20 April

Tuhan itu yang memberi dan juga yang mengambil. Sebuah perasaan Ia izinkan hadir dan juga Ia kehendaki untuk pudar. Karena cinta kuat seperti meterai. Dan itu benar. Sudah tahu itu. Sudah pula alami itu. Dan masih juga tetap bodoh.

-saya, hari ini di sudut kamar

Advertisements

Tetap Berjalan

Karena tetap di tempat adalah hal yang tidak nyaman. Karena kalau tidak melakukan sesuatu, rasa tidak menyenangkan itu mulai nyeri. Ada hal-hal untuk diperbuat, jadi sebaiknya tidak diam saja.
Aku sudah tahu. Hari-hari yang terlewati ada untuk ditinggalkan di belakang. Hari-hari yang masih belum tiba ada untuk ditunggu dengan sabar.
Masalahku adalah aku selalu ingin menoleh dan melihat-lihat yang sudah lalu. Bukan hal yang baik, karena menahanku dan mengurangi waktu untuk melihat saat ini.
Masalahku adalah aku selalu ingin berlari. Sulit sekali untuk berjalan pelan, ketika merasa perlu untuk bergerak cepat. Padahal mungkin itu hanya ilusi. Padahal itu mungkin hanya iri… pada orang-orang yang berjalan lebih cepat. Padahal aku tahu, bahwa mereka juga mengorbankan lebih banyak. Ya, hal-hal yang perlu pula kuserahkan sebagai ganti dari kecepatan itu.
Misalnya, orang-orang yang menyapa di tengah jalan. Atau barangkali orang-orang yang memanggil pulang. Atau barangkali keinginan untuk bertemu orang yang sudah lama tidak dijumpai.
Sebab itu yang mereka ajarkan. Bahwa kalau kita ingin cepat sampai, kita tidak boleh berhenti dan sibuk dengan orang lain. Kalau kita ingin tiba sesegera mungkin di atas sana, tidak boleh memikirkan lapar dan haus. Kalau kita ingin berdiri di sana, kita harus fokus terhadap ambisi tersebut. Walau kurasa, aku tidak seperti itu.
Meskipun begitu, aku tetap bersikap begini. Entah tepat atau tidak. Dengan melihat lagi ke belakang sesering yang kusempatkan, lalu berlari lagi saat aku mestinya cukup berjalan saja. Saat aku harusnya bertemu. Saat mereka ingin bertemu.
Meskipun ini bukan hal yang paling kuinginkan atau bahkan kubutuhkan. Namun, aku harus. Supaya aku tidak diam saja, lalu rasa tidak menyenangkan itu mulai nyeri. Lagi-lagi.

Apapun akan kulakukan, supaya aku tidak mengingat bahwa Tuhan tidak memperbolehkan perjalananku ditemani olehnya.

Meski apa yang akan kutemukan di atas sana? Semuanya akan terlihat, namun kecil, buram, tidak jelas, jauh. Apa lagi?

imageSepi.