Inspirasi November

Seperti judul di atas, November memang bulan untuk mencari dan menemukan inspirasi. Sudah kusadari sejak bertahun-tahun lalu, ketika awal-awal aku mulai rutin menulis. Dan sampai sekarang pun aku masih menganggapnya benar demikian. Sekalipun aku tidak lagi rajin menulis dan walaupun aku masih sulit berbasa-basi.

  • Dia laki-laki usia tiga puluhan yang kukagumi. Kautahu? Mungkin tidak. Namun itulah dia, yang meninggalkan pekerjaan mapannya demi sebuah cita-cita untuk memberikan pendidikan bagi orang-orang lain. Karena menurut dia, yang terbaik akan kembali ke sekolah. Bagaimana aku tidak terinspirasi olehnya yang begitu mudah melepaskan genggaman akan rutinitasnya demi hari-hari yang terus merenungkan arti kehidupan? Yang ada di sekitarku adalah para penumpuk harta dan pengokoh kekuasaan. Kadang, bahkan sering, aku justru menjadi mual.
  • Salah satu perempuan kuat yang pernah kutahu. Sakitnya bukanlah sesuatu yang ia rasa perlu untuk dikeluhkan. Dia bangkit kembali. Mengalahkan ketakutan akan kanker yang menyerangnya. Memang keberuntungan ada di pihaknya, kata orang-orang. Atau karunia Kristus, kata kami. Yang kutahu, tidak semua mendapatkan privilege yang sama. Makanya dia yang menyadari itu dengan teramat, kemudian melanjutkan hidupnya dengan penuh kegemilangan dan masih tanpa keluhan. Saatnya ia menjadi inspirasi orang lain. Salah satunya bagiku.
  • Sakitnya memang menghalangi kehidupannya sehari-hari. Berapa banyak kaukenali orang-orang dengan agoraphobia yang tidak depresi dengan diri mereka sendiri? Namun dialah, yang kukenal sejak 3-4 tahun lalu. Dia yang justru keluar dari kesuramannya dan menyemangati orang-orang lain. Bagaimana tidak aku mengaguminya? Yang kukenal dekat hanyalah orang-orang yang meributkan siapa introvert siapa ekstrovert; orang-orang yang merintih sakit kepala karena pekerjaan yang tidak seberapa lalu langsung mengeluh panjang lebar. Makanya lelaki ini membuatku terus kembali untuk menyemangatinya. Ya, karena ia terlebih dahulu menyemangatiku. Sampai saat ini ia masih dirinya yang kukenal dulu. Tidak nyaman ketika harus beranjak ke luar rumah. Masih harus meminum anti depresan, bolak-balik terapis. Masih menyemangati orang-orang lain.

Begitupun masih banyak yang ingin kuceritakan: tentang orang-orang yang belum menikah hingga usia tiga puluhan, dan kurang lebih agak dicemooh; tentang orang-orang yang sudah menikah, namun tidak bisa punya anak, dan lagi-lagi yah, kurang lebih dicemooh juga. Tentang orang-orang kuat yang memegang prinsip mereka, namun tetap toleran terhadap orang-orang lain yang berbeda ide. Tidak semua orang berniat bersikap diplomatis dan mau menjaga perasaan orang lain. Tidak semua orang memiliki tujuan untuk meraih hidup yang sebaik-baiknya. Malah kita-kita ini dicemooh idealis setiap hari. Padahal hidup harus dirayakan semampu diri sendiri, bukan? Untunglah tidak ada inginku untuk membenci orang-orang yang sulit sekali diajak bekerja sama untuk memperbaiki keadaan-keadaan yang menyebalkan ini. Mereka hanya sulit untuk bangkit dari kepahitan hidupnya sendiri. Padahal selalu ada pelangi sehabis hujan, juga mentari akan terbit lagi besok pagi. Jika tidakpun, minimal kita sudah melakukan yang terbaik, bukan?

Jadi, kata siapa semua orang bisa menjadi inspirasi?

Hanya orang-orang kuat yang mampu begitu.

Well, just my two cents on a rainy afternoon.