2015

Banyak hal sudah terjadi dan banyak hal masih akan terjadi.

Bagian I
Januari. Bulan pertama 2015 dimulai dengan menghabiskan sebagian besar tabungan sepanjang 2014. Well, this is not about the lack of self-control, but oh no, I don’t ask for any opinion, so please don’t. Teringat komik The Duck of Mr. Edward dulu, kira-kira katanya ‘kamu mengumpulkan uang untuk dihabiskan, bukan?’. Jadi ayo pergi subuh pulang malam. Nongkrong plus tebar pesona di tiap mal tempat reunian. Jadilah bulan ini saya sering mengelilingi Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Tiga provinsi dalam satu hari! Ah, sudah biasa sih. 😛 Selebihnya Januari dipenuhi tatap muka yang menyenangkan karena dapat bertukar pikiran dengan para profesional yang telah lebih mendahului. Semampu mungkin menyibukkan diri sih, tapi katanya perhatian dari orang lain jangan sampai diacuhkan. Katanya…

 “Tentang percaya dan tentang what-ifs yang terlalu banyak. Terseret 2014, walau hanya sedikit. Aku bisa maju perlahan kok. Meski sambil merayap, tapi maju tetap, bukan? ;)”

Februari. Bulan yang katanya penuh cinta, namun nyatanya membosankan dan penambahan kata ‘sangat’ hanya akan menjadikannya redundan. Sekali lagi, katanya, mari menikmati perhatian yang ada. Well, bulan ini aneh sih, mungkin ini gara-gara for the first time in my life, saya menjadi social drinker di antara teman-teman saya. Tidak apa-apa, bukan? Yang penting masih sesuai salah satu prinsip dasar saya untuk tidak menganggu siapa-siapa. 😛 Malah bulan ini saya bersikap nicer dan cuter gitu terhadap sesama. Jarang lho saya bersikap baik, jadi kalau sudah dibaikin ya terima aja nggak usah banyak komentar.

I’m not really good at flirting. I mean, I’m not good, so I guess I will never be an expert in this area, really. Yes, I’m not that good or in the other words, I’m awful at this. Yeah, ehm… oh, my God, didn’t you listen?! I’M NOT GOOD AT FL… ah, sudahlah.”

Maret. First milestone. Sesuatu yang dikerjakan dengan penuh semangat sudah diserahkan dengan penuh semangat juga. Dan karena mungkin saya lelah, lalu mendadak suatu hari malah mengganggu dua insan yang sedang makan malam romantis, diterbitkanlah bagi saya sepenggal komentar yang… ehm, aneh? Ya, si pria mendadak bicara, “Kamu sekarang pragmatis ya…, kayaknya dulu nggak begitu deh.”
Waduh, nggak tahu. Waktu itu saya sedang mengajak bicara apa ya dengan mereka; pokoknya sesuatu yang tidak esensial dan biasanya ini hanya sedikit cemooh terhadap mereka berdua yang seharusnya baru bulan lalu meresmikan hubungan, meskipun peresmian bagi mata publik sudah dilakukan sejak setahun yang lalu. Lagipula, saya yang langsung loskonsentrasi mendengar komentar demikian malah masih sempat ngedumel dalam hati, kenapa sih nggak diem aja; gini-gini mending gue mau nyamperin kalian dibandingkan teman-teman lain yang udah males dan entah sirik ngeliat kalian ke mana-mana bareng melulu dan hampir nggak punya teman. Well, the world is only for the two of you deh. Nih, take it! *timpuk mangkuk puding di atas meja makan lalu kabur*
Yah, mungkin kesan saya dan tatanan sosial di sekitar saya terhadap kata pragmatis sebenarnya tidak terlalu bagus. Meskipun bisa jadi kami memang kurang belajar, sih.

“Lho, turut senang ketika melihat orang lain bahagia adalah hal yang bagus, bukan?”

