Percaya dan Teman Cerita

Sabtu malam. Hujan deras. Tidak bisa ke mana-mana. Lagipula sudah sebulanan belakangan saya menjadi malas makan setelah lewat jam enam sore. Akan tetapi, segelas kopi dibubuhi bubuk kayu manis pastilah menenangkan sekaligus menyenangkan.
Beberapa waktu belakangan ini, saya mengamati bahwa dalam kehidupan, banyak orang mengharapkan orang-orang lain untuk menjadi kuat. Entah sih. Saya terbiasa melihat hal-hal demikian, juga terbiasa dianggap demikian. Itu tentu bukan hal yang buruk. Sama sekali tidak buruk barangkali.
Hanya, saya pikir bahwa sesekali dipandang lemah mungkin akan asik juga ya.
Soalnya tidak nyaman…
ya, tidak nyaman sekali jika kita memang bisa apa-apa. Tidak selalu menyenangkan karena ini-itu bisa sendiri. Tidak selalu hal yang melegakan ketika banyak orang percaya bahwa kamu bisa dan kamu pasti mampu. Meskipun kamu memang iya.
Apa ya
Mungkin karena kurasa bahwa teman cerita bukan hanya tentang keseharian. Teman cerita juga kalau bisa tentang hal-hal yang tidak mampu tergali dengan baik kalau hanya sendiri. Tentang saling mengajak untuk cerdas pikiran dan emosi. Tentang saling peduli meski tidak selalu sependapat. Tentang tetap saling menerima apapun yang dihadapi nantinya. Tentang… ah, sudahlah ya.

Semua itu sekadar harapan. Sebaiknya saya memang tidak perlu terlalu idealis sih. Yah, sebaiknya begitu.

Advertisements

Dua Sisi

OK, mari jujur saja. Sesungguhnya saya ingin memberikan sedikit sudut pandang saya terhadap sebuah hal yang sangat panas belakangan ini, apalagi kalau bukan mengenai kejadian di kota ibu beberapa hari lalu. Akan tetapi, memang sayalah yang mulai malas membagikan sesuatu ketika saya disadarkan akan tulisan-tulisan yang berdebu, yang sudah rapi dan siap publish, begitupun yang masih draft kasar. Saya cukup tahu bahwa saya senang menulis. Meskipun bisa jadi itu tidak berkaitan dengan kemampuan saya dan meskipun seringnya hanya menjadi pelarian dari macam-macam hal.
Saat ini, saya sendiri justru mulai bingung dengan berseliwerannya dan bertimbunnya pendapat-pendapat yang well, menumpuk. Ya, pada masa ini semua orang berhak mengeluarkan butir-butir opininya, tanpa terkecuali saya. Akan tetapi, semakin mudahnya kita mengeluarkan pendapat bahkan dalam sepotong status ataupun sepenggal tweet, semakin kurang jelas segala sesuatunya bagi saya. Seperti yaaah, ada hal yang berulang-ulang, hal yang sama, hal yang tidak beda, hal yang… entah, mungkin dicari-cari maknanya, oleh diri saya sendiri. Apalagi semua itu menggelembung dalam balon-balon repost retweet rebroadcast re-re-re yang lain.
Kalau ada orang yang sempat meluangkan waktu, bisa jadi pada suatu tempat dan suatu ketika Tuhan menghendaki diri kita bertanya-bertanya, untuk apa sih kita memberikan pendapat? Banyak berkomentar tanpa mengerjakan sesuatu, bahkan minimal memberikan solusi atas sebuah masalah pun tidak. Saya sendiri cukup banyak belajar bahwa apapun dan bagaimanapun solusi yang dapat diberikan, se-helpful dan se-breakthrough apapun yang dapat saya tawarkan, tapi kalau tidak ada orang yang mau dan mampu bekerja, apalah arti sebuah solusi? Karena ada saatnya kita saya mau tapi tidak mampu, ada pula saatnya ketika kita saya mampu tapi tidak mau. Ya, kita saya ini cuma manusia biasa toh ya. Pada akarnya, apapun solusi yang diberikan, itu juga adalah sekadarnya pendapat, apalagi jika tidak dikerjakan dengan alasan ketidakmauan maupun ketidakmampuan. Makanya saya ungkapkan #KitaManusiaBiasa.
Ya, tapi jangan minta saya menyelesaikan masalah teroris ini ya, karena menyelesaikan masalah hidup saya sendiri pun saya masih berleha-leha, kok. 😐

But maybe I need to elaborate my thought a bit. 

Ketika teror melalui ledakan dan penembakan melanda Jakarta beberapa hari lalu, tentu saja pada jam-jam kejadian berlangsung ada sebagian warga Indonesia merasa khawatir dengan keadaan kerabat di sana. Misalnya kalau kamu sedang jauh dan pacarmu bekerja di sekitaran daerah kejadian, jelas kamu akan menjadi salah satu orang yang panik untuk mengetahui keadaan si doi. Begitulah pacar teman saya yang dikhawatirkan sejak siang kejadian sampai sore si pacar pulang ke rumah. Baca baik-baik ya, pacar teman saya, bukan teman pacar saya. JANGAN TERBALIK!
Ya, saya tentunya tidak dapat secara langsung dikategorikan dalam sebagian warga yang merasa khawatir. Bahkan, saya justru kesal dengan pesan broadcast yang berseliweran di whatsapp maupun di BBM. Ya Tuhan, saya menggunakan dua aplikasi tersebut bukan untuk diteror dengan pesan-pesan menyebalkan yang bahkan melalui membaca skimming pun membuat saya jengkel.
Dan sejujurnya ya, saya cukup kaget dengan kekonyolan perihal respons masyarakat kemarin. Seumpama masyarakat terbagi dua kelompok besar: kelompok pertama bersikap panik yang parno, yang satunya lagi bersikap abai yang lebay. Meskipun ujung-ujungnya memang cenderung sebagian besar beralih menuju kelompok kedua.
Pada waktu tagar kami tidak takut, tagar Jakarta berani berseliweran, kemudian menjadi bahan omongan sampai tagar kami naksir, tagar kami takut jomblo etc bermunculan, awalnya saya bingung. Akhirnya, pertanyaan bahwa ‘apa hal-hal begini memang sudah biasa ya?’ tidak dapat tersimpan rapi dalam kotaknya. Meski seperti pertanyaan-pertanyaan tak terjawab biasanya, pertanyaan seperti inipun dapat saja tertinggal tanpa ada pasangannya.
Mungkin masyarakat sedang sangat panik pada awal kejadian sampai-sampai menjadikan perihal ini sebagai lelucon. Atau memang kerap melihat bahkan mengalami kekerasan yang lebih keterlaluan.
Yah, saya tidak benar-benar tahu juga.

Dari sini, saya hanya dapat berdoa bahwa semoga saja tagar-tagar populer itu tidak menjadikan masyarakat menyepelekan hal yang sudah berlalu, namun menjadikan kita semakin waspada. Karena toh meski #KitaTidakTakut, bukan berarti kita kebal dengan bom dan peluru, ya ‘kan?