Sebuah Cerita: Chicks, Chat, Capital, Cactus, and Chance

Tentang cerita, yang kadang terlihat tidak begitu nyata.

***

Hari Senin. Kami berjanji untuk bertemu di sebuah mal pada jam istirahat makan siangnya. Jam tanganku menunjukkan pukul 11.29 siang ketika aku tiba di sana. Melewati jalan-jalan Jakarta yang panas pada siang hari tentu bukanlah hal yang menyenangkan, meskipun telah menggunakan bus yang nyaman, meskipun sebenarnya tidak mengalami dan hanya sekadar mengamati kesusahan orang-orang di bawah teriknya mentari.

Seperti biasa, aku langsung ke toilet ketika tiba di tempat tujuan. Setelah itu, aku mengecek telepon genggam. Ada beberapa pesan whatsapp yang masuk. Aku tidak bisa bohong bahwa kemudahan teknologi memang membantu. Semenjak mulai sedikit bolak-balik media sosial dikarenakan kebutuhan berkoneksi dan mendapatkan informasi sepanjang semester ini, jadinya aku merasa terlalu perlu untuk membawa telepon genggam ke mana-mana agar tidak ketinggalan berita. Terutama sekali informasi mendadak yang membutuhkan respons cepat. Aku tidak suka hal-hal seperti itu. Pada dasarnya aku tidak atau mungkin belum sefleksibel itu. Sama halnya dengan ketidaksukaanku ketika aku diperlakukan seperti orang yang selalu diperlu untuk dicari-cari.

Salah satu pesan datang dari orang yang berjanji untuk menemuiku. Aku cukup mengerutkan dahi ketika membaca tiap kata yang tertera di sana.

Dia: [Aku jmput di valet parking. Honda jazz putih. Klo udh sampe, ksh kabar. Aku otw sih.]

Memangnya kami bukan ketemu di sini ya, aku bertanya-tanya.

Saya: [Aku udah di lobi utama. Memangnya mau ke mana entar?]

Aku menunggu sebentar sambil melihat-lihat beberapa pesan lain secara asal tanpa membaca isinya. Alasan aku mengacuhkan beberapa pesan tersebut? Sederhana. Karena aku tidak suka dan karena bagiku biasanya tidak penting. Demikianlah pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti kamu sudah makan pagi siang malam subuh senja petang adalah pertanyaan-pertanyaan menyebalkan yang tidak kusukai berada di mesin penerima pesanku. Baik itu dari mama, baik itu dari teman perempuan, baik itu dari orang-orang lain. Tenang, akan tetap kubalas, kok. Tapi nanti.

Sesaat kemudian, ada pesan yang masuk lagi.

Dia: [Valet parking. Aku udh masuk.]

Aku melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Celingak-celinguk melihat kendaraan yang berseliweran. Duh, sebenarnya aku sulit sekali membedakan beberapa jenis mobil. Mana aku juga belum tanya nomor plat mobilnya. Tiba-tiba di depanku muncul mobil mini berwarna putih. Benar, itu beliau.

“Ada yang beda…” sambutnya dari kursi pengendara sesaat setelah aku membuka pintu Honda Jazz tersebut dan melongok ke dalam.

“Apa?” tanyaku.

‘Mukamu jerawatan…”

Aku memberikan cengiran sambil pura-pura menunjukkan rasa sebal. Kemudian, masuk ke dalam mobil dan duduk seraya menggerutu, “Yah, mau gimana lagi… semester ini banyak macam-macam sih.”

“Tertekan? Stress?” dia menjalankan mobil keluar dari area mal.

Aku tertawa tanpa merasa perlu menjawab pertanyaannya.

“Eh, pasang seat belt.” perintahnya.

Aku memandangnya sebentar, lalu mengaitkan seat belt.

“Tumben. Dulu juga ugal-ugalan nggak pernah ngerasa perlu seat belt.” aku menyindir sopirku sejak masa SMA ini.

“Udah. Pakai aja.” jawabnya singkat, merasa tersindir.

“Memangnya kita bakal pergi jauh?” tanyaku lagi.

“Ke Mal X.”

“Hah? Ngapain? Yaelah dari mal ke mal doang ini. Apanya yang beda sih?”

“Udah, temenin aja. Gue pengen makan sesuatu di sana. Nggak ada di mal tadi.”

Kami terdiam sebentar. Dia tahu betapa aku sering memprotes perjalanan dari mal ke mal yang senantiasa diusulkan teman-teman lamaku. Ya, bagiku isi satu mal dengan mal lainnya sebenarnya hampir tidak jauh beda.