April. Second milestone. Graduation by de facto. Ah, setelah ini saya hanya ingin mengeluh bahwa saya capek dijodoh-jodohkan. Hanya, yaa… ada sedikit terombang-ambing di bulan ini dan saya tidak suka itu. Kita sebagai manusia menginginkan apa yang kita inginkan, bukan? Demikian saya percaya anda semua seperti itu, sama halnya diri saya juga yang menginginkan rencana saya berjalan mulus. Sebab sungguh saya menyadari bahwa saya akan loskonsentrasi apabila ada satu-dua batu yang menghadang mendadak di tengah jalan. Jangan bayangkan patah hati semalam sebelum sidang ya; hidup saya tidak setragis itu, barangkali.

“Untuk mengajarkan tentang membuang diri sampai titik batas, you are the lesson I learned. Well, you were almost the hero in one chapter of my story. But sorry, I can defend my own self. So, that’s all. Karena pada ‘manis’ kita bertemu, dan pada ‘terima kasih’ kuharap untuk selesai.”

Mei. Mei adalah bulan yang menantang. Mei 2015 adalah bulan yang sedikit mengubah pemikiran. Mei 2015 adalah bulan ketika melakukan banyak hal yang dulu sebisa mungkin benar-benar saya tolak. Jadi, terserahlah! Pokoknya setelah roller coaster, sebaiknya langsung naik Hysteria!
Akan tetapi memang sedikit banyak hal-hal yang tidak terbiasa tetap tidak jua akan menjadi biasa dalam sekejap mata. Jadinya kurang menyenangkan, karena hanya sekadar menyelesaikan tantangan, yang maknanya bahkan samar.
Karena justru di sudut lainlah kutemukan sedikit ruang untuk menarik napas dan berpikir.
Satu, dua, tiga, empat, lima… ya, aku hanya setinggi tingkat kelima rak buku dihitung dari bawah. Dan di hadapan matakulah terpampang Kahlil Gibran. Semua tentang cinta. Berdiri lama dalam diam di toko buku tidak akan berakibat diusir atau dilarikan ke UGD, bukan? Terima kasih untuk tidak mengganggu.

Love the unlovable.”

Juni. Third milestone. Graduation by de jure. Jadwal foto-foto, jadwal ketemuan sana-sini, bahkan tidak semuanya dapat benar-benar dipenuhi. Yang pasti, aku masih ingat 24 jam itu. Tertulis secara detil dalam diariku. Ketika aku terbangun subuh dengan kamar berantakan. Koper besar, beberapa tas jinjing besar, sedang, maupun kecil, ransel, beraneka macam bunga, boneka-boneka berpita, alat make up. Lalu tanpa membereskan semuanya itu, aku melangkah gontai ke kamar mandi. Cuci muka dan sikat gigi. Kemudian duduk di balkon kamar dengan secangkir kopi dan biskuit cokelat, sembari mengecek kembali sebuah sketsa di atas kanvas yang kubuat semalam. Sketsa itu kutujukan untuk keluarga yang dua tahun sebelumnya memberikanku kaktus. Lihat, kami bertemu kembali, bukan? Aku tersenyum sendiri, begitu tulis diariku.
,
Pasca sibuk-sibuk acara, minggu ketiga dalam Juni membawakan surprise yang tidak tertebak sama sekali.
“Dia belikan ini bahkan sebelum kamu sidang skripsi. Lalu, ini untuk waktu wisuda.”
“Lho kok baru sekarang dan nitip pula.”
“Dia nggak berani…”
Aku hanya diam saja mendengar riuhnya komentar yang lain sembari aku mendekati salah satu temanku sejak SMA dan dengan serius bertanya, “Emangnya aku semenakutkan itu ya?”. Dia hanya menyeringai sambil menjawab, “Ehm, misterius sih.”
Aku hanya menatap kedua barang di tanganku, sebuah syal dan sebuah bros. Sambil menggerutu bahwa kenapa kalian para pria suka sekali merepotkan diri untuk memanjakan kami perempuan. Dari sepotong pisang goreng sampai perhiasan sekalipun. Bukan apa-apa sih, you are charming to the max, when you show that generous side of yours, I confess. But boy, you have to know that I’m not really good with presents. You also have to know that for now, the door is closed. Thank you and I’m sorry.

“The princess is here. But she doesn’t want you to offer anything. She wants you to be the best you can be, for yourself only.”

