Tanya

“Apakah salah memiliki masa lalu?” tanyamu.

Aku terdiam. Setiap orang punya, aku tahu. Kenangan indah atau kelam, siapa yang dapat memilihnya.

“Yang penting adalah hidup pada hari ini. Yang terpenting saat ini adalah kamu dicintai dengan luar biasa.” ungkapmu lagi.

Aku terdiam. Kamu sedang menyalahkanku karena menghakimi orang lain. Seiring dengan itu, kamu mencoba menenangkanku agar tidak memikirkan hal-hal yang tidak perlu.

Dengarkan aku… aku berusaha menata perasaan dan pikiranku sendiri. Aku ingin menyayangi seseorang dengan luar biasa dan dikasihi dengan kehebatan yang sama pula. Berusaha memberikan dan mendapatkan. Apakah itu sesuatu yang tidak mungkin?

Ia menatapku dalam-dalam. Ada kerutan di dahinya, pasti akupun demikian.

“Apakah salah memiliki masa lalu?” ulangmu.

Aku terdiam.

Advertisements

Sebuah Cerita: It’s (not) Complicated

Tentang cerita, yang kadang membingungkan. Perlu dibaca berulang kali, perlu didengarkan lagi dan lagi, perlu pula diceritakan kembali. Agar menjadi sesuatu untuk setidaknya sedikit dimengerti. Oleh diri sendiri dan mungkin juga oleh orang-orang lain.

***

Lima hari yang lalu aku sedikit ragu untuk menelepon beliau. Setelah sedikit menimbang-nimbang, kuputuskan untuk mengirimkan pesan singkat lewat whatsapp.

Saya: [Mbak, boleh telepon?]

Setengah jam kemudian muncul panggilan masuk. Aku agak terburu-buru mengangkatnya.

“Ada masalah apa memang?” sambutnya bahkan sebelum mendengar suaraku. Begitulah aku mendadak bingung untuk berbicara.

“Nggak juga sih. Pengen cerita-cerita aja.” kilahku kemudian.

“Hmm… kalau gitu tunggu nanti bentaran gitu. Kamu sadar toh di sini waktunya lebih telat satu jam. Dikit lagi baru aku pulang.”

Ya ampun!

“Sorry, mbak. Nggak pengen ganggu juga. Sorry.”

Beliau tertawa seraya melanjutkan, “Iya. Iya. Nanti aku telepon ya. Dah…”

Duh rasanya tidak nyaman karena mengganggu waktu kerja sekaligus menyusahkan orang lain. Sekalipun barangkali beliau tidak merasa begitu, karena memang orangnya seperti itu. Senang mendengarkan orang lain.

Aku menunggu teleponnya sambil menyeduh teh hijau dan memakan lauk sisa tadi siang. Pada dasarnya aku tidak suka makan malam dan saat ini aku sedang malas untuk berkreasi dengan masakan dan macam-macam lainnya. Beberapa hari belakangan pula aku kehilangan keinginan untuk makan. Masih untung aku sadar diri untuk tetap mengisi perut yang lapar.

Lalu aku duduk di kursi menghadap meja, kemudian menulisi diariku. Sebentar saja. Aku sedang kehilangan kemampuan merangkai kata, sebab banyak hal yang terjadi bersamaan. Dan aku benci rasa bingung. Juga ketidakmampuan untuk memahami hal-hal membingungkan seperti demikian.

Jam empat lewat empat puluh lima menit waktu setempat, beliau menelepon. Aku mengangkatnya dengan agak enggan sebenarnya. Masih merasa tidak enak mengganggunya. Sekalipun demikian, kemudian aku bercerita juga.

Berat. Bingung. Kesal pada diri sendiri. Yang paling kuingat dari monologku beberapa menit itu adalah emosi-emosi demikian. Di seberangku hanya sesekali terdengar hmm juga beberapa kali tarikan napas. Kemudian aku mengakhiri ceritaku yang sepertinya berisi banyak kutipan kronologi dari diariku dengan satu kata bodoh yang sering kugunakan saat tidak tahu mesti berkata apa lagi, “… jadi?”

“Kamu memang masih menyebalkan ya, Sil.”

Aku tertawa pelan, mengimbangi pandanganku yang kian memburam.

“Kamu enggak bisa menerima orang lain, karena kamu sendiri yang memutuskan demikian, bukan? Aku bisa bilang apa.”

Aku menarik napas dengan tertekan.

