Dari Saya Untuk Kita

Dari sisi pribadi, saya tidak terlalu suka berkumpul dalam gathering yang mengatasnamakan daerah asal tertentu. Memang saya sendiri tidak terlalu suka kumpul-kumpul rame-rame, sih. Tidak menghindari ada dan perlunya saat-saat seperti itu, tapi bagi saya sebaiknya jangan terlalu sering, sih. Yah, mungkin juga memang sebaiknya saya tidak sering-sering menolak hal-hal seperti itu.

Masalahnya adalah kerepotan saya sewaktu diminta menjelaskan penelusuran asal-muasal diri sendiri. Bukan karena tidak tahu identitas diri, tetapi karena justru saya tidak terlalu suka mengidentifikasi diri dengan suatu suku atau ras. Terima saya apa adanya kok susah banget sih. Soalnya, ada beberapa oknum yang sangat-terlalu memuja keberadaan golongan pure blood dari genre tertentu. Hal ini bisa berarti banyak, sih. Ras, suku, agama, bahkan sampai kalangan ekonomi, tingginya pendidikan atau jabatan yang dimiliki. Ya… banyak hal-hal terjadi yang mengarah ke sana. Juga adanya sedikit janji akan kenyamanan, bahwa karena kalau ‘sama’ ya niscaya semua akan baik-baik saja.

Sampai detik ini, hal ini hanyalah secuil kecil yang memang tidak perlu mengganggu anda maupun saya. Saya hanya ingin berbagi sebentar. Dan well, kalau anda tanya apa maunya saya, ya saya akan menjawab bahwa saya hanya ingin hidup damai dengan siapapun orang-orang di sekitar saya. Dalam hal ini, saya ingin tetap menjejakkan kaki di tanah sembari kepala saya berada di awan-awan.

Bagaimanapun, saya adalah orang yang memegang asas ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Ya, anda mau protes? Mungkin anda akan berkilah bahwa apa yang dapat dijunjung dari negara seperti ini. Oke, untuk alasan-alasan yang kemudian akan anda kemukakan tentang sungguh alangkah tidak baiknya negara ini, saya akan terima-terima saja. Banyak kebenaran berupa fakta yang dapat anda temukan bahwa negara ini memiliki banyak celah yang membuatnya terlihat prihatin. Tidak jadi soal, saya terima fakta dan opini dari anda.

Bahwasanya, saya juga berpikir bahwa jika anda ‘bukan bagian dari solusi, tentunya anda adalah bagian dari masalah’. Tidak tahu dengan imajinasi anda sebagai seorang yang mengaku netral, sebab apa sih yang benar-benar netral di dunia ini? Oh, mungkin anda hanya berusaha netral. Ya, mungkin seperti itu.

Tenang saja, saya juga belum punya sesuatu yang dapat saya banggakan, kok. Sampai saat ini, saya hanya ingin Indonesia yang lebih baik. Nah, kalau anda tanya yang lebih baik itu wujudnya seperti apa, lalu standarnya dari mana dan siapa yang membuat standar seperti itu, well ya, saya rasa saya akan mengalah, karena hal-hal seperti itu ujungnya benar-benar akan berdebat. Akan tetapi dari realitas yang saya saksikan langsung, saya kira bahwa saya tahu apa yang saya inginkan dan sedang-akan lakukan.

Mungkin juga anda akan menyindir saya dengan serangkaian hal yang saya sukai dan nikmati. Bahwa orang ‘seperti saya’ tidak pantas untuk melakukan sesuatu bagi negara ini. Bahwa saya malah sering nonton film asing atau anime Jepang dan hobi menyumbat kuping dengan MLTR dan Bon Jovi. Namun yah, saya juga tidak mengharapkan anda atau satu orang pun di dunia ini untuk mengerti bahwa salah satu prinsip kehidupan saya bukanlah tentang nasionalis atau tidak, tetapi tentang melakukan sesuatu bagi tempat di mana saya berdiri.