Akhir Bagian I
(06/23/2015 17:15 WIT)

***

Bagian II
Juli. Minggu pertama dalam Juli bercerita tentang hilangnya asa terhadap kemanusiaan, bahwa masalah sebagian besar orang sebenarnya cuma duit. Makanya “menjadi kaya dan sukses” adalah perlombaan yang wajib diikuti semua orang. Dan bagiku, kalau hidup hanya sekadar itu, berarti sebenarnya aku tidak perlu berbuat apa-apa, bukan? Cuma perlu tinggal baik-baik di rumah dan nurut sama keluarga. Maksudku, come on. Aku ini perempuan. Kata mereka, perempuan mah gampang. Tinggal cari aja laki-laki kaya nan mapan, nikahin, maka aman dan sejahteralah kehidupanmu, wahai kaum hawa. Ada common sense di situ, tapi bagiku itu tidak penting sama sekali. Jadi yasudahlah.
,
Minggu kedua dalam Juli kuhabiskan untuk memikirkan “let go stuff” yang selama ini berdengung di telinga. Dan dalam keremangan malam di sudut kamarku yang sepi dan sudah lama tidak kutempati, aku menuliskan beberapa kesimpulan, bahwa untuk belajar let go, aku harus menjadi egois, melepas beberapa tanggung jawab, dan belajar membuang kenangan. Bukan hal yang terbayang mudah untukku. Jadi yasudahlah.
,
Minggu ketiga dan keempat Juli sedikit mengganggu karena membisikkan pinta yang muluk-muluk di kupingku. Kalau aku jujur, maka aku akan mengatakannya, bahwa kadang aku merasa Tuhan tidak mendengar, atau memang Ia tidak mau mengabulkannya, satu hal kecil itu, karena aku tidak akan meminta apa-apa lagi. Lagi-lagi aku hanya mampu menghela napas, karena seperti kata orang-orang, mungkin Ia punya hal yang lebih baik untukku. Malam itu, jelas sekali diariku mengembalikan aku kepada tiap-tiap huruf jelek yang kutuliskan di situ sejak awal tahun ini.

“Berikan kesempatan sama orang lain, Sil. Setidakmau bagaimanapun yang kamu rasa. Mungkin saja dalam setitik ketidakmungkinan dalam kesempatan yang kamu berikan, maka kamu akan menemukannya.”

Agustus. Aku sibuk.

“Aku sibuk. Jadi sudah ya.”

September. Aku (masih) sibuk.

“Jangan diganggu dulu.”

Oktober. Aku masih (sangat) sibuk. Namun mengambil secuil waktu untuk membaca adalah pilihan penyegaran yang cukup baik.

“In vain have I struggled. It will not do. My feelings will not be repressed. You must allow me to tell you how ardently I admire and love you.” -Jane Austen, in Pride and Prejudice.

“Apakah ini permintaan muluk ataukah biasa saja? Apakah ini hanya aku ataukah semua orang juga mengharapkannya? Bahwa akan datang suatu hari untuk seseorang yang benar-benar menatap lekat kedua bola mata dan berkata dengan sungguh, ‘Kamu bohong. Kamu tidak baik-baik saja.’

November.
“kamu emang serius banget ya(?).” | oh, darling… this is my life. If I don’t take it as a serious thing, then who will?
“cewek dudul. social skill rendah.” | tidak 100% tepat, tapi tidak benar-benar salah juga.
“kamu emang beda sih.” | ini maksudnya beda apa ya?
“dia mah kebal dipuji.” | ya mungkin karena terlalu terbiasa sih. #plak
“sekeras apapun pasti rapuh juga.” | thank you for saying that, because I don’t know that I look like that in your eyes. yeah, I thought you saw me only as an idealistic girl.

“Punya orang-orang yang senantiasa peduli adalah hal yang luar biasa dan aku berterima kasih untuk hidup ini. Sungguh.”

