Tentang Sendiri

“Enggak semua orang tahan dengan loneliness kayak kamu.”

Iya, aku tahu benar soal itu kok. Enggak usah diulang-ulang seakan-akan kamu iri karena enggak bisa seperti itu.

Apa? Terlalu cuek? Ketus? Kelihatan enggak peduli?

Well, aku nggak merasa perlu memberitahu apa-apa yang kupedulikan di muka bumi ini. Menurutku bukanlah sesuatu yang amat perlu.

Memangnya kenapa kalau aku tidak berbagi perasaan pribadi? I love living in my own head. Banyak hal lebih baik disimpan sendiri, karena tidak ada baiknya ketika dibahas dengan orang(-orang) lain. Ada banyak alasan sebenarnya. Tidak tepat topiknya, tidak tepat guna obrolannya, tidak tepat waktunya. Belum tentu kamu juga akan paham, bukan?

Lalu memangnya kenapa kalau aku enggak suka ditunggui seperti itu? Memangnya kenapa kalau aku lebih suka pergi sendiri? Kalau aku tidak-belum bisa diikat di satu tempat atau mungkin pada satu pribadi? 

Kalau kamu bertanya, harusnya kamu sudah siap dengan jawaban yang akan ada. Jawaban yang mestinya terpampang di hadapanku, bisa jadi di hadapanmu juga. Bahwa aku (mungkin) belum menemukan pribadi yang tepat untuk mengubah segala sesuatunya atau barangkali sosok yang patut untuk hidup bersama kenyataan yang ada.

Well, memang aku selalu merasa baik-baik saja, sampai ada orang yang mendatangi dan berkata bahwa apa yang ada seharusnya tidak baik-baik saja. Entah sih. Aku terganggu, iya. Bukan karena kenyataannya seperti itu, namun karena sangat disayangkan bahwa ketika diri sendiri berusaha mengerti pribadi(-pribadi) lain, namun diri sendiri tidak diperlakukan demikian.

It reminds me that the standard is too way higher than they can bear. Okelah.