105 Days of Quotes

(9 Agustus 2014 – 22 November 2014)

 
“Karena yang tulus biasanya kalah dengan yang cantik.”

–setelah perkenalan di depan sejumlah orang ketika yang berkulit putih disoraki dengan lebih gembira. Well, aku nggak suka tindakan rasis dan aku nggak butuh tepuk tangan atas dasar nggak jelas dan nggak penting seperti demikian. I don’t appreciate it.

“Ini bukan tentang seberapa lama kamu mengenal seseorang, sebab hal itu mungkin memiliki pengaruh, tetapi tidak signifikan. Seharusnya adalah tentang seberapa kalian saling terbuka satu sama lain.”

-‘Keterbukaan adalah awal dari pemulihan’, sebuah poster seminar Kristen yang dulu sempat ditunjukkan seorang teman.

“Untuk mencapai target, kadang kamu tidak perlu memakai pistol ataupun dart. Gunakan batu atau apapun yang ada di tanganmu. Gapai itu!”

-♪ …seize the day or dieee..ehm, ganti lagu aja. MLTR again. \O/

“Kamu sebagai profesor di bidang ekonomi boleh jadi sangat pintar berbicara tentang kemiskinan. Akan tetapi, boleh jadi pula kamu tidak tahu apa-apa tentang realita di sekitarmu.”

-dari sebuah buku pelajaran.

“Disukai oleh banyak orang adalah hal penting, tetapi bukan terpenting. Kompromi itu baik, tapi tidak selalu.”

-satu hal yang dapat diakui: tidak semua orang memegang prinsip conformity.

“Yang terbaik akan kembali ke sekolah.”

-#iya

“Sekolah itu bukan cuma untuk status dan agar kamu tidak disebut pengangguran.”

–Mr. N, mentor saya yang sangat baik, pria banget dan memiliki botol minum berwarna pink persis seperti punya saya.

“Mungkin saja orang-orang yang kita kenal indecisive itu hanya tidak ingin kecewa.”

-(lagi)

“Perempuan itu bukan hanya di kasur, dapur dan sumur. Kalau bisa, juga di kantor.”

–Mr. N, yang memuji bahwa istrinya pintar dan selalu mengumbar bahwa beliau sayang sekali sama istrinya. Saya juga kok, pak. Sayang sama seseorang, bukan istri bapak tentunya. 😀

You are everybody’s old friend...”
“Hmm…”

-tidak bisa disangkali, meski butuh banyak pihak yang memvalidasi.

“Dari kantor ke kantor ada tiga buku wajib bagi ibu-ibu untuk dijadikan bahan bacaan: katalog oriflame, katalog sophie martin, juga katalog tupperware.”

-#barutahu

Thank you for bringing the best out of me. Forever, the strongest word in the world. I hope you’ll be my inspiration as long as forever.”

-tidak terkatakan, tapi harusnya orang itu sudah tahu, kok.

“Mudah sekali untuk menjadi negatif dan superkritis. Jauh lebih sulit untuk memberikan semangat.”

–sepotong Letter to Lisa, belum sempat diselesaikan.

“Kamu merasa tidak layak, tetapi akulah yang melayakkanmu. Kamu merasa tidak pantas dicintai, tetapi akulah yang mencintaimu.”

–sudah pernah mendengar kata-kata ini, dan seperti ada keinginan untuk mengungkapkan kepada orang lain yang membutuhkannya, sekiranya Tuhan memberikan keberanian itu.

“Ceritaku… aku tidak ingin selalu mengakhirinya dengan happy ending…”

-hidup di dunia nggak bisa selalu begitu, kautahu?

“Hujan yang kaunikmati dari balik kaca jendelamu itu sepi dan sendiri… jadi, mau ya di sampingku?”

-gombal, tapi hanya sedikit, kok.

“Aku bisa berusaha bertahan dengan tantangan mental yang ada, tapi kalau kamu nggak kuat untuk provide secara emosional, aku bisa bilang apa?”

-tak terkatakan yang lain, tapi yang paling fatal.

“Serespek apapun saya terhadap seseorang, entah mengapa ketika orang tersebut berlama-lama membahas ras dan jender, minimal ia jadi punya sedikit kecenderungan untuk menyebalkan.”

-mungkin bagi saya saja.

“Kenapa aku males jawab kamu? Karena biasanya kamu sudah tahu jawabannya, tapi tetep nanya HANYA untuk coba-coba.”

-iya, orang serius kok malah dicoba-coba.

“Maaf ya, karena aku bukan kamu. Karena aku nggak bisa mengerjakan apa yang kamu kerjakan. Karena mungkin kamu nggak mau tahu-menahu dengan apa yang kukerjakan.”

-sayang sih, tapi yasudahlah.

“Aku nggak bisa bicara. Kata-kata dari mulutku tidak selalu akan menyenangkan. Biarkan aku menulis. Apapun itu, setidaknya kupikirkan berulang kali sebelum kubiarkan kamu membacanya.”

