(Bukan) Untuk Dipikirkan

Sesi I (29 Januari 2015):

“Kamu tahu, you push people away and that’s not a good sign. Look at this…,” beliau menunjuk ke arah grafik pada selembar kertas A4 tersebut dengan ujung pena. Hostile, kata yang tertera di sana. Lalu, titik grafik yang tinggi -maksimum, sampai batas atas bidang berwarna putih.

Aku masih diam. Mengangguk-angguk tidak jelas.

“Dan kamu pendiam ya. Lihat.” ungkapnya lagi dengan nada perintah. Aku melihat titik-titik Quiet dan Expressive Responsive berada pada warna putih. Tidak baik. Sama halnya dengan kriteria Hostile tadi.

Sesi II (12 Februari 2015):

“Iya, kan kamu memang ketus, kan?” usutnya.

“Karena kamu juga dominan…”

Sesi III (22 Februari 2015); re-schedule sesi III (12 Maret 2015):

“Kamu punya nilai yang bagus, tapi dengan kelemahan seperti ini, saya bisa pastikan kamu tidak dapat menggunakan semua potensi yang ada dalam diri kamu. Sekali lagi, saya ulangi bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kamu lakukan, karena kamu seperti ini.”

Aku ingat aku menundukkan kepala menatap hasil di depannya itu.

“Sil, katakan… kamu mau menikah?”

Aku tersenyum, sepertinya agak sinis, karena beliau agak membelalakkan mata.

“Ya.” jawabku kemudian.

“Kalau begitu, akan sulit kalau kamu terus begini.”

Aku terdiam lagi. Dalam hati, kubertanya, lalu aku harus bagaimana?

“Bu, saya mengenal orang-orang yang terlalu ekstrim dalam berpura-pura baik terhadap orang lain. Mereka kok ya bisa tersenyum dan tertawa terbahak-bahak di hadapan seseorang dan kurang dari lima menit orang tersebut pergi, mereka membicarakan hal buruk di belakangnya. Does that even make sense?”

Ibu Susan sempat terdiam. Mengangguk-anggukkan kepala. Aku tahu dia akan setuju denganku.

“Ya, ada orang-orang yang ekstrim seperti itu. Memang seimbang adalah lebih baik. Coba kamu lihat, kamu composed, kamu light-hearted, simpatik, objektif, dan disiplin. Kamu hanya sulit untuk bersosialisasi.”

Aku melihatnya dengan berusaha untuk memahami kata-katanya semampuku. Aku paham, lalu kenapa? Apakah aku akan punah karena kalah oleh seleksi alam? Hell, no.

Teng! Sejam telah berlalu. Kami belum mencapai kesepakatan dan akhirnya saya disuruh kembali untuk keempat kalinya, saudara. Keempat kali!

.

Guess what? Aku tidak pernah kembali.

***

Waktu itu, bahkan hari ini pun aku tidak sedikit pun menanggapi ancaman beliau secara serius. Aku cukup yakin akan mampu menjalani segala sesuatu dengan baik. Bukan karena aku sempurna. Terserah pula komentar bahwa idealisme dan ekspektasi tinggi yang kumiliki akan menjadi kerikil yang membuatku tersandung. Aku terlalu sadar bahwa aku akan mengusahakan segala sesuatu, termasuk dalam hal bersosialisasi ini. Tidak terlalu buruk, bukan? Atau setidaknya waktu itu aku berpikir demikian.

/ “Orang yang sulit percaya kepada orang lain biasanya juga susah untuk dipercayai.”
Tepat saat itu juga aku melengos dan pergi sebelum keinginanku melempar mukanya kuwujudkan menjadi nyata. Sebab aku yakin dengan diriku sendiri. Itu cukup, setidaknya bagiku.

/ “Dia itu nggak punya ambisi untuk jadi leader.”
Iya, memang demikian. Bukan berarti aku tidak mampu memimpin, bukan? Apakah tiba-tiba aku jadi meragukan? Okelah jika memang aku masih disibukkan dengan urusan teknis, sehingga kemampuanku dalam mengambil keputusan strategis belum terlihat jelas. Minimal aku tidak main-main, bukan?

/ “Kamu egois. Kamu nggak juga belajar dari yang sudah-sudah.”
Okay, terserahlah.

.

.

Padahal jelas aku belajar. Bahwa menjadi dewasa tidak ideal seperti yang diharapkan. Tersenyum di hadapan orang yang tidak kamu sukai, berpura-pura baik untuk mendapatkan sesuatu, tertawa akan hal-hal menjijikkan, anggaplah dirimu hadir sementara jiwamu tidak di tempat yang sama: itulah yang dituntut untuk dilakukan.

Sudahlah.

Oh heck! Those aren’t things I can’t do, okay?

Advertisements

Tanya

“Apakah salah memiliki masa lalu?” tanyamu.

Aku terdiam. Setiap orang punya, aku tahu. Kenangan indah atau kelam, siapa yang dapat memilihnya.

“Yang penting adalah hidup pada hari ini. Yang terpenting saat ini adalah kamu dicintai dengan luar biasa.” ungkapmu lagi.

Aku terdiam. Kamu sedang menyalahkanku karena menghakimi orang lain. Seiring dengan itu, kamu mencoba menenangkanku agar tidak memikirkan hal-hal yang tidak perlu.

Dengarkan aku… aku berusaha menata perasaan dan pikiranku sendiri. Aku ingin menyayangi seseorang dengan luar biasa dan dikasihi dengan kehebatan yang sama pula. Berusaha memberikan dan mendapatkan. Apakah itu sesuatu yang tidak mungkin?

Ia menatapku dalam-dalam. Ada kerutan di dahinya, pasti akupun demikian.

“Apakah salah memiliki masa lalu?” ulangmu.

Aku terdiam.