“Iya. Aku tahu.”

“Itu jawaban yang sama menyebalkannya dengan diri kamu, Sil.”

Aku diam dan mengerutkan dahi sendiri.

“Kamu sok tahu, Sil. Itu nggak baik. Lalu nanti kamu bilang bahwa kamu sendiri tahu bahwa kamu sok tahu. Muter-muter nggak jelas kayak ABG labil. Bikin jengkel. OK?” urainya blak-blakan.

Aku tahu. Aku memiliki pemikiran yang sama.

“Maaf deh.” sahutku pendek. Sulit mencari kata-kata penjelas.

“… jadi?” dibalasnya aku dengan pertanyaanku sendiri.

“Aku memang keras kepala banget kali ya. Banyak permintaan udah dipenuhi Tuhan. Hanya satu ini saja, dan aku jadi keras kepala. Dulu ada yang pernah bilang kalau aku ini orang yang enggak punya semangat juang. Kalau aku ini cepat banget menyerah sama sesuatu. Dikasih komentar begitu, aku kepikiran berhari-hari. Memang kok ambisiku nggak setinggi orang-orang lain. Sekarangpun, kalau memang pada dasarnya begitu, orang yang cepat menyerah ini menemukan sesuatu untuk diperjuangkan hanya untuk disuruh menyerah kembali. Begitukah? Life is funny sometimes.”

“Aku paham hal-hal seperti itu, kok. Sekalipun menguji kesabaran orang lain karena kamu terus-terusan keras kepala mengenai suatu hal juga bukan hal yang bijak. Kamu mengerti?”

“Maksudnya?”

“Sudah berapa lama kamu keras kepala seperti ini? Sudah berapa lama kamu bangga terhadap diri sendiri karena ‘ahli membuat orang lain menyerah’?”

Bukan hanya komentarnya yang menekan. Nada suaranya juga. Dan aku tidak menyukainya. Aku ingin membantah isi kalimatnya. Sekaligus membalas nada tidak menyenangkan yang ia keluarkan, namun kemudian aku diam saja.

“Kamu akan menyadarinya sendiri kok. Bahwa ada hal-hal yang tidak perlu seperti ini. Dari sisi dirimu sendiri. Aku percaya kamu selalu mengusahakan yang terbaik. Juga untuk orang-orang di sekitarmu. Dan aku bangga karena hal itu.”

Aku masih diam. Juga tetap tidak berani bertanya mengenai kisahnya saat ini. Aku yakin ia akan memberitahuku pada waktu yang tepat dan sebaiknya aku tidak perlu terlalu penasaran.

“Jangan diam aja dong.”

“Aku cuma merasa bego, tapi mbak bisa tenang, kok. Aku pasti baik-baik aja.”

“Memang. I know you.

Thank you.”

“Kamu itu seperti itu, kok. Pusing sendiri, reda sendiri juga nantinya.”

“Memang.”

“Sekalipun kisah kamu enggak berubah juga sejak tahun-tahun lalu. Cobalah untuk mencari sudut pandang lain.” katanya menertawakanku pelan. Membuatku sedikit merasa bodoh karena memang ceritaku hanya begitu-begitu saja. Orang lain bisa saja bosan mendengarkan -jika memang aku bercerita.

“Aku berusaha terus, kok. Cuma kan memang nggak gampang. Sekalipun kadang aku pikir nggak begitu sulit juga, kok.”

“Jangan muter-muter ngejelasin. Kamunya yang memang susah move on!”

“Yah memang enggak ada yang bisa buat begitu.” bantahku lagi.

Let go, Sil! Ah, nanti-nanti kita bicara lagi deh. Sekarang kamu yang paling perlu untuk jujur sama diri sendiri, mengakui kelemahan sendiri, dan kalau bisa… mengambil keputusan tegas untuk ngapain. Aku doakan yang terbaik untuk kamu, Sil.”

Thank you. Again.”

“Duduklah sana. Minum teh manis. Selamat berpikir ya. See you!”

Sepertinya beliau harus buru-buru pergi. Teman sekamarku sudah pulang. Aku menutup telepon. Menarik napas pelan.

Aku masih sedikit mencoret-coret diariku. Berusaha menyusun hal-hal yang sepertinya membingungkan, sekalipun sebenarnya tidak demikian jika diamati baik-baik. Memang. Aku pasti baik-baik saja. Because actually it’s not that complicated.

Yeah I guess so.