Coretan Akhir Februari

Sepertinya 2017 dimulai dengan macam-macam kekacauan. Entahlah. Kurasa demikian. Sudah dua bulan dan diariku baru terisi kurang lebih enam lembar bolak-balik; dua belas halaman jadinya. Begitulah. Banyak hal masih mendorongku bertanya-tanya.

Apakah dengan bertambah usia, diri sendiri jadinya makin tidak ingin meluangkan waktu untuk menulis?

Kalau kuberikan alasan karena sibuk, sepertinya basi sekali. Toh banyak sekali waktu-waktu yang diluangkan untuk melakukan macam-macam aktivitas lainnya. Lari pagi, jalan-jalan wisata, naik-naik gunung, outbond, flying fox, macam-macam lainnya.

Ya, kalau ada yang mengenal saya beberapa tahun lalu, tentunya saya pada waktu-waktu itu cukup amat berbeda dengan saya pada masa sekarang. Karena saya pada masa kini melakukan hal-hal yang tidak akan saya lakukan dulu. Sebagian besarnya adalah hal-hal baik, sebagian lagi entahlah.

Salah satunya adalah tentang minimnya aktivitas menulis. Jarang menulis adalah hal yang ehm, saya rasa buruk bagi diri sendiri. Karena dengan melakukan inilah saya merasa mampu menyusun hal-hal carut-marut yang kusut di dalam kepala. Tentu saja saya bukan pribadi yang ahli dalam komunikasi lisan. Apalagi pada waktu-waktu dalam tekanan, deadlines, atau macam-macam singgungan sosial lainnya. Saya mungkin saja menjadi sosok yang terlalu banyak berpikir dan bahkan yah, seringnya menyebalkan untuk diajak bercengkerama. Saya tahu sisi negatif diri sendiri, kok. Kadang-kadang tahu sendiri, kadang-kadang tahu karena diberitahu orang lain. Terlalu serius, jarang senyum, terlalu menyibukkan diri, idealis, juga macam-macam lainnya. Sebagian kecilnya saya pedulikan, namun tidak bagi sebagian yang lebih banyak lagi.

Mungkin sebenarnya pada tahun 2017 ini, saya sedang berusaha menjadi egois. Atau ya itu, teman cerita yang seimbang tidak juga benar-benar ditemukan. Karena sulit sekali sebenarnya untuk larut dalam small talk dan candaan yang lebih banyak tidak lucu.

Mungkin karena itulah saya membuang diri ke dalam kesibukan. Being busy is the best painkiller, they said. Sudah menjadi keputusan saya untuk percaya pada kalimat tersebut.

Sekalipun demikian, saya tidak menyukainya. Rasa kurang karena ada sesuatu yang tidak ada. Rasa aneh ketika lama tidak menulis. Rasa bersalah karena sibuk dan tidak juga mau menyempatkan diri untuk merenungkan macam-macam hal yang sebenarnya perlu demi kewarasan pribadi.

 

Akan tetapi, yah sudahlah jika memang demikian yang telah terjadi. Akan kuanggap saja bahwa mungkin memang akulah yang terlalu serius. Dan kuharap aku tidak cepat mati. Karena masih ada banyak hal yang harus kukerjakan.

Tidak, maksudnya… masih ada hal-hal yang ingin kutuliskan.