2016

Menulis review akhir tahun merupakan hal yang umum dilakukan. Meskipun demikian, saya akui bahwa saya mengalami sedikit kekacauan pada tahun ini. Misalnya diari yang jarang ditulis, tidak tertata rapi, bahkan ada kalimat yang tergantung di tengah-tengah dan tak selesai-kemungkinan korban ditinggalkan saya yang tertidur tak sengaja. Beginilah hidup saya pada tahun ini. Tentu saja ada banyak hal baik yang terjadi, namun ya itu… saya tidak cukup puas dengan apa-apa yang ada. Tentu pula saya tidak ingin menyalahkan hal-hal yang tidak dapat saya kendalikan. Lagipula, saya tahu bahwa saya sudah memberikan apa yang mampu saya berikan. Komentar-komentar bahwa saya ini idealis ataupun perfeksionis pun hanya membuat telinga saya berdengung, habis itu senyap. Karena saya tidak merasa bahwa saya demikian adanya. Ya sudah sih ya. Toh tahun ini terlewati jua. Mestinya saya syukuri saja, bukan?

#1
Q: “Bagaimana dengan diri kamu yang dulu? Misalnya diri kamu yang hidup sekitar sepuluh tahun yang lalu, kira-kira dia benci enggak sama kamu yang sekarang ini?”
A: “Oh, tentu saja enggak. Dia pasti senang sekali dengan saya yang saat ini memperbaiki banyak sekali kesalahan-kesalahan yang sudah ia buat semasa hidupnya.”
Q: “Yakin?”
A: “Hmm… dia enggak akan benci saya, hanya karena saya lebih dewasa dari dia. Toh prinsip hidup kami enggak beda.”
Q: “Dewasa? Bukannya cuma tambah tua?”
A: “Sorry, pertanyaan lain aja.”

⭐⭐⭐ out of 5 stars

#2
Keluarga itu penting, demikian peringatan sederhana dari salah seorang kakak pada banyak kesempatan. Berpegang pada ucapan tersebut, tahun ini saya lebih sering pulang ke rumah daripada tahun-tahun terdahulu, apalagi dibandingkan saat masa kuliah. Kumpul keluarga, jalan-jalan dan belanja. Tentu saja menyenangkan untuk melihat aksi keponakan-keponakan saya yang semakin cerewet, dan bukan hanya celotehan mereka lewat udara. Satu hal yang perlu saya akui adalah betapa menyebalkannya pandangan para tetangga sekitar yang rasanya jarang melihat gadis satu ini berkeliaran di kompleks sekitar. Enggak, saya bukan pendatang. Yang pendatang itu ya situ.

⭐⭐⭐⭐ out of 5 stars

#3
“Ini memang tahun spesial kamu kali ya.” komentar seorang teman, dengan seriusnya atau juga sedikit bercanda, entahlah.
Saya sendiri hampir tidak pernah menganggap bahwa sebuah (atau beberapa) kencan adalah sesuatu yang spektakuler. Entah juga kalau orang lain. Kalau misalkan pertemuan seorang lelaki dan seorang gadis menjadi bahan pembicaraan yang heboh melulu tentunya tidak akan menyenangkan didengar, apalagi untuk dibahas. Bahwasanya, pada umumnya pertemuan demikian hanyalah bergenre kasual, bukan? Iya, ‘kan? Ataukah memang saya yang (lagi-lagi) salah?

⭐⭐⭐ out of 5 stars

#4
Kalau dibilang pencapaian, ya pasti yang utama tentang masalah pekerjaan. Ya, saya cukup sulit membayangkan pencapaian lain di luar pekerjaan. Begitu pula saya tidak merasa mudah untuk merangkum semuanya kali ini. Apalagi pada tahun ini, banyak pelimpahan kewajiban yang tertuju kepada saya. Dua di antaranya hal yang cukup besar untuk orang seusia saya, dengan jam terbang yang sebenarnya minim dibandingkan beberapa orang lain. Bagaimanapun, saya hanya merasa terlalu perlu untuk mengerjakan segala sesuatu dengan apapun yang mampu saya berikan. Waktu, tenaga, komunikasi, you name it. Hmm… oke, katakanlah saya memang sedikit berbeda. Bahwa saya tidak terlalu peduli akan pujian, apalagi menganggapnya sebagai hal yang perlu dikejar. Kadang, yang lebih saya harapkan adalah kepuasan pribadi saya sendiri. Rasa bahagia karena memberikan sesuatu sepenuh-penuhnya. Well, yah, tidak peduli orang lain paham atau tidak. Makanya, yang dikatakan sudah baik belum tentu telah memenuhi apa yang saya mau. Mungkin memang akarnya adalah sulitnya saya untuk bersyukur akan diri saya pribadi. Atau seperti yang mama saya sering tambahkan, “Harus gimana (lagi) supaya kamu senang?”. Oh, tidak. Saya tidak ambisius. Saya hanya… sulit disenangkan. Bahkan oleh diri saya sendiri.