Saya ingin Indonesia yang berpendidikan. Setidaknya anak-anak yang nantinya akan menjadi dewasa dapat lebih menyadari berharganya hidup mereka. Tujuan saya dalam dunia ini jauh lebih kecil dari yang anda bayangkan. Seperti yang saya katakan sebelum-sebelumnya, saya berangkat dari kenyataan yang saya lihat. Saat ini mungkin saya masih sekadar ingin agar generasi penerus setidaknya bisa menghitung uang dengan benar dan setidaknya bisa membaca koran dengan baik. Ya, supaya mereka tidak tertipu dengan uang kembalian atau upah yang kurang, supaya mereka tahu informasi apa yang terjadi pada negara ini, supaya mereka tidak terus-terusan dibodoh-bodohi oleh orang yang merasa dan mengaku lebih pintar dari mereka, serta mungkin juga orang-orang yang lebih kaya dari mereka. Saya juga masih ingin agar mereka tidak sibuk mengikuti orang-orang yang mengandalkan kelebihan kosmetik untuk merendahkan orang lain.

Ya, dari sudut pandang saya yang sempit ini… perjuangan untuk menjadi kaya dan berkuasa itu adalah hal yang… riskan, mungkin? Ya, bukannya tidak akan ada resiko, sih. Lagipula dengan menjadi kaya dan memiliki kekuasaan, bisa jadi niat baik untuk membantu orang lain dapat dieksekusi dengan lebih mudah dan lebih cepat. Namun resiko yang paling berat adalah sambil terus mengambil kesempatan untuk menjadi lebih kaya dan lebih berkuasa, bagaimana anda dan saya tetap mempertahankan idealisme untuk bekerja demi orang lain atau semengawang-awang yang dapat saya katakan, untuk Indonesia yang lebih baik? Ha-ha. Tidak, atau setidaknya belum ada yang bisa menjawab.

Saya tahu benar bagaimana uang dapat merusak segala sesuatu dan kekuasaan sedikitnya mendorong timbulnya arogansi. Kalau mau hidup sekadar kaya dan berkuasa, saya tidak akan perlu melangkah pada jalan yang saya tapaki saat ini. Iya, saya cukup meneruskan apa yang keluarga saya lakukan. Bukankah saya anak perempuan kesayangan? Ah, sudahlah.

Akan tetapi… sekali lagi, sayangnya… saya tidak akan serela itu menukar apa yang ingin saya lakukan. Setidaknya saya belajar bahwa hidup adalah tentang diri sendiri dan juga tentang orang lain. Memang, memang saya belum dan tidak akan sempurna di dunia ini. Saya menyadari itu bahkan sebelum anda mengatakannya kepada saya.

Melihat ke belakang, yah, banyak hal tidak benar-benar memuaskan, baik apa yang saya lakukan, apa yang orang lain lakukan, keadaan, serta waktu yang tidak tepat. Keputusan-keputusan yang sudah terlanjur.

Pada waktu-waktu mendatang, banyak hal yang menanti. Untuk dipikirkan dan dikerjakan. Saat ini pun masih banyak hal yang harus saya lakukan dan entah mengapa tersempatkan untuk menulis hal-hal seperti ini.

Akan tetapi, saya mau bilang bahwa saya cinta Indonesia, sampai saat ini. Mungkin ini pernyataan cinta yang konyol bagi anda, tapi ini menahan kaki saya untuk berdiri teguh dan belum mau beranjak dari tempat ini. Melihat teman-teman yang begitu inginnya pergi dari sini dengan berbagai alasan masing-masing, mau tidak mau saya menahan napas juga. Mungkinkah pernah muncul dalam benak saya meski hanya selintas untuk ikut dan mendapatkan banyak hal yang lebih baik di luar sana?

Jawab saya saat ini masih tidak. Semoga saya tidak berubah dalam beberapa waktu ke depan. Karena saat ini saya masih menyukai diri saya yang seperti ini. Yang mencintai sesuatu dengan tulus. Sungguh.

Advertisements