-yah, let me write ya.

“Apakah dengan mengingat seseorang, berarti kita memiliki kenangan yang buruk dan pahit dengan orang tersebut? Tidak selalu harus seperti itu, bukan?”

-tidak.

“Hati yang dingin, hati yang tidak percaya.”

-ah, itu kamu.

“Berdamai dengan diri sendiri, jadikan masa lalu sebagai bagian dari pengalaman. Melangkah kepada hal yang baru.”

-pada sebuah poster buatan anak SMA.

“Diammu dan berisikmu adalah kamu. Aku mau terima apa adanya.”

-jadi?

“Untuk melupakan yang lama, kita HARUS punya yang baru.”

-prinsip yang belum akan berubah dalam jangka waktu pendek ini. Ada rekomendasi baru?

“Harusnya kamu masukin kopi dulu baru air panas. Gimana sih?” tegur Mr. N.
“Iya, pak. Idealnya begitu. Saya juga sukanya begitu. Tapi kadang, kenyataan nggak begitu. Saya harus masukin dulu air panasnya, sebelum dingin. Saya nggak suka kopi dingin. Ini kan air masak kompor, bukan dari dispenser.” saya dari dalam hati.

-percakapan amburadul pada hari-hari listrik padam. #nasibluarjawa

I wanna talk about it, how you broke my heart.”

yeah, but actually with you, not anyone else.

“Kalau kamu punya kesempatan untuk berbahagia, ambillah dan berbahagialah.”

-seorang kakak(?) yang sepertinya baik hati, tapi maaf ya life isn’t always about happiness. Well, it’s not like I have any better concept, but yeah, there you have it.

“Keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Kamu mau dapatkan semua itu dalam satu orang?”

-sebuah refleksi, bahwa banyaknya keinginan manusia: sederhana demi sederhana, lama-lama menjadi kompleks juga.

“Kamu nggak berpikir bahwa aku adalah perempuan yang tidak punya tujuan, bukan? Well, kamu beri jawaban apapun sebenarnya aku tidak peduli.”

-ya, tidak peduli.

“Tuhan, kami tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Yang kami harapkan adalah ini dan itu, tapi yang tersedia tidak selalu seperti itu. Perencanaan dan pengharapan sering atau mungkin selalu tidak sesuai.”

-di tengah gelombang kekhawatiran tentang nyawa yang hari ini ada dan besok mungkin tidak lagi; penyelamatan, penghiburan, apapun itu… kami membutuhkannya.

“Mazmur adalah penting, ketika kamu tidak sanggup mengungkapkan apa-apa lagi.”

-ada, ada waktu-waktu ketika kata tak lagi berguna dan suara lewat tanpa permisi.

“Please, let me be the cheerful girl I want to be.”

-mungkin kamulah orangnya? #MLM

“Dig, dig, a little bit more, please, because I need you to do that. Save me….”

-sekedar potongan kata-kata dari masa yang telah lewat.

“Mengetahui perasaan seseorang jauh lebih menyenangkan dibandingkan mengetahui apa saja pengetahuan yang sudah mereka simpan dalam kepala mereka…”

-sepenggal kalimat yang masih dipegang erat sampai saat ini.

“Untuk apa ngelakuin sampe segitunya. Kalian bego banget ya!”

-sedikit teriakan penuh amarah yang seharusnya berbunyi: “Kalian ingin mengatur kehidupan asmara orang lain?!” Well, jodoh-jodohan diciptakan bukan untuk saya.

“Untuk berbohong, untuk menyembunyikan banyak hal, maaf ya!”

can’t say that I hate lies; I have lied, at times, for many reasons.

“Alasan yang cukup untuk memperjuangkan seseorang?”

-satu lagi pertanyaan yang belum terlihat jawabannya dalam perjalanan dekat ke depan; meski demikian, ada sedikit bisikan: bahwa aku ingin kamu memperjuangkan aku juga.

“Apakah kita menghambat satu dengan yang lain? Kukira tidak. Justru, aku terhambat jika tidak ada kamu. Jadi tetap di sana ya, please.”

-untuk kesekian kalinya, kata-kata yang tidak tersuarakan.

“Hidup itu tidak pernah mudah, tetapi kesusahan satu hari cukuplah satu hari.”

-tidak pernah bisa menyangkal tentang hal ini sih. Selesaikan hari ini dan mulai besok yang baru!

“Nanti juga dari belakang aku sadar sendiri kok, ‘Kok bisa ya aku naksir orang macam begini?!’. Bukan berupa penyesalan sih, hanya kebodohan yang sedikit saja.”

-ehm, begitulah.

