Tentang Pernikahan

Kali ini adalah undangan kesekian kalinya dalam hampir separuh tahun ini. Ya, memasuki musim-musim demikian sepertinya. Yeah, time goes by so fast.

Sesungguhnya, saya senang menghadiri pernikahan. Bukan, bukan karena makanan mewah atau siapa-tahu-ketemu-someone-new. Nnggg… tidak, bukan itu.

Pernikahan itu penuh macam-macam emosi. Bahagia, haru, kekaguman akan hal-hal cantik, kesibukan untuk detil-detil tidak terjelaskan. Apalagi bila pernikahan yang diselenggarakan berbau adat dan budaya dari masing-masing pengantin. Apalagi bila pernikahan itu memiliki cerita sendiri dari kedua sisi: laki-laki dan perempuan yang akan bersatu.

***

Mereka berdua memilikinya: cerita mereka sendiri. Awalnya mereka adalah teman SD. Akan tetapi, mereka berbeda sekolah ketika SMP dan SMA, hingga sang pria ke luar kota untuk melanjutkan studi. Suatu hari, sang pria menghubungi sang gadis untuk menanyakan kabar setelah lama tak jumpa. Katanya waktu itu, sang pria bermimpi bertemu sang perempuan. Maka ia lalu segera mencari nomor kontak sang perempuan dan langsung meneleponnya. Dan waktu tetap berjalan, hingga tibalah harinya.

At their best day ever, they said their wedding vows shyly. Yeah, what a lovely couple.

Cerita singkat yang luar biasa, bukan?

Ya, minimal sebuah cerita yang mendorong beberapa teman dari lingkaran saya untuk mengingat-ingat kembali teman-teman SD mereka. Sedangkan saya? Diam saja. Kemudian ikut mengingat-ingat kisah-kisah SD yang sebenarnya lucu juga dan bisa dikatakan cukup membekas, sebab masih ada dalam rekaman memori sampai saat ini.

Sesudahnya, perempuan-perempuan baper yang sedang berkumpul saat itu bisa tertawa bersama kembali. Tawa masing-masing yang sembari diikuti diam sejenak untuk mengantarkan kembali menuju kedalaman pikiran masing-masing pula.

Yah. Bagaimanapun, dari sisi saya dan teman-teman selingkar saya, pernikahan itu selalu terlihat wow, mencengangkan, sekaligus mendebarkan. Karena saya sebagai tamu dalam acara-acara demikian pun selalu merasakannya. Bahkan jauh sebelum menghadiri undangan pada hari acara dilangsungkan. Sebab beberapa rekan yang akan menikah akhir tahun ini nyatanya sudah mempersiapkan segala sesuatunya sejak tahun-tahun lalu. Yang merencanakan menikah tahun depan pun sudah memulai segala persiapannya sejak tahun kemarin.

Begitulah keadaan di sekitar saya. Bukan sesuatu yang menekan sebenarnya. Malah sesuatu yang justru dapat saya pelajari dari para pelaku. Seperti eratnya kaitan antara dongeng-dongeng happily ever after dengan segala macam perencanaan menuju hari bahagia. Atau mengenai sedikit pertikaian dari sisi masing-masing keluarga dalam menentukan macam-macam hal sebelum hari-H, bahkan tentang kelanjutan setelah dari hari-H.

Masalahnya, saya malah merasa pernikahan sebenarnya terlihat jauh lebih logis dari apa-apa yang tengah dipersiapkan oleh mereka-mereka yang akan segera melaksanakannya. Walaupun sampai detik ini sebenarnya segala sesuatu masih dalam bayang-bayang buram. Hmm… memang tidak enak membicarakan sesuatu tanpa mempunyai pengalaman langsung. 😐

Akan tetapi, kita semua tumbuh dengan cerita-cerita berbumbu manis mulai dari Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty, sampai Romeo-Juliet sekalipun. Lalu kisah superheroes semacam Captain America, Batman, atau Spiderman juga memiliki potongan-potongan romansanya sendiri. Makanya orang-orang… well, setidaknya orang-orang yang saya ketahui, sangat berjuang keras untuk mewujudkannya dalam kehidupan mereka.

Hal-hal filosofis dalam cerita-cerita seperti demikian tidak selalu buruk, kok. Melaluinya, kita dapat menumbuhkan rasa kasih sayang dalam diri anak-anak, yang… sebenarnya sulit ada dalam diri manusia.

Mungkin karena keinginan bahagia itu sudah mulai luntur perlahan-lahan. Tergantikan dengan transaksi-transaksi yang selalu perlu untuk dinegosiasikan. Finansial, material, waktu dan tanggung jawab masing-masing, mungkin juga tentang kepercayaan… semua yang dirasa lebih diperlukan. Yang lalu diturunkan dari generasi ke generasi berikut dengan improvisasi yang semakin dirasa baik dan jika perlu, lebih ketat dan selektif.

Memang semuanya itu penting. Saking pentingnya, tidak tahu lagi mana yang terpenting. Soalnya semua orang punya pendapat masing-masing, lalu semua orang juga berbarengan ingin menyuarakannya. Jadi, siapa yang harus mendengarkan satu-satu?

Padahal once in a life time, they said. Bukan sesuatu yang langsung dapat saya percayai sepenuhnya, namun sesuatu yang memang saya harapkan sepenuhnya.

Sesuatu yang secara pribadi ingin saya wujudkan juga dalam kehidupan saya. Lalu dalam rangka demikian, saya tahu bahwa saya tidak boleh terjebak dalam imajinasi happily ever after yang mungkin saja malah akan menjadi suram karena Romeo dan Juliet justru mati dengan bodoh. Bukan romantis, malah tragis.

Lagipula, saya juga bukan Cinderella, karena meskipun Ibu Peri ada dalam bermacam-macam wujud manusia, namun saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan sangat berambisi untuk datang ke sebuah pesta demi tujuan penting untuk menampilkan diri saya kepada sang pangeran.

Jadi mungkin saja di sebuah pesta, saya justru akan sibuk menjadi fotografer bagi orang-orang yang membutuhkan. Atau malah duduk menikmati alunan Thank You For Loving Me disusul You’re Still The One serta Love Of A Life Time. Acara pernikahan memang harusnya menjadi acara yang menyenangkan baik bagi tuan rumah maupun bagi para tamu, bukan?

Memang, kok. Saya tidak menunggu. Meskipun kalau memang dapat bertemu orang yang mau bersama-sama menyanyikan lagu-lagu tersebut tentulah sedikit banyak akan membuat saya sulit menahan diri untuk tidak tersenyum.

Advertisements