memangnya sedekat apa sih kamu sama dia?”
Pertanyaan macam ini lagi. Nada menggantung setelah kata memangnya. Bukan nada yang kusukai sebenarnya.
“Kalau dibandingkan dengan yang lain sih, dia yang paling dekat.” ujarku, the cool me as usual.
“Apa itu bukan perasaanmu saja? Wong kalian jarang ketemu.”
Ujian semacam ini sudah terlalu sering kuhadapi. Tantangan ‘he’s out of my league’ atau ‘he’s just not that into me’.
“Bertemu itu bukan hanya karena masalah waktu atau jarak atau kesempatan. Bertemu atau tidak bertemu itu adalah tentang hasrat. Keinginan untuk bertemu. Dan saat ini sayangnya tidak ada.”
“Siapa?”
“Aku.”
Hening seketika, diikuti kerutan dahi seseorang di hadapanku. Dalam hitungan satu, dua.., tiga…, empat…., lima!
“Kamu tuh memang begitu. Nggak pernah mau cerita!” serunya belakangan.
“Lho, ini aku cerita…” aku membantah.
“Jawabnya jangan pendek begitu kenapa.” protesnya.
“Wong kamu nanyanya cuma siapa gitu, kok.” kilahku sengit.
Sekitar satu menit kami saling diam. Aku pikir aku sudah menang, seperti dalam pembicaraan-bagaikan-debat seperti biasanya. Tanpa kuduga, tiba–tiba saja terdengar suaranya lagi,
“Kamu benar-benar sudah nggak ada apa-apa kan sama dia?”
Mungkin halusinasi, tapi aku merasakan pukulan di kepala bagian belakang. Sesaat teringat dulu ada seorang anak autis yang diajak jalan-jalan keluarganya ke carrefour dan entah mengapa ia melempar buah tomat ke kepalaku di depan para pengunjung lainnya. Sakit, malu, apalah.
“Ya, memangnya ada apa di antara kami..,” aku tersadar kemudian.
“Semoga perasaan kamu tinggal milik kamu saja. Dia udah mau nikah sama yang lain kali ya…” ada nada cela di situ.
Di situlah rasa mual yang tadi sempat ada kini kembali dengan hebat. Tidak pernah ada inginku menangis di hadapan orang lain. Karena yang aku tahu adalah ketika aku duduk dan menangis bahkan di tepi sungai Piedra pun belum tentu ada yang akan datang. Barangkali pula itu salahku yang tidak meminta seseorang untuk datang. Tapi aku tidak peduli. Karena aku tidak butuh.

Apalagi sekadar takut jika seseorang yang aku kasihi justru mengasihi orang lain. Sudah banyak kasus ditinggal nikah yang aku lihat dan meski aku tidak tahu ke depannya dengan problematika seperti ini, aku tidak bisa berkomentar apa-apa selain menahan diri dan berusaha untuk tidak muntah. Bahkan dua orang yang sudah dekat selama empat tahun dapat mendadak berpisah. Dan dalam waktu singkat sebentar saja salah satunya sudah mampu untuk mendapatkan orang yang langsung dibawa ke pelaminan.

Bukannya aku ingin seperti itu sih, tapi itu adalah kenyataan dalam bentuk pengalaman orang lain. Ya, pengalaman orang lain, sesuatu yang masih berada dalam taraf bisa-tidak bisa untuk terwujud dalam kehidupan diri sendiri. Jadi, aku tidak bisa bilang aku takut sama halnya seperti aku tidak bisa bilang bahwa aku tidak takut.

Kadang merasa butuh persiapan, tapi bagaimana? Siapa yang akan mengajarkan? Waktu? Oh.

Kadang merasa bodoh, karena ini bukan apa-apa. Malah bisa jadi saat ini, segala sesuatu hanyalah bertepuk sebelah tangan. Bukankah itu biasa? Yang lain malah mudah sekali mendapatkan yang lain, mengapa justru merepotkan diri sendiri?

“Kamu hanya berusaha bersikap rasional, Sil. Nice try, btw.”

Antara ketulusan dan cemooh. Beda tipis, meski mungkin akulah yang cenderung negatif. Mungkin juga memang begitu.

“Sudahlah. Doakan saja.”

Bukankah doa mengubah segala sesuatu? Ya, setidaknya untuk diri sendiri, untuk perasaan diri sendiri.

***

Malamnya, aku menelusuri hal-hal yang berlalu dan menemukan sebuah catatan pendek dari Juli tahun 2010 lalu. Masih tersimpan di sela-sela Alkitab, meskipun seringnya tidak lagi dipedulikan dan hanya menjadi selembar kertas sobekan lusuh dari sebuah renungan harian.

Judulnya adalah Cinta.

Tuhan...
Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah aku
bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama
Yang Tak Pernah Berakhir

Tuhan...
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku
kepada yang rindu Cinta Sejati-Mu
Agar kerinduanku terhadap-Mu
semakin menjadi

Tuhan...
Jika aku hendak mencintai seseorang
Temukanlah aku
dengan orang yang mencintai-Mu
Agar bertambah kuat cintaku pada-Mu

Tuhan...
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Tuhan...
Ketika aku berucap ‘aku cinta padamu’
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya
tertaut pada-Mu
Agar aku tak jatuh dalam
Cinta yang bukan karena-Mu

Segala sesuatu adalah tentang percaya. Itulah yang kuketahui, itulah yang kuamati, itulah yang kujalani. Bukankah orang lain juga begitu?

Iya? Tidak? Sudahlah.

Untuk malam ini saja, aku ingin mengeluh, sesuatu yang aku benci sekali dari diriku sendiri maupun dari orang lain. Bolehkan aku ya… untuk malam ini saja.

Aku capek.

***