“Cewek!”

Saya tidak bisa mengatakan bahwa adalah sebuah hal menyenangkan ketika sedang berjalan di tempat umum dan mendengar suit-suitan kurang berguna yang mengarah kepada diri sendiri: “Cewekkkk… hei cewekkk!”, ya begitu bunyinya. Itu sangaaaat tidak sopan. Meskipun itu adalah hal lumrah bagi orang-orang yang sering melakukannya.
Well memang ada beberapa gadis yang merasa senang diperlakukan demikian. Ada pula beberapa gadis yang JUSTRU merasa self-esteem-nya meningkat dikarenakan mendapat perlakuan demikian. Maaf, capslock tersebut memang disengaja. Soalnya… ya, gimana lagi. Manusia memang kompleks, apalagi jenis yang namanya perempuan. Dikarenakan berbedanya prinsip seperti itu, makanya teman dekat saya sedikit.
Memang kok, pada umumnya perempuan senang digoda. Tolong garisbawahi pada umumnya ya. Meskipun hanya mengarah bagi perempuan di lingkungan sekitar saya saja sepertinya. Karena mereka mengartikannya bahwa mereka sedang disorot. Disorot dengan mata terpesona atau dengan mata mesum, itu lain soal. Yang penting, sedang mendapat perhatian.
Di situlah letak kegentingan dari masalahnya. Membedakan dua jenis tatapan yang sedang diarahkan bukan hal yang sulit amat ataupun gampang-gampang saja ya. Namun seiring jalan, kita akan tahu, kok. Nah, kalau sudah tahu, diapakan? Apa? Dinikmati? Kasih pendapat kok bego banget sih. Terserah sih kalau mau demikian. Karena saya tidak.
Karena sekarang saya sudah dewasa (hah?!), tentu saja saya tidak akan berantem di tempat umum dengan si oknum seperti dulu masa SD dan SMP. Akan tetapi, tentu saja saya tidak juga akan menikmati perlakuan seperti demikian.
Jika memang seorang gentleman sejati nan bermartabat, ya datangi si gadis dengan benar. Ajak kenalan dengan baik-baik. Moga-moga tidak ditampik tapi lalu disambut dengan baik, ‘kan? Ada kok yang saya terima dengan baik untuk mengajak kenalan dan menambah teman. Meskipun sebenarnya seram sih.
Akan tetapi, saya sadar bahwa tanggung jawab menjaga diri tetap ada di tangan si cewek. Kalaupun sudah menjaga diri tapi masih terjadi apa-apa, yah… gimana ya. Orang jahat bisa pakai akalnya untuk merencanakan apapun, namun tanggung jawab melakukan kebaikan ada di pundak orang-orang yang tahu bahwa dirinya mesti berbuat baik.
So, ya…
entah sih.
Kadang kalau tiba-tiba mau bayar pas makan di sebuah restoran dan tahu-tahu ternyata sudah dilunasi seseorang atau kalau mendadak ditraktir pas sudah berdiri di depan kasir sebuah kedai kopi bandara di kota X, yah hal-hal seperti itu memang adalah keuntungan material yang tiba-tiba. Bukan berarti saya mau-mau saja selalu dibegitukan ya. Berantem dengan pria dikenal soal urusan bayar-membayar saja bisa runyam dan menjurus ke arah rusaknya hubungan. Apalagi dengan laki-laki dari antah-berantah mana yang buang-buang duit untuk perempuan tak dikenalnya? Jadi, bagi saya, berterima kasih dari lubuk hati terdalam lebih baik daripada diteriaki perempuan sombong dan belagu di muka umum.
Akan tetapi, ya itu… lakukanlah dengan sopan, sedapat mungkin charming. Karena perlakuan tersebut bagaimana juga dilakukan dengan santun, tetap saja suspicious. Jadi, berhati-hatilah.

Advertisements