“Eh, memangnya kamu istirahat sampai jam berapa?” aku melirik jam tangan, hampir pukul 12.

“Udah, ngikut jalan aja kenapa sih. Banyak nanya! Makanya jangan sibuk baca buku melulu, jalan-jalan dong.” sindirnya balik. Jelas aku mencibir, tapi lalu diam saja.

Aku belum memperkenalkan beliau ya. Dia… atau sebut saja ‘beliau’ adalah seseorang yang sering mengingatkan aku kepada Julia Roberts dalam Notting Hill. Mungkin garis wajah dan model rambutnya sih. Ah, saya memang memiliki tendensi ekstrim untuk selalu dan selalu memuja Mrs. Roberts. Dan oh iya, seseorang yang menemani saya untuk makan siang memang seorang perempuan. Lah terus memangnya kenapa kalau dia perempuan? Ah sudahlah. Lagipula saya juga suka Hugh Grant.

***

Sesampainya di mal X, Honda Jazz miliknya diparkir di parkiran teratas, lalu kami turun dan ternyata… beliau sedang ingin makan es krim! Iya sih siangnya Jakarta memang panas ampun-ampunan, tapi nggak juga berarti harus mengubah menu makan siang dari nasi menjadi es krim.

“Kalau kamu mau makan yang lain, ya makan aja…” begitu komentar remehnya berbunyi ketika saya lagi-lagi sedikit mengomel.

Menemani orang seperti ini biasanya membuat rasa lapar tergantikan kenyang yang mendadak. Kami pun duduk dan ia memesan es krim rasa cokelat dan stroberi, lalu dua jenis snack untuk kami berdua.

Aku memang benar-benar sudah merasa kenyang, ketika tiba-tiba ia bertanya, “Terus, bagaimana kisah cintamu? Masih di situ-situ aja?”

Tawa getir adalah satu-satunya jawaban spontan yang dapat kuberikan.

Ya, dia cukup tahu tentang perjalanan romantika bla-bla-bla yang aku jalani sejak pertama kali. *kayak udah banyak dan sering aja* Mau bagaimana lagi, beliau adalah satu dari sedikit orang yang benar-benar aku hormati sepanjang aku mengenalnya sejak masih awal belasan tahun. Usianya sendiri hampir mencapai tiga dekade.

“Aduh, kayak nggak ada topik lain aja. Yang lain kek, kayak gimana keadaan keluarga atau gimana rencana masa depan karir nantinya…” jawabku mencoba terlihat kesal.

Ia tertawa anggun.

“Ya aku kan nanya. Tinggal dijawab aja susah banget sih.”

“Ya memang nggak ada jawaban.”

“Kamu cukup lama dengan si dia ini ya. Kamu tuh memang nggak boleh kagum sama cowok manapun. Dia. Hmm… 2008 ya. Kamu dengan yang lain, lalu 2011 dia muncul kembali. Dasar drama!” seruannya membuatku menoleh sambil mendelik, tidak suka dibilang drama, karena memang tidak ada drama. Yang ada hanya keputusan. Dan bagiku, titik adalah titik. Silakan lanjut dengan kalimat lain atau paragraf baru, tapi harus ada titik dulu.

“Nanti juga kamu akan tahu alasan Papa tidak mengizinkan Juliet bersama Romeo. Setiap hal yang berbeda bukanlah sekedar perbedaan ekonomi. Yaelah, kalau cuma segitu mah, Juliet yang pintar pasti bisa lebih sukses dibandingkan Romeo. Tapi, bisa jadi Romeo akan menyakiti Juliet dan Papa tahu itu. Makanya Papa mati-matian tidak menginginkan hubungan antara keduanya.” lanjutnya berusaha terdengar sekalem mungkin.

Aku diam saja, merasa terlalu tahu atau sok tahu dengan segala macam pengetahuan seperti itu. Lagipula aku tahu ia hanya ingin menenangkan aku atau mungkin juga untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Kamu sendiri bagaimana? Masih single, kan?” aku mengalihkan pembicaraan.

“Menurutmu piye?” gelaknya merasa geli.

“Delapan-sembilan tahun… memangnya nggak ada orang lain lagi apa?” tanyaku spontan, meninggalkan sedikit pahit di lidah sendiri.

“Tanya dirimu juga.” jawabnya pula dengan sinis, menyebabkan pahit yang lebih lagi.

Kami terdiam sebentar. Masing-masing dengan pemikiran sendiri. Lalu datanglah pesanan kami satu per satu.