Desember. Aku tidak juga memahami “kebetulan-kebetulan yang Tuhan rencanakan” dalam hidupku, tapi tetaplah kujalani hidupku jua. Lalu terkadang, kutanya diriku sendiri, kenapa sih kamu suka banget ngerepotin diri sendiri, Sil? Misalnya udah jelas libur kok malah kerja. Alasan bahwa kerjaan kamu lebih banyak dibandingkan yang lain itu sekadar basa-basi yang nggak akan didengar siapapun. Makanya, take your time-lah. Untuk dua minggu saja, bisakah kamu tidak kepikiran kerjaan sedikitpun? Ajak orang lain ngomong, kek. Senyum dikit, kek. Traktir satu atau dua orang. Telepon berjam-jam seperti dulu sampai kuping panas. Chat sana-sini dengan siapapun. Jalan-jalan sana!
Dan mendengar perintah lugas dari dalam relung hatinya, maka berkelanalah si gadis dari satu kota ke kota lain tiap-tiap harinya. Dia pun mengakui bahwa ‘ada waktu untuk berlibur dan ada waktu untuk bekerja’.

“Semua akan indah pada waktu-Nya. Sayangnya, kurasa waktu yang indah bukanlah hari ini. Jadi, apakah waktu yang indah itu sudah tertinggal kemarin? Masihkah waktu yang indah itu akan tiba esok nanti? Tolong dijawab, karena jawaban tidak perlu selalu tepat.”

Akhir Bagian II
(12/31/2015 15:55 WITA)

***

Sementara saya akan mengakhiri tahun ini, saya pun masih cukup dapat mengingat jelasnya peristiwa Mengawali 2015.
Kesimpulan tahun ini pun dapat disusun sebagai berikut:
A. (I) Ekspektasi:

KIS - Nyantai Aja

KIS – Nyantai Aja

(II) Realita: Memang tahun ini saya lebih rileks dibandingkan tahun-tahun terdahulu sih, terlebih dengan beberapa aktivitas yang tidak biasa yang akhirnya saya lakukan juga tahun ini.

B. (I) Ekspektasi:

KIS - So Sweet

KIS – So Sweet

(II) Realita: Manis dalam konteks apa ya? Kalau sekadar sweet-talk, sepertinya memang ada kemajuan. Atau mungkin saya cuma terlambat dewasa. Hahahikss
.
.
.

Kemudian di sinilah kebersamaan dengan secangkir teh hijau, serta diari pribadi yang tertulis maupun diketik. Pada sore terakhir 2015 dan langit berawan, serta sisa-sisa hujan tadi siang. Menarik napas panjang dan dalam, kudengar sebuah percakapan:

‘Adalah hal yang melegakan ketika kamu bisa membuang sesuatu, merobek sesuatu, melepaskan sesuatu tanpa harus merasa terikat terhadap sesuatu itu lagi.

Lalu hening, aku bernapas dalam-dalam lagi.

‘Apakah itu.. namanya… let go?’ suara itu agak terbata.

‘Untuk kerja keras pada tahun ini, tersenyumlah sedikit untuk apa-apa yang sudah direlakan.’

.

.

.

Ya, untuk kamu yang barangkali tidak tahu…
hei,
thank you… for everything.

Advertisements

Igor Malev – The Winner Stands Alone

“Dia seperti Igor Malev.”
“Igor Malev? Yeah, aku tahu kenapa kamu menyebut dia begitu.”
“Ya, ‘kan? Makanya Ewa meninggalkan dia.” tegasku pula.
Ada jeda panjang dan helaan napas di sebelah sana.
.
.
“Pernahkah kamu terpikir… bahwa mungkin kamulah Igor?”
Aku tercekat mendengar kalimat tanya dari mulutnya yang bagiku terpampang sebagai sebuah tudingan.
“Maksudnya?” nadaku terdengar agak serak.
“Misterius, terlalu sering menantang diri sendiri, kurang bersosialisasi…,”
“Dengar ya…,” aku memotong perkataannya, tidak peduli berapa tahun usia kami terpaut, lalu kulanjutkan, “Aku tidak berdiri sendiri. Masih ada orang-orang lain yang sama sepertiku.”
“Oh, ya?” nada menyebalkan darinya seolah ia sedang meragukan sesuatu.
Akupun terdiam 1-2 detik, lalu sedikit mengangkat dagu.
“Setidaknya aku bukan seorang pemenang.”