⭐⭐ out of 5 stars

#5
Sudah beberapa tahun belakangan saya mengurus keuangan pribadi dan berusaha teratur dengan mencatat segala sesuatu. Tahun ini, lagi-lagi hal ini tidak memuaskan saya. Sekalipun dalam hal ini beberapa keinginan telah tercapai dan saya bahkan bisa bolak-balik sana-sini, serta menikmati ini-itu, namun tidak banyak yang terekam dengan rinci. Saya benci hal demikian.

⭐⭐ out of 5 stars

#6
2016 mendorong saya untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan banyak orang. Atau mungkin saya cukup dipaksa sebenarnya, sih. Karena saya ditempatkan dengan beberapa partner, sementara sebenarnya saya lebih senang bekerja sendiri. Tenang saja, semuanya berjalan baik. Sangat baik malah. Banyak sekali hal baik dan pujian yang masuk kalau perlu dikaitkan dengan #4. Sekalipun demikian, saya tidak sedang membahas tentang pencapaian, dan justru lebih banyak memandang hal ini dari segi bersosialisasi. Ya, tentu saja kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk memimpin satu–dua hal, juga mengerjakan satu-dua proyek mau tidak mau akan mendorong saya untuk menjalin kerja sama dengan macam-macam orang. Orang-orang yang menyenangkan biasanya menjadi rekan kerja yang juga mendukung. Orang-orang yang sulit untuk berkooperasi akan melatih kemampuan saya dalam bernegosiasi. Saya tidak menganggap diri saya buruk-buruk amat dalam hal ini. Karena yang saya tahu, saya menawarkan solusi. Kalau tidak diterima, ya kita cari solusi lain. Tidak selalu mudah, namun kemampuan untuk menjelaskan banyak hal lewat kata-kata sebenarnya akan sangat membantu. Soalnya… sebagian besar manusia sering sekali menganggap bahwa orang-orang di sekitarnya mampu membaca pikiran satu dengan yang lain. Padahal, kalau kita tidak bicara dan mengungkapkan sesuatu, orang lain tidak selalu akan tahu, bukan? Jadi, berbicaralah secukupnya. Masalah orang lain mendengarkan atau tidak, itu urusan belakangan. Sekiranya hal demikian akan membantu melatih hubungan interpersonal yang lebih nyaman. Setidaknya, demi kewarasan pribadi.

⭐⭐⭐⭐ out of 5 stars

#7
Banyak sekali jalan-jalan pada tahun ini. Satu-dua tidak saya ikuti, karena saya terlalu larut dengan diri saya sendiri. Saya pun menyempatkan diri untuk menonton (cukup) banyak film pada paruh kedua 2016. Bahkan sempat maraton HIMYM dan (cukup) sedikit membuat kepikiran or maybe I’m just baper. Akan tetapi, saya memang lebih banyak mengikuti kegiatan outdoor. Mulai dari mengunjungi museum, kuburan tua, air terjun, pantai, sampai puncak gunung di atas awan, pula macam-macam lainnya. Ajakan untuk tahun depan juga sudah menumpuk. Yang saya perlukan adalah pengaturan sumber daya yang saya miliki, yang tentu saja… tidak cukup mudah untuk menyatukan segala sesuatu sekaligus. Kadang-kadang menyebalkan juga kalau mendengar celotehan diri sendiri, “Silvya, kamu cuma satu. Oke?”. Well, memang iya, sih.

⭐⭐⭐⭐ out of 5 stars

Ya, demikianlah 22 ⭐ dalam 7 bidang yang melengkapi kehidupan saya pada tahun ini.

Yang saya amati, beberapa orang menjalin hubungan baru, juga memasuki fase baru dalam kehidupan mereka, dalam berbagai konteks yang mereka jalani masing-masing. Saya sendiri hanya dapat turut berbahagia. Saya punya bagian saya sendiri, yang belum dapat saya lakukan.

Yang saya amati pula, beberapa orang kehilangan hal-hal berharga, juga orang-orang berharga dalam kehidupan mereka, dalam berbagai konteks yang mereka jalani masing-masing. Saya sendiri hanya dapat berempati semampunya. Saya melakukan apa yang saya anggap sebagai bagian yang dapat saya lakukan.

Iya, tidak ada yang terbaik, tidak ada pula yang terburuk. Kadang saya malah menganggap bahwa itulah sisi terbaik dan terburuk dari tahun ini. Pula bahwa yang ada hanyalah kesempatan-kesempatan, yang bahkan… seringkali tidak (mau) saya tanggapi. Memang harus diakui bahwa ada sisi dari diri saya yang tidak berubah sejak sepuluh tahun lalu.
Well, mungkin memang saya hanya bertambah tua.

#Chancefor2017: (atau tepatnya harapan untuk 2017?)
• memenuhi lebih banyak hal dari daftar 100 saya. sejak 2014 sampai tahun ini baru 17/100. padahal, yang membuat hidup terasa lebih excited adalah tantangan, bukan?
• tidak sok sibuk, agar sedapat mungkin menerima –sekalipun tidak harus semuanya– ajakan-ajakan (dengan pelbagai macam maksud) yang ditawarkan.

Yah begitulah selintas hidup saya pada tahun ini.
Begitu random, bahkan untuk menganggap bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyanyikan, “I’ve had… the time of my life~ and I owe it all to you!”

.

Mari lambaikan tangan pada 2016!