***

Kami bercerita tentang masa-masa kami tidak berjumpa. Tentang teman-teman bersama yang sudah lama tidak kami temui. Tentang hal-hal lucu yang dulu kami lakukan. Tentang dirinya dan pekerjaan yang membuatnya lebih mapan lagi dibandingkan saat awal dulu kami bertemu. Tentang aku yang selalu menjadi yang termuda sejak dulu.

Kami bercerita tentang diri masing-masing yang terlalu mirip satu dengan yang lain. Kisahnya bertahun-tahun yang mengikatnya. Kisahku bertahun-tahun yang mengikatku.

Nostalgia.

Ada sesuatu yang indah dalam sebuah ikatan persahabatan pada saat berbagi pengalaman yang sama dan berbagi perasaan yang sama pula terhadap pengalaman tersebut.

***

“Satu saran: jangan mengencani pria yang dari kepala sampai kaki memakai Pierre Cardin. You’ll get tired, darling.” dia tertawa terbahak-bahak dan aku mengikuti tawa cerianya.

“Hahaha! Mbak, jangan curhat dong. Lagian mana ada gentleman mau sama anak-anak yang ke mana-mana masih naik bus.”

“Biarpun begitu, kamu kan gadis yang punya determinasi dalam hidup.” katanya sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Ah, kata-kata itu lagi.

“Ah sudahlah.”

“Kamu mau cerita tentang waktu kamu mengikuti career counseling waktu itu?”

“Hmm… kan aku udah pernah cerita.”

“Ah, kurang jelas waktu itu. Kan cuma lewat whatsapp doang. Cerita lagi dong, itu lho yang pas ditanya kamu mau nikah apa nggak…” paksanya.

Aku terkekeh sendiri mendengar kalimat terakhirnya.

“Ya, ya… waktu itu aku dan si Ibu konselor kan membahas hasil TJTA dan MMPI. Katanya aku ini terlalu menahan diri. Lalu beliau sedikit mengomel gara-gara rate Expressive-Responsive-ku rendah sekali. Pokoknya beliau menunjuk-nunjuk hasil tes milikku dengan cukup geregetan. Beliau menekankan bahwa aku terlalu quiet, terlalu dominant, juga terlalu hostile, meskipun belakangan dia bilang aku cukup simpatik, objektif, dan disiplin. Kemudian beliau bilang, ‘kamu mau nikah atau nggak nantinya’. Waktu itu aku hanya mengangguk pelan sambil senyum nggak jelas, soalnya ya mau bilang apa saat ditanya mendadak begitu…”

Beliau memasang senyum iseng sambil menungguku melanjutkan cerita lagi. Akupun menghela napas panjang.

“Aku bilang saja bahwa memang aku merasa lebih mampu bekerja dengan barang, dengan alat, dengan berkas-berkas, dengan data, apapunlah dibandingkan dengan orang-orang. Eh, kalimat begitu malah jadi bumerang, soalnya tiba-tiba beliau mengetuk meja dengan bolpoin dan ngomong agak keras ‘nah, justru itu! gimana kamu mau nikah kalau kamu nggak berubah’. Ya jelas aku kaget dong.”

Perempuan di hadapanku berusaha menahan gelegar tawanya, tapi ia cukup cekikikan sampai memukul-mukul meja.

“Kita ini memang nggak cocok dengan banyak orang ya.”

“Kata-kata itu keluar dari mulut seorang pemimpin?” aku mengerutkan dahi tanda tak percaya.

“Lalu? Memangnya untuk memimpin, jadinya kita harus baik ke semua orang? Sebenarnya asal kamu jujur dan punya integritas dalam perkataan dan perbuatan, mereka jadinya nggak bakal banyak membantah apalagi kurang ajar. Banyak hal yang aku nggak suka dari orang-orang di tempatku, tapi kupikir kami tetap bisa get along as professionals. Toh masalah sebagian besar orang sebenarnya cuma soal duit.”

Then, bagaimana caranya berhadapan dengan orang-orang itu?”

“Mudah. Kamu kerjakan bagian kamu. Dengan beberapa tips tambahan sih: jangan pernah menceritakan semua hal tentang mereka di belakang sekalipun mereka sudah dan sering menceritakan semua hal tentang kamu di belakangmu. Positive or negative, whatever. Plus, belajar menerima bahwa pendapat kamu tidak selalu bisa diterima, sekalipun itu adalah sebuah breakthrough atau sebenarnya sangat helpful. Voting itu hanya masalah gampang tahu. Dan kalau kamu kalah hanya gara-gara voting, itu bahkan nggak berarti apa-apa. Kebanyakan voting juga sebenarnya kan hanya untuk hura-hura, padahal hasil yang keluar tidak selalu cocok dan sukses untuk diterapkan.”