-Yang lebih buruk sudah pernah kamu lewati dan sekarang hanya hal secuil ini sudah menggentarkan kamu? Jangan pernah lupakan masa lalu, karena yang menopangmu adalah hal-hal di belakangmu.
-Tapi, bagaimana kalau hal-hal di belakang juga adalah hal-hal yang mendorongku untuk terjatuh? Kamu tidak lupa akan hal-hal yang sudah lewat, bukan?
-Semua itu bukan salahmu.
-Aku tidak bilang apa-apa tentang kesalahan siapa-siapa.
-Kamu tidak melakukan apa-apa. Semua itu bahkan tidak ada hubungannya dengan kamu.
-Ada. Positivisme kamu tidak akan mengubah kenyataan bahwa ada hal-hal buruk yang sudah terjadi dan aku masuk di dalamnya.
-Kamu hanya tenggelam dalam hal-hal negatif.
-Dan yang kamu lakukan hanya melarikan diri.
-Setidaknya aku tidak mau terus berputar-putar dalam sistem yang rusak seperti otakmu.
-Kamu jangan mulai keterlaluan. Kamu hanya terus melarikan diri dan suatu saat nanti, percaya deh kamu akan kena batunya.
-Kamu nyumpahin nih?
-Terserah persepsimu.
-Nah, lihat… sekarang, malah kamu yang..
-Ah, shut up!

-sebuah percakapan dengan cermin.

I can return the feeling, but what’s the point by doing that? To make you happy? To make me happy? Is it for real? I don’t understand happiness as the basic goal of life. I don’t understand the background of the idea. I don’t understand the definition of happiness. I don’t stand on the positive psychology, because I don’t understand it. Or maybe I understand about it, but I can’t accept it. So, what? Do you really wanna try to make me understand about that? Well, take your time. But maybe it’s better for us to do something more valuable than wasting our time on that matter.

-rangkuman: ‘maaf ya, aku nggak bisa’.

Doa, jangan pernah lupa bahwa hal itu selalu menjadi sesuatu yang terpenting dalam hidupmu.

-bisikan terhadap diri sendiri.

‘Cuma’ karena…
Ya, aku harap kamu sudah memikirkannya matang-matang sebelum mengeluarkan kalimat tersebut… karena yah, memang sih tidak semua hal yang penting bagi diri sendiri adalah juga hal yang sama pentingnya bagi orang lain.

-jadi, pikirkan lagi ya tentang ‘cuma ‘ itu.

“Kamu kan mandiri ya…”

-entahlah, ini kan cuma urusan pulang-jalankaki-sendirian, tapi kalau komentarnya begitu, ya apa boleh buat.

“Apa gue segitu nggak santainya?”

well, am I that rigid?

“Laugh ≠ Joy”

okay, listen baby, this is the deal… ♪

“Am I in your circle of trust?”

on trust issues, or whatever you call it.

When you lie that everything is fine when it’s not.

I hate it.

“What’s my intention? Well, to turn your brain on, not your eyes.”

-sedikit kutipan dari salah satu site favorit: thoughtcatalog.com

“Jangan terlalu idealis ya…”

-ehm, ada komentar lain?

“Manusia itu harus belajar tentang perpisahan. Zaman sekarang, koneksi mudah sekali. Komunikasi sudah lancar, selama kesalahpahaman dapat dibicarakan baik-baik. Akan tetapi, ya begitulah. Hal-hal seperti itu akan tetap ada dan tidak terelakkan. Manusia, dengan asumsinya masing-masing. Oleh karena itu, perpisahan akan membuat kamu lebih menghargai orang yang pernah singgah dalam kehidupan kamu. Karena yang tidak kamu lupakan adalah sesuatu yang penting, bukan?”

-singkat cerita: tidak ada yang dapat memaksa/menyuruh-nyuruh saya untuk membuat akun LINE, whatsapp dan messenger lain-lainnya. Kadang-kadang kamu butuh usaha, sedikit pengorbanan dan kesabaran yang penuh untuk menghubungi seseorang, terutama saya sih. #eh

“Guru adalah siswa abadi.”

-saya, 2014.

“Memikirkan nilai = melupakan indahnya belajar”

-Bu Yeni, dalam seminar singkat beliau.

Before you fall in love, make sure there’s someone to catch you.”

-ehm, anyone?

“Having a relationship with me is risky. Feeling hurt is only one kind of those consequences. And I just don’t know how to say I’m sorry if you don’t tell me that I’m at fault.”

so, teach me, okay?

“Setidaknya aku belum mau menyerah, dan bila suatu hari nanti aku ingin menyerah, kuharap ada seseorang di sana. Entah apa yang akan orang itu lakukan: mendorongku untuk maju atau mendorongku untuk jatuh.”

-‘melewati perbedaan, melampaui ekspektasi’


Ehm, masih-terlalu-banyak hal yang telah dipelajari, masih-akan-ada-terlalu-banyak hal untuk dipelajari. Hidup, bagaimanapun itu… menuntut untuk dijalani. Semoga anda dan saya tidak membuatnya sia-sia.