Mendengarnya, aku bahkan tidak tahu harus memberi komentar seperti apa.

Ya, well, I know most of tips in relationships, especially in dating. Sense of humor, which couples need, seriousness which can come later in small doses. I know it. But as usual, I’m not really good when it comes to practicality. Or maybe it isn’t my forte. Being with people, I mean.

***

“Memangnya kamu yakin kita nggak akan ketemu lagi?” tanyanya setelah aku berjanji akan mengirimkan kaktus.

“Memangnya mbak yakin kita bakal ketemu lagi?”

“Hei, kamu cuma ingin memenuhi egomu untuk berkeliling Indonesia, which is kalau kamu ke mana-mana harus lewat Jakarta. Bahkan kalau kamu keliling dunia pun, kita tetep bisa ketemu. Bahkan kalau kamu mau ke luar angkasa pun, kamu masih berada dalam semesta ini.” cerocosnya.

“Aih, sok romantis ah.”

Dia tertawa sambil memeletkan lidah. Ya, wanita berusia hampir tiga dekade yang memeletkan lidah. Bukan klasifikasi negatif kok, hanya jarang kulihat saja. Hmm, lebih tepatnya baru kali ini pernah kulihat, sih.

“Ada waktu untuk bertemu, ada waktu untuk berpisah, bukan?” aku mengedipkan mata.

Ia menghentikan mobilnya tidak jauh dari belakang bus, lalu berbalik ke arahku. Diam sedetik-dua detik.

“Iyaa… kaktusnya harus yang seger ya. Sini-sini, tante peluk.” ia mencoba berguyon.

“Mana ada kaktus yang seger?!” aku tertawa sambil balik memeluknya.

Kaktus… lambang perpisahan bagiku. Sejak dulu dan sampai saat ini.

Seraya mengakhiri pelukan, ia berkata, “Orang bilang bahwa perpisahan paling menyedihkan adalah kematian. Namun… bukankah ketiadaan rasa ingin bertemu lebih menyakitkan?”

…kalimat itu adalah kalimatku bertahun yang lalu.

“Ya, kadang… kita tidak bisa bertemu karena kita tidak ingin.” tegasku pelan menahan rasa berat yang muncul tiba-tiba saat aku menarik napas.

“Bisa juga… karena kita menahan keinginan itu.” ia mengoreksi.

I’m not in my period to get overwhelmed by emotional matters. That’s why I turn my face to look the other way.

***

Sambil menunggu jam keberangkatan yang masih sekitar tujuh menit lagi, aku melihat Honda Jazz-nya melaju melewati bus dari sisi kanan.

Ketika berpisah, masih ada waktu untuk bertemu lagi. Lagi, lagi, dan lagi, sampai akhirnya tidak bertemu lagi. Kata seseorang dulu, jika ada kesempatan untuk bertemu dengan seseorang, jangan pernah menolak. Sebab kita tidak tahu waktu selanjutnya untuk bertemu lagi.

Entah ya, kalimat seperti itu… aku tidak suka.

Bagiku, bertemu adalah bertemu. Tidak bertemu ya berarti tidak bertemu. Tidak perlu repot-repot dan mengada-ada.

Namun…, apakah benar aku hanya menahan diri?

***

Sore menjelang menemani perjalanan pulangku. Aku memandang jalanan ibu kota yang tidak juga kuhapal. Perjalanan. Dari satu tempat ke tempat lain.

Sejak dulu aku terlalu tahu bahwa aku tidak ingin menetap di sebuah tempat dalam jangka waktu yang panjang. Apa ya… tidak, ini bukan tentang The Alchemist atau sesuatu semacam itu, namun memang benar bahwa ini adalah tentang cerita.

Untuk melestarikan segala sesuatu yang pernah ada dan terjadi, sekalipun tidak begitu nyata untuk benar-benar disadari, kita butuh sebuah cerita. Jadi, beginilah cerita itu. Yang kadang tersampaikan, kadang juga tidak. Yang kadang mampu merangkum segala macam yang ingin diberitahukan, kadang juga tidak. Di atas semua itu, tidak berarti cerita tersebut tidak bisa diceritakan, bukan? Memang bukan tidak bisa, tetapi untuk beberapa manusia, biasanya mereka terlalu mampu menahan diri. Bukan hal yang baik juga nyatanya.

Well, for now, as some of my friends keep saying and saying, I guess we I need to focus on career the thing I’m doing right now.